Ziarah ke Menara Kudus

Suasana dalam makam tampak ramai peziarah
Lihat Galeri
5 Foto
Kemegahan Menara Kudus
Ziarah ke Menara Kudus
Kemegahan Menara Kudus

© Esty Cahyaningsih

Pintu gerbang menara mirip seperti candi
Ziarah ke Menara Kudus
Pintu gerbang menara mirip seperti candi

© Esty Cahyaningsih

Kolam tempat berwudu peninggalan Sunan Kudus
Ziarah ke Menara Kudus
Kolam tempat berwudu peninggalan Sunan Kudus

© Esty Cahyaningsih

Pintu menuju makam
Ziarah ke Menara Kudus
Pintu menuju makam

© Esty Cahyaningsih

Suasana dalam makam tampak ramai peziarah
Ziarah ke Menara Kudus
Suasana dalam makam tampak ramai peziarah

© Esty Cahyaningsih

Hampir setiap seminggu sekali saya mengunjungi salah satu sudut kawasan kota tua disini. Terdapat satu bangunan yang menjadi kebanggaan kota kecil ini. Terletak di tengah-tengah kota yang padat, Menara Kudus.

Bangunan ini didirikan sekitar tahun 956 H oleh Sunan Kudus. Bangunan yang tampak kokoh ini bermaterial batu bata merah yang bertumpuk, tanpa perekat adonan semen dan pasir. Ada pula hiasan batu yang kabarnya didatangkan dari kota Baitulmakdis di Yerusalem, Palestina.

Dari kata itulah nama Kudus terlahir. Kota yang berarti suci. Menjadi hal yang istimewa karena menurut ustaz saya, Kudus adalah satu-satunya nama kota di tanah Jawa yang berbahasa Arab.

Menara yang tingginya sekitar tujuh belas meter itu berhias piringan-piringan kecil menyerupai cincin. Pantulan cahaya lampu yang mengenai cincin semakin mempercantik tubuhnya ketika senja mulai mengajak berkencan.

Setelah yakin, saya hitung sejatinya ada 33 buah piringan yang mengelilingi tubuhnya, namun sayang kini hanya tersisa 21 buah saja. Sebagian lepas mungkin karena faktor usia yang terlampau tua. Panas dan hujan silih berganti menemani. Itulah sebab yang membuatnya berguguran satu demi satu. Banyak diantaranya berwana biru berlukiskan masjid, manusia, unta dan pohon kurma, lainnya berwarna merah putih berlukiskan kembang. Sungguh ini menjadi pemandangan yang elok ketika kita sempatkan diri melihatnya perlahan-lahan.

Di dalam menara terdapat tangga. Terbuat dari kayu jati. Tangga tersebut dibuat bertujuan untuk membunyikan beduk yang berada di atas menara. Muazin membunyikannya sebagai pengiring azan guna memanggil jamaah salat. Jika kamu tertarik untuk melihatnya, kamu bisa menaikinya, melihat keriuhan kota Kudus.

Di sebelah menara terdapat sebuah masjid. Bangunan menara yang mirip candi, pintu gerbang masjid juga dibuat menyerupai Pura mirip arsitektur candi Hindu dan Budha. Menurut sejarah hal ini adalah strategi Sunan Kudus untuk menarik warga Kudus yang umumnya beragama Hindu dan Budha untuk memeluk Islam. Dan benar saja masyarakat keturunan Tionghoa yang tinggal di Kudus umumnya berdagang terkadang memilih singgah dan beristirahat sejenak lalu sembahyang di sana. Mereka tak canggung karena telah menganggap bangunan menara mirip seperti tempat ibadah miliknya.

Sedikit waktu bergeser mereka akhirnya berkenan melakukan ibadah sesuai dengan ajaran Sunan Kudus, ajaran agama Islam. Tentu tanpa dipaksa dan memaksa. Lihatlah betapa akulturasi budaya yang indah tercipta disini.

Setiap hari dari pagi hingga malam kawasan Menara Kudus selalu ramai pengunjung. Lebih semaraknya lagi setiap malam Jumat, kawasan ini penuh sesak. Jangan berharap untuk bisa berjalan cepat di sini. Menurut masyarakat hari kamis adalah hari yang sakral untuk berziarah. Mereka datang dari dalam kota maupun luar kota.

