Wedangan Mbak Cantik

Daripada Wedangan Sego Kucing, daripada wedangannya Fitri, Titis atau Hanum, saya lebih dahulu mengenal sebuah warung di Gang Merpati, Jalan Karimata, Jember, ini sebagai wedangan ‘Warung Mbak Cantik’.

Sebutan Wedangan Mbak Cantik ini diberikan oleh kawan-kawan saya yang mengelola majalah kampus Universitas Jember. Kawan-kawan ini jika dihitung-hitung, lebih banyak duduk di warung kopi daripada di bangku kuliah. Jadi wajarlah kalau mereka punya banyak referensi warung kopi. Dari mereka pula saya mendapat banyak referensi kedai kopi. Wedangan Mbak Cantik hanya salah satunya.

Wedangan Mbak Cantik
Warung Wedangan Sego Kucing Jember

Di Wedangan Mbak Cantik ini, pengunjung yang baru pertama kali menikmati wedang (minuman yang diseduh dengan air panas) sembari memakan sego kucing di sana, tak perlu terkejut mendapati ada tiga gadis berparas ayu. Mereka adalah Fitri Anggraeni, Titis Pratiwi, dan Hanum Pramesti. Tiga bersaudara yang mengelola warung ini sejak Januari 2012 lalu.

Saat saya singgah ke Wedangan Mbak Cantik, sore hari 17 Oktober 2012 lalu, saya sempatkan untuk konfirmasi, apakah warung ini diberi nama Wedangan Mbak Cantik? Fitri, si sulung, agak terkejut mendengar saya cerita kawan-kawan saya menyebut warungnya dengan nama Mbak Cantik. Ia menunda untuk segera menjawab dan hanya tersenyum. “Nama warungnya Wedangan Sego Kucing Jember,” katanya tak lama kemudian.

Tiga bersaudara dari desa Klompangan, Kecamatan Ajung, ini memulai usaha kedai kopi untuk memenuhi kebutuhan biaya sekolah. Mereka memang masih bersekolah saat mulai membuka usaha. Fitri masih berstatus mahasiswi di Universitas Mohammad Soeruji. Hanum masih siswa SMA Muhamadiyah Jember. Sedang Titis, sekarang bekerja di salah satu supermarket di Jember.

Membuka usaha adalah sesuatu yang baru bagi mereka. Mereka memang ingin membuka warung sederhana, yang bisa membantu mereka untuk memenuhi kebutuhan biaya sekolah.

Urusan tempat mereka tak perlu membayar mahal. Mereka terbantu dengan adanya seorang yang menyediakan lahan untuk orang lain manfaatkan dengan membuka warung, Wedangan Sego Kucing salah satunya. “Cukup membayar uang keamanan saja, setiap bulan 50 ribu,” kata Fitri. Untuk listrik, mereka tiga bersaudari ini tak perlu membayar. Mereka diberi tumpangan aliran listrik oleh toko alat-alat dan perlengkapan mendaki yang berada tepat di depan warung mereka.

Fitri mengakui tak mengalami kesulitan berarti untuk membuka usaha ini. Kalaupun ada, ialah sedikit usaha ekstra untuk berbelanja peralatan di masa sebelum beroperasi. Ia sempat membeli gerabah di Yogjakarta, namun karena lupa resep yang hendak disajikan, gerabah-gerabah itu akhirnya belum terpakai sampai sekarang.

Barangkali seperti orang-orang yang membuka usaha yang sama, masa-masa awal membuka warung adalah masa yang harus dilewati dengan kesabaran. Wedangan Sego Kucing ini termasuk yang tak cukup lama menunggu pelanggan. Dua minggu setelah buka mereka sudah memiliki pelanggan tetap dan mulai ramai.

Meskipun sudah membayar ‘uang keamanan’, toh tetap saja harus berjaga-jaga sendiri supaya barang-barang kelengkapan warung mereka tidak dicuri. Seminggu pertama buka, Wedangan Sego Kucing sempat dibobol maling. Beberapa peralatan semisal kompor, tabung, hingga kopi pun lenyap. Kejadian ini mengajarkan mereka untuk menyimpan peralatan warung setelah jam kunjungan berakhir.

Tak lama kemudian, giliran rokok yang ketinggalan tak dibawa pulang akhirnya amblas pula, hanya tersisa satu pack saja. “Meski cuma rokok, kalau dihitung-hitung ya lumayan juga.”

* * *

Wedangan Sego Kucing Jember

Setiap harinya tiga bersaudara ini secara bergantian menjaga warung. Meskipun tidak ada penjadwalan yang diatur sedemikian rupa, namun saat masing-masing sedang tak ada aktivitas sekolah atau kuliah, akan berada di warung. Kecuali Titis yang belakangan mulai bekerja.

Mereka mulai membuka warung mulai jam 9 pagi sampai jam 9 malam. Fitri yang kuliahnya di sore hari kebagian menyiapkan serta membuka warung. Sore harinya, ketika Fitri harus duduk manis sambil mendengarkan dosen memberikan materi, giliran Hanum yang bertugas menjaga kedai.

Semua yang dijual di Wedangan Sego Kucing, dari minuman sampai makanan, dipersiapkan oleh tiga gadis ini. Setiap warung beranjak buka, Fitri akan memulainya dengan memasak semua hidangan. Mulai menanak nasi, mematangkan aneka gorengan, sambal, dan lauk pauk yang menemani sego kucing.

Aneka menu tersedia di sini. Tentu saja, yang pertama adalah kopi hitam. Menu wajib bagi setiap warung. Kopi yang digunakan di sini berasal dari Kalisat, kecamatan penghasil kopi Robusta di sisi barat Kabupaten Jember.

Kopi di Wedangan Mbak Cantik juga dihadirkan ala stasiun Tugu, Yogyakarta. Kopi Kopyok, nama yang diberikan untuk jenis kopi yang proses pengolahannya ditumbuk, dengan serbuk kopi agak kasar. Kopi Cethe juga disediakan di kedai ini sebagai kawan perokok dan pengkretek.

Bila pengunjung ingin sesekali mengganti menu kopi dengan teh, maka bolehlah dicoba teh campur. Teh berpadukan aneka rempah-rempah seperti jahe dan kapulaga untuk diseduh bersama. Sambil menikmati lumpia, salah satu gorengan yang disediakan, kali ini saya memikmati Kopi Kopyok yang telah tersedia di meja.

Sepertinya, wedangan ini memang disediakan untuk mahasiswa yang bertebaran di lingkungan warung. Dari segi harga, Fitri dan kedua saudarinya menyesuaikan kantong mahasiswa. Rata-rata harga wedang di kedai ini dihargai Rp 2.000,-. Aneka gorengan cukup Rp 500,- saja. Nasinya pun masih dalam kategori harga kantong mahasiswa Rp 2.000,- per porsi. Namun karena porsi kucing hanya kecil saja, saya meminta porsi musang, binatang mamalia yang lebih besar dari kucing. Ini sebutan untuk memesan nasi kucing sebanyak 2 porsi atau lebih.

* * *

Wedangan Sego Kucing Jember

Di antara kawan-kawan pemburu warung kopi, Cahya Kusuma adalah ‘penemu’ warung kopi ini. Baru kemudian kawan-kawan yang lain berdatangan, karena hendak mengetahui sensasi minum kopi di Wedangan Mbak Cantik. Dia juga yang mengenalkan warung ini kepada kawan-kawannya di kampus, sampai kemudian mereka berkunjung Wedangan Mbak Cantik hampir setiap malam.

Kehadiran tiga pengelola berparas ayu ini menjadi daya tarik tersendiri untuk memancing pengunjung berdatangan. Saya melontarkan pertanyaan yang meski dijawab dengan jujur pada Fitri. Lebih banyak pengunjung laki-laki atau perempuan yang datang ke Wedangan Sego Kucing? Fitri lagi-lagi memberikan senyumannya, “Laki-laki,” katanya singkat.

Di sore hari itu hanya ada Fitri dan Hanum di Wedangan Sego Kucing. Tiga orang pengunjung datang tak lama setelah saya, kesemuanya lelaki. Mereka bertiga mahasiswa semester lima di FKIP Universitas Muhamadiyah yang merupakan pelanggan tetap Wedangan Sego Kucing. “Es susu, tapi Hanum yang membuatkan,” kata salah seorang bernada menggoda.

Tiga orang pengunjung tersebut memang telah akrab dengan pengelola warung ini. Hampir tiap hari mereka berkunjung kemari. Ini yang barangkali dinamakan pengunjung setia. Saya bertanya, “Kenapa tidak mencoba mengunjungi warung lain?” Satu per satu dari jawaban keluar, mulai tidak ada warung kampusnya, warung lain jauh, dan sudah terbiasa di Wedangan Sego Kucing.

Fitri tak menampik kehadirannya dan saudarinya di kedai sebagai penarik pengunjung untuk datang. Menurut Fitri, memang ada beberapa pengunjung yang menggoda seperti bertanya sudah punya pacar atau minta nomer telepon genggam (Hp). Namun, mereka tak menanggapi serius, kecuali apabila sudah keterlaluan. “Nomer Hp pun tak diberi, karena itu bagian dari privasi,” katanya.

Ia beruntung memiliki banyak kawan yang acapkali menemani di sana. Hampir tiap waktu kawan-kawan kuliah Fitri, yang kebanyakan laki-laki, seperti punya jadwal menjaga. Secara bergantian mereka ada di warung, membuat pengunjung yang agak ‘nakal’ tak berani terlalu menggoda si empunya Wedangan Sego Kucing.

Nody Arizona

Penikmat kopi, tinggal di Jember.

  • Yak, Ampun jadi ngopi di warkop itu bukan lagi menikmati tempat, pemandangan, dan sajiannya yah. Barangkali ngopi saat ini bisa dilakukan sendirian, asal yang jaga ada mbak-mabak cantik kayak di atas. 😀

  • Sukses !!!

  • eko

    Cantik banget kali ya, dab? Jangan-jangan yang buat enak bukan kopinya. Tapi mbak Fitri-nya hehehe… 

  • Konsumsi kopