Yang Mengganjal di Jalan Pasar Kembang

Ia datang tepat pukul 19.15, terlambat 45 menit dari waktu yang kami janjikan, pukul 18.30. Ia turun dari sepeda motor biru lengkap dengan helm dan jaket hitam, dan menenteng tote bag berwarna coklat.

“Maaf aku telat. Jalanan Yogyakarta lumayan padat akhir pekan. Beberapa lampu merah di sini juga bikin emosi. Lama banget,” katanya tertawa, sambil membuka jaket lalu merapikan rambutnya.

Tinggi badannya tak berbeda jauh denganku. Rambut panjangnya dibiarkan terurai tanpa diikat. Kulitnya tak hitam, juga tak putih. Agak kecoklatan. Eksotis. Pendeknya, ia wanita yang menarik—setidaknya di mataku.

Dunia maya memang benar-benar tak mengenal batas. Semua bisa didapat hanya dengan ketik sana-ketik sini, klik sana-klik sini. Cukup bermodal gawai dan koneksi internet cepat. Maka tak heran, dari semua media sosial, hampir seluruhnya menjadi media untuk mengenal orang-orang baru. Tak terkecuali untuk mengenal secara khusus lawan jenis.

Kami termasuk yang berkenalan lewat salah satu jejaring media sosial itu. Setelah cukup intens berbalas pesan, kami menemukan beberapa kesamaan: sama-sama peminum kopi, sama-sama suka bicara ngalor-ngidul perkara isu dan teori sosial hingga ketokohan, sama-sama percaya bahwa buku masih bisa menjadi obat penawar kegilaan di akhir zaman. Halaaaa modus.

Dan, kami akhirnya sepakat untuk satu hal: alangkah lebih baiknya kami melangkah ke jenjang yang lebih serius membicarakan semua itu dengan perjumpaan langsung.

Itu pula yang menjadi salah satu alasan mengapa aku bersedia mengantar adik laki-lakiku ke Yogyakarta selama tiga hari akhir Agustus lalu. Adikku diterima di salah satu perguruan tinggi di sana, dan sebagai kakak yang baik, aku tentu harus mengantarnya dan membantu semua urusan kuliahnya, seperti ospek, indekos, dan lain-lain. Alasan lainnya, aku sudah kadung janji dengan teman-teman di Yogyakarta untuk main-main lagi ke sana.

***

Aku menghubunginya. Memintanya untuk meluangkan waktu bertemu meski hanya sebentar sesampainya aku di Jogja.

Ia baru saja memulai studi magisternya di Universitas Gadjah Mada, tentu banyak urusan tetek-bengek yang mesti ia selesaikan—selain merasakan hectic-nya minggu pertama kuliah. Selain itu aku memang sedang tak bisa lama di Jogja. Banyak urusan yang mesti aku rampungkan. Ia pun masih disibukkan dengan segala urusan administrasi di kampusnya. Hingga akhirnya kami benar-benar bisa menentukan waktu untuk bertemu pada Senin petang itu, tiga setengah jam sebelum kereta akan mengantarkanku kembali ke Jakarta.

***

Ia memilih untuk bertemu di sebuah kedai kopi yang tak jauh dengan stasiun keretaku. Selain untuk berjaga-jaga, ia memang penasaran dengan kedai itu setelah beberapa kali melewatinya.

The Civet House – Coffee Bar & Bistro
The Civet House – Coffee Bar & Bistro | Sumber: Foody.id

The Civet House – Coffee Bar & Bistro. Lokasinya di Jalan Pasar Kembang, persis di seberang pintu masuk Stasiun Tugu. Wanita ini pintar dalam perkara memilih tempat, pikirku. Perkara yang membikin aku, sebagai lelaki, memang selalu gagal dan berakhir dengan, “terserah di mana saja.”

Pertemuan itu cukup membuatku kikuk. Kami bertemu di sebuah kedai kopi, sementara sejak pagi perutku belum tersentuh nasi. Akhirnya aku hanya memesan sepiring nasi goreng dan es teh manis—menu yang kupilih secara membabi-buta karena terlalu lapar dan tak tahu harus memilih apa lagi. Nirkopi.

Sementara ia masih konsisten dengan perkataannya: ke kedai kopi, ya, untuk minum kopi. Ia memsesan kopi Bali Kintamani dengan penyajian Manual Brew V 60.

Kopi tak lama mendarat di meja kami. Ia langsung membuka bungkus gula pasir, menuangkannya, lalu mengaduknya. Dua-tiga kali kopi itu ia sesap “Lumayanlah, worth it dengan harga segitu,” katanya. Harga segitu menurutnya tak berbeda signifikan dengan kopi sejenis di beberapa kedai kopi lain.

Namun yang membikin unik, kopi disajikan dengan sepotong biskuit di sampingnya. Entah untuk menetralisir rasa pahit kopi atau apa, kami tak tahu. “Jika di tempat lain, belum tentu dapat biskuit,” ujarnya tersenyum.

***

Malam itu, kami manfaatkan waktu tiga setengah jam untuk bicara banyak hal. Mulai dari perkara kuliah, keluarga, hobi, dan tentu saja, bahan bacaan. Jika sudah bersama kopi, percakapan panjang lebar akan tetap terasa sebentar. Aku merasa waktu terlalu cepat berlalu. Padahal masih banyak bahan obrolan yang belum kami bahas, rasanya seperti amunisi yang belum habis sementara perang telah usai. Enggak klimaks bosss.

Bahkan, beberapa bahan obrolan yang semula sudah direncanakan pun tak sempat kami bicarakan. Padahal kami sebelumnya sempat berjanji akan membahas skripsinya saat ia menempuh studi sarjana kemarin. Di jurusan sastra Inggris, ia menyelesaikan skripsinya dengan menganalisis film Unrequited (2010) menggunakan teori psikologi Sigmun Freud, “anxiety and defense mechanism”.

Aku juga gagal meminjamkan kepadanya buku Putih: Warna Kulit, Ras, dan Kecantikan di Indonesia Transnasional (2017), karya L. Ayu Larasati, yang terbit beberapa bulan lalu. Kebetulan buku itu ada di dalam tasku dan memang menemani selama perjalanan dari Jakarta ke Jogja tiga hari sebelumnya. Halaaah bilang aja enggak mau minjemin.

Beberapa hari sebelumnya, saat kuberitahu bahwa aku baru saja merampungkan buku itu, ia penasaran dan juga ingin membelinya. Ia memang tertarik ke ranah isu sosial dan budaya seperti itu, selain karena pengalamannya sendiri.

Malam itu aku merasa gagal. Dan, kegagalan itu yang membuatku merasa tak bergairah saat berjalan kaki menuju peron stasiun. Rasa-rasanya ada yang kurang, atau memang belum keluar terlaksana. Kurang puas dan mengganjal. Ah ente pasti tahulah.

Kegagalan itu juga yang membuatku menatap kaca jendela kereta api dengan lemas, sembari membayangkan kapan aku akan kembali ke kota ini dan berusaha untuk tidak mengulang kegagalan yang sama.

Haris Prabowo

Penikmat buku, kopi, dan roti. Wartawan kampus di Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Aspirasi UPNVJ. Cinta dia setengah mati.

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com