Mereka tak hanya sekedar penasaran dengan keunikan masjid dan Menara Kudus. Umumnya tujuan utama mereka adalah untuk berziarah ke salah satu makam wali songo. Makam yang tepat terletak di belakang masjid menara Kudus. Tempat peristirahatan terakhir Sunan Kudus. Makam dengan ornamen batu kuno dengan kaligrafi arab yang tak pernah sepi dikunjungi peziarah.

Juga terdapat sebuah kolam berukuran sedang peninggalan dari Sunan Kudus. Para peziarah biasanya berwudu langsung dengan air yang ada di dalam kolam sebelum memasuki makam Sunan Kudus. Banyak diantara mereka juga ada yang mengambil air dari kolam tersebut untuk dibawa pulang dan dipercaya sebagai air berkah.

Sama seperti peziarah pada umumnya, saya yang sudah ratusan kali mengunjungi Menara Kudus, tak pernah meninggalkan tradisi masyarakat kekinian sekarang ini. Ya, berswafoto di samping, di depan dan di sekitar kawasan menara. Tentu saja saya tak pernah bosan melakukannya. Apalagi kamu yang baru pertama kali mengunjunginya, saya yakin kamu juga tertarik untuk mengabadikan momen indah di kota ini barang satu-dua jepret .

Bagi kamu yang tidak membawa kamera. Kamu bisa meminta tolong para fotografer yang sudah berbaris menawarkan jasa. Hanya cukup merogoh kocek sepuluh ribu rupiah kamu bisa mendapatkan hasil cetakan 10R dari kebahagiaanmu disini.

Setelah selesai berziarah dan puas berswafoto. Saya harap kamu jangan buru-buru meninggalkan kota ini. Masih ada penganan khas Kudus yang mesti kamu coba. Penganan ini terbuat dari beras ketan dan gula jawa yang dimasak dengan santan. Butuh sekitar 4 – 5 jam untuk memasaknya, karena penganan ini butuh diaduk di atas bara api untuk mencapai kelezatan maksimal. Rasanya manis, gurih, kenyal, dan sudah pasti lezatnya. Masyarakat disini menyebutnya Jenang. Penganan sejenis dodol, namun jenang lebih lembek dengan sedikit taburan wijen. Penganan ini dibungkus mini, mirip batang rokok namun agak gendut dan sedikit lebih pendek.

Jika kamu ingin mencicipinya tak perlu cemas, para pedagang dengan setia menunggumu di kios-kios mereka. Jika kamu penasaran, cobalah barang satu dua bungkus. Mungkin kamu akan tertarik untuk membungkusnya sebagai oleh-oleh sanak saudara dan handai tolan di rumah. Selain rasa original terdapat berbagai varian rasa lainnya. Ada coklat susu, moka, kopi, dan bermacam rasa buah lain seperti durian dan anggur.

Oh, ya, satu hal lagi pesan saya. Jika kamu bertandang ke Kudus janganlah heran kalau kamu akan menjumpai sekelompok santri-santri dengan atribut kebanggaannya: sarung, koko, lengkap dengan peci.

Memang umumnya masyarakat sekitaran menara biasa mengenakan sarung, ”Masyarakat Kudus kulon” mereka sering disebut, yang menandakan mereka masih keturunan dari Sunan Kudus, baik putra maupun putri semua bersarung. Apalagi di sana terdapat banyak pondok pesantren. Banyak diantaranya pondok-pondok tradisional yang masih menjunjung tinggi pendidikan yang bernafaskan salaf. Mereka biasanya akan kamu jumpai di sudut-sudut gang sempit di sekitar menara. Para santri biasa hilir mudik mendatangi majelis-majelis dan pengajian yang ada di masjid menara Kudus.

Jika kamu beruntung berjumpa dengan mereka, kamu akan menemukan sensasi hal yang berbeda. Karena dari telingamu akan terdengar senandung nazam indah atau hafalan Quran yang sedang mereka rapal meski sambil berjalan. Sungguh suasana yang membuat hati semakin nyaman ketika berada di sini. Ramadan tinggal beberapa hari lagi, untukmu yang bingung akhir pekan mau berziarah kemana, coba sempatkan diri mampir ke sini.

Esty Cahyaningsih

Relawan pendidikan berlabel ikhlas beramal. Hobi memasak, bercita–cita menjadi istri yang professional


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405