Yes Man: Hidup Perlu Sedikit Kebodohan

Film Yes Man yang diadaptasi dari buku berjudul sama karangan Danny Wallace, secara radikal mengubah persepsi saya tentang kata “ya”.

Yes Man
Yes Man | Sumber: www.imdb.com

Kisahnya, Carl Allen (Jim Carey) sengaja menutup atau mengisolasi dirinya dari pengalaman-pengalaman baru sejak rumah tangganya gagal. Dia selalu mencari alasan untuk berkata tidak pada setiap ajakan. Kata ‘ignore’ menjadi kata yang sering dia pencet di handphonenya.

Ketika teman-temannya mengajak Allen berpesta, dia beralasan agar tidak ikut. Tawaran dari seorang pria yang datang setiap hari untuk menonton sebuah konser band pun selalu ia respons dengan kata ‘tidak’. Di sebuah bank tempatnya bekerja, dia sering menolak dengan mudah proposal orang-orang yang ingin meminjam uang untuk berbisnis.

Walhasil, hidupnya begitu menjemukan. Tidak ada pengalaman-pengalaman baru, orang-orang baru, atau tempat-tempat baru yang ia kunjungi. Tidak ada kesemarakan. Suram. Barangkali peribahasa yang relevan dengan kondisi Carl maka itu pasti: hidup segan mati tak mau.

Sampai pada suatu siang, dia berjumpa kawan lamanya yang baru saja keliling dunia. Mendaki gunung Kilimanjaro dan makan kelelawar di Laos. Kawannya menjelaskan kemauannya untuk menjalani petualangan gila nan keren itu diawali dengan menghadiri seminar Yes Man yang menuntutnya mengatakan ‘ya’ untuk setiap kesempatan yang muncul.

Sedikit tertarik dan penasaran, datanglah Carl ke seminar. Di seminar itu ia membuat perjanjian dengan si motivator yang isinya menuntut Carl mengatakan “ya” pada setiap kesempatan, apapun bentuk dan darimana datangnya kesempatan itu.

Dus, hidupnya berubah secara ekstrem setelah memenuhi sumpah Yes Man-nya. Gara-gara ia bilang “ya” pada seorang tunawisma yang minta diantar ke sebuah taman dan kehabisan bensin, dia bertemu Alison (Zoey Deschanel) di pom bensin yang belakangan jadi pacarnya. Dia kembali akrab dengan teman-temannya karena mau datang ke pesta mereka. Di kantor, gaji dan karirnya naik sebab inisiatifnya menyetujui tiap proposal orang-orang yang membuat bank tempat ia bekerja untung besar.

Singkatnya, hidup Carl meriah, penuh petualangan dan banyak hal-hal baik terjadi.

Jim Carrey dalam Yes Man
Jim Carrey dalam Yes Man | Sumber: www.imdb.com

Menonton film ini membuat saya sadar betapa sederhananya jalan untuk merayakan dan menyemarakkan hidup. Yang perlu dilakukan adalah membuka diri pada kesempatan-kesempatan baru. Terutama jika seseorang sedang terjebak dalam ketakutan menerima konsekuensi kehidupan dan memutuskan menutup diri dari dunia luar.

Mengatakan “ya” pada setiap kesempatan tanpa pikir panjang mampu mengubah timeline hidup secara total. Sebab, momen-momen tertentu yang dijalani seseorang memberi andil besar dalam menentukan dan mengubah kondisi pikiran dan suasana hati.

Lalu, bagaimana cara mendapatkan momen tertentu itu?

Katakan “ya” pada kesempatan yang muncul. Semakin sering seseorang mengatakan “ya”, semakin besar pula peluang untuk mendapatkan kesempatan yang membuat hidup lebih meriah dan riang.

Namun filosofi Yes Man tidak boleh disalahpahami dengan keharusan mengatakan “ya” pada semua hal. Misalkan ada orang yang menyuruh kita untuk lompat dari gedung berlantai seratus tanpa pengaman maka kita harus mengatakan “ya”. Tentu tidak, itu bodoh kelewat batas. Seseorang juga perlu belajar menggunakan kata “ya” ini. Kata “ya” hanya perlu digunakan untuk menyambut kesempatan yang kita anggap positif atau baik tapi kita masih ragu atau takut untuk menjalaninya.

Ingat hidup itu cuma sekali, momen datang berkali-kali. Dan yang membuat hidup berwarna adalah kesempatan yang kita alami. So, Mau jadi Yes Man?

Rian Kusdiono

Tukang Ketik