Yogyakarta Gamelan Festival 2016: Sebuah Pertemuan untuk Memperbaiki Hidup

Pradangga Sawo Kembar
Pradangga Sawo Kembar | © Dezta Wasesa

Mendiang Sapto Raharjo mendefinisikan gamelan bukan sekadar instrumen musik. Gamelan adalah media menyampaikan perasaan seluas-luasnya. Gamelan dapat mewujud dan menjadi entitas karya yang beragam. Seperangkat ensembel musik yang mempunyai filosofi yang mampu tumbuh dan berkembang lalu bisa berakulturasi dengan berbagai jenis aliran musik di seluruh dunia. Namun untuk menyebarluaskannya ke masyarakat memerlukan waktu yang tidak sebentar.

Sejak tahun 1995, Sapto Raharjo, membuat desain besar untuk menyebarluaskan definisi itu. Dasar pemikirannya sekaligus mampu membuat masyarakat menyadari kekayaan pada gamelan lalu dengan sendirinya melestari di tengah banyaknya pilihan musik yang dekat dengan gaya hidup anak muda sejak keran-keran budaya populer tak lagi mampet usai berakhirnya Orde Lama.

Ketika para seniman yang lain memilih memperlakukan gamelan sebagaimana era klasik di tanah Jawa, Sapto melakukan langkah gila: ekplorasi gamelan dengan komputer dan synthesizer. Di tangannya, gamelan makin dekat dengan zaman. Lalu, sebagai gerakkan, ia menggarap “Gaung Gamelan”. Bekerja sama dengan para pengampu pemerintahan di empat Kabupaten Kotamadya, Sapto meminta warga Jogja di setiap kecamatan memukul gong atau membunyikan gamelan secara bersama-sama pada jam yang sudah disepakati. Melalui beberapa stasiun radio, gaung gamelan diserukan secara bersamaan selama 30 detik.

Yogyakarta Gamelan Festival (YGF) jadi warisannya pada dunia. Sejak 1995, idenya itu mempertemukan para musisi gamelan dari banyak daerah dan makin menyebarluaskan definisinya tentang gamelan. Hingga wafat pada 2009, warisannya ini sudah banyak mengubah pandangan terhadap gamelan. “Gamelan masa kini, sudah bergaung di segenap ruangan, di mobil, di toko-toko, di pasar-pasar, di kantor-kantor, atau di manapun kita berada. Ini sudah berlangsung selama 20 tahun,” kata Ishari Sahida, yang kerap disapa Ari Wulu, pegiat gamelan dari komunitas Gayam16 yang juga anak dari Sapto Raharjo.

20 Tahun grand design YGF sukses melestarikan gamelan ke seluruh lapisan masyarakat. Adalah omong kosong jika saat ini masih ada orang-orang yang terus bergurat pada cara melestarikan gamelan lalu dengan gagah berujar musik folk Indonesia ini tak boleh kalah dari Rock, Jazz, Blues, atau Funk. Sebab musik adalah pilihan yang tak boleh jadi tembok besar penghalang suka atau senjata yang digunakan untuk saling mematikan, namun media untuk menyampaikan perasaan dan spirit, laiknya wejangan Sapto.

Pandangan ini kemudian melahirkan Yogyakarta Gamelan Festival (YGF) ke-21 di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjosoemantri (PKKH) UGM, Jumat (22/7) sampai Minggu (24/7) malam lalu. Ada perbedaan besar di YGF ke-21 ini dibanding sebelumnya. Ari Wulu punya misi khusus. Festival ini bukan lagi dibuat untuk misi melestarikan gamelan tapi bagaimana seharusnya, dalam realita kekinian, musik gamelan disikapi dan bisa jadi filosofi hidup yang tetap berdasar pada definisi Sapto Raharjo itu.

“Kalau Sapto Raharjo sudah melatakkan grand desain selama 20 tahun ke belakang sampai sekarang, YGF 2016 ini jadi desain 20 tahun yang ke-2. Bagaimana gamelan disikapi saat ini, mau digimanain selama 20 tahun ke depan, bukan lagi soal melestraikan,” kisahnya.

Sawitra Kumara
Sawitra Kumara | © Dezta Wasesa
Sawitra Kumara
Sawitra Kumara | © Dezta Wasesa

Menandai 20 tahun ke-2 di YGF 2016, langkah pertama yang dilakukan adalah mengembalikan pentas ke tempat pertama kali digelar tahun 1995: PKKH UGM. Gayam16 mengeksekusinya dengan sangat baik. Tidak hanya pentas gamelan yang menampilkan grup terbaik dan terunik, YGF juga menyediakan ruang memorabilia bagi mereka yang mengikuti YGF 20 tahun lalu dan mereka yang putus zaman dengan membuat pameran gamelan dan jejak Sapto selama membuat YGF dari 1995. Di ruang memorabilia, Gayam16 menampilkan poster YGF sejak 1995, gamelan milik Sapto, komputer yang digunakannya untuk mengeksplorasi, dan beragam pesan dan wejangan Sang Maestro Gamelan yang ditulis besar di dinding ruang pameran.

Menyaksikan pentas gamelan tiga malam berturut-turut di YGF 2016 jadi semacam terapi di tengah zaman yang mulai mengajarkan jalan sendiri-sendiri. Ratusan penonton duduk bersila di depan panggung. Mereka berbagi ruang, merangkul perbedaan, lalu saling menghormati satu sama lain. Para penampil memainkan musik gamelan sesuai karakter mereka masing-masing dengan mengesampingkan otot budaya lalu pasrah menerima identitas lain dalam musik yang dimainkan.

Malam pertama, Genta Sawitra Saraswati, gamelan anak dari Yogyakarta memainkan soran (instrumen yang dimainkan tanpa penyanyi) dari Bali yang terkenal cepat. Mereka melepaskan dari dari indentitas lahir (baca: Jawa) lalu sigap menyiapkan Balunganing Gendhing yang berakhir fenomenal sampai akhir. Lalu berturut-turut Keraton Karawitan Amertha Bumi (Kendal) dengan Konta-GaPi (Filipina) memberi aksi serupa di depan penonton. Malam kedua, giliran David Kotlow (Australia) yang melakukan jam session apik dengan Canda Nada (Yogya) bersama Sanggar Tarara dari Bangkalan.

Malam puncak, YGF hidup makin dituntutun ke arah yang menenangkan. Duet Bonang Unggul-Ajang yang dimainkan Jagad Melian Teso Ndaru dan Prajnya Dewati Restuku membuka malam gamelan. Didikan seniman Pardiman Djojonegoro yang dikenal dengan karya akapela cangkem itu memukau penonton dengan atraksi cepat memukul bonang. Para penonton bergemuruh menyaksikan kepiawaian dua anak kecil tersebut, terlebih saat Ndaru memutar bindhi (pemukul bonang) laiknya stik drum.

Duet
Duet | © Dezta Wasesa
VictorHugo
VictorHugo | © Dezta Wasesa

Suasana memanas dengan tampilnya Pradangga Sawo Kembar dengan karawitan lagu-lagu daerah. Tembang Gundul-Gundul Pacul yang mereka bawakan dengan balutan wiranggono dan wirasworo menghasilkan koor dinamis bersama penonton. Suasana panas lalu didinginkan gamelan teatrikal dari Victorhugo Hidalgo dan Sean Hayward deat SriMara World Music Colective dari Meksiko. Mereka memberi tamparan keras bagi masyarakat Jawa kekinian dengan tembang “Sesajen dalam Mahakala” yang diikuti teatrikal.

Victorhugo Hidalgo dan Sean Hayward deat SriMara World Music Colective masuk panggung dengan santun. 11 orang pemain mengenakan pakaian seragam: baju hitam dan jarik. Mereka mengusung instrumen Gender Barung yang dipadukan dengan gitar akustik, siter, flute, dan instrumen tradisional lain. Petikan gitar akustik mengawali musik dilanjutkan dengan pukulan gender yang menghasilkan suara-suara sonoritas. Balutan notasi flute mengantar para Wiranggono dan Wirasworo melantunkan lirik menyerupai doa yang meminta kedamaian pada Tuhan. Di tengahnya, Victor melakukan ritual sesaji mendekap lalu menabur bunga tanda sesaji.

Aksi Victorhugo Hidalgo dan Sean Hayward deat SriMara World Music Colective malam itu sangat khusyuk. Gamelan dijadikannya media untuk membuat suatu koneksi dan hubungan antarmanusia, makhluk hidup, dan alam semesta. Menyaksikan mereka seolah menemukan kembali kedamaian yang direnggut di era sekarang. Menyaksikan mereka laiknya menemukan jalan pertemuan bagaimana seharusnya hidup berdampaingan. Menyaksikan mereka adalah membuka rasa malu di mana wejangan Sultan Hamengku Buwono IX tentang orang Jawa ternyata mampu dilakukan orang-orang Meksiko, sementara para Jawa mulai berubah jadi Arab.

Usai berkontemplasi dengan Victorhugo Hidalgo dan Sean Hayward deat SriMara World Music Colective, emosi kembali naik saat Mustikaning Daha dengan gamelan yang menghentak khas Jawa Timur kembali memeriahkan festival.

Yang terjadi di YGF 2016 adalah sikap bagaimana seharusnya gamelan 20 tahun ke depan. Gamelan adalah media bersenang-senang yang selalu berkembang dan mampu mempertemukan jati diri yang hilang. Para penampil di YGF memainkan sebuah set yang mampu menyantuni ratusan orang yang begitu rindu akan jawaban kehidupan. Berada di dalam peristiwa malam itu, sungguhlah menyenangkan. Melihat sosok-sosok itu meneruskan warisan Sapto Raharjo dengan peran yang sama dan tampak berbahagia menjalaninya sesungguhnya sudah lebih dari cukup.