Yang Maha Binatang: Kemanusiaan Adalah Apa yang Harus Ditertawakan

Meysa sedang membagikan makanan untuk hewan-hewan peliharaannya
Meysa sedang membagikan makanan untuk hewan-hewan peliharaannya | © Utami Pratiwi

Meysa didampingi dua pengawal memberikan makanan kepada beragam binatang peliharaannya. Singa, kambing, burung hantu, monyet, dan buaya segera menyerbu karena lapar yang sudah tidak tertahankan. Setelah menikmati makanan masing-masing, kambing merasa ada yang aneh, yakni menghilangnya salah satu binatang di dalam kandang tersebut. Ia adalah kura-kura.

Suasana yang awalnya tenang menjadi sangat ribut. Masing-masing hewan menaruh curiga mengenai misteri menghilangnya kura-kura. Kambing menceritakan pengalamannya sewaktu belum di kandang bersama hewan lainnya. Kawanannya sering hilang karena dimakan oleh serigala, sehingga ia meyakinkan para hewan bahwa yang menculik kura-kura adalah serigala. Lain lagi dengan burung hantu. Hewan yang selalu membawa buku tebal ini menjelaskan bahwa manusialah yang berperan di balik menghilangnya kura-kura.

Kambing marah. Ia tidak terima karena burung hantu mencurigai manusia. Pendapat ini dikuatkan oleh singa. Hewan yang didaulat sebagai ketua ini mencoba meyakinkan seluruh hewan bahwa manusia sudah berperan sangat baik. Melalui Meysa, mereka tidak lagi memangsa satu sama lain. Meysa telah memenuhi makanan mereka selama ini. Kambing sangat bahagia dengan pembelaan singa. Meskipun burung hantu menunjukkan bukti-bukti, kambing tetap masa bodoh. Hal ini tak lain karena kambing diam-diam mencintai Meysa.

Monyet, burung hantu, dan singa saling mengungkapkan kecurigaan
Monyet, burung hantu, dan singa saling mengungkapkan kecurigaan | © Utami Pratiwi
Singa menyangkal pendapat burung hantu
Singa menyangkal pendapat burung hantu | © Utami Pratiwi

Kedatangan orangutan dari kandang lain, membuat praduga burung hantu semakin kuat. Orangutan membawa bukti jam tangan yang ditemukan di dekat kandang kelinci. Namun, singa tetap tidak percaya dengan burung hantu. Buaya yang dikenal sebagai hewan paling “religius”, akhirnya dimintai tolong oleh singa untuk melakukan ritual agar mendapat petunjuk dari alam guna mengetahui pelaku di balik kekacauan tersebut.

Meskipun ritual dilaksanakan, ternyata hal itu tidak berpengaruh banyak. Singa yang mengedepankan logika memilih berjaga-jaga di kandang untuk mengetahui pelaku sebenarnya. Monyet yang beberapa saat menghilang, kembali dengan kabar lebih mengejutkan. Kandang hewan lainnya sudah kosong. Ternyata, kura-kura menghilang karena menyusun pemberontakan dengan jaran goyang. Menurut monyet, Meysa menggunakan hewan-hewan untuk objek penelitian. Satu per satu hewan akan dibunuh.

Kambing, dengan mengatasnamakan cinta kepada Meysa tetap tidak percaya. Bersama ketua, mereka memilih tetap di kandang. Sementara itu, monyet, burung hantu, orangutan, dan buaya memilih keluar dari kandang untuk menyelamatkan diri.

Buaya setelah melakukan ritual
Buaya setelah melakukan ritual | © Utami Pratiwi
Burung hantu selamat dari objek penelitian Meysa
Burung hantu selamat dari objek penelitian Meysa | © Utami Pratiwi

“Yang Maha Binatang” merupakan pentas produksi Teater Jaringan Anak Bahasa (JAB) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) yang diselenggarakan pada Selasa, 18 Oktober 2016 lalu di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta. Sesuai dengan judulnya, pentas ini dikemas dengan tampilan serba hewan.

“Pesan yang ingin disampaikan, betapa lucunya manusia bila dilihat dari sudut pandang binatang. Dalam pentas ini, juga ditunjukkan bahwa kebenaran dapat bersifat relatif, tergantung dengan tokoh yang bersangkutan. Tentu saja, itu semua tidak terlepas dari kepentingan setiap individu, yang dalam hal ini diwakili oleh kambing, monyet, singa, burung hantu, buaya, dan lain-lain,” jelas Kurniaji Sastro Satoto selaku sutradara.

Dengan memadukan teater, musik, dan tari, pentas yang disiapkan selama kurang lebih dua bulan ini sukses menghibur penonton. Lebih dari itu, banyak yang disampaikan melalui masing-masing tokoh. Misalnya tokoh burung hantu yang selalu membawa buku. Dalam salah satu dialog, ia menyebutkan tentang buku-buku yang banyak disita belakangan ini. Hewan-hewan lain juga membawa “warna” masing-masing melalui baju yang digunakan.

Sosok singa sebagai pemimpin yang seharusnya tegas, justru bimbang dengan pendiriannya. Alih-alih tidak ingin berpihak kepada salah satu hewan, ia justru memilih jalur ritual. Tidak hanya sampai di situ, ia tetap bimbang dan akhirnya mati karena menjadi korban objek penelitian Meysa. Nasib yang sama menimpa kambing karena “cinta buta”-nya kepada Meysa.

Dalam pementasan ini, tim kreatif perlu diacungi jempol. Unsur kekinian tidak lepas dari pementasan ini. Salah satunya kostum yang dipakai dua pengawal Meysa. Mereka tampil lucu dengan baju ala penari PPAP yang sedang viral di dunia maya.

Tata panggung, musik, pencahayaan, kostum, dan make-up maksimal membuat pementasan ini semakin menarik. Gelak tawa penonton semakin memeriahkan suasana. Malam itu, hewan-hewan mampu membuat manusia menertawakan kemanusiaan.

Utami Pratiwi

Editor buku, fangirl (pengepul cowok korea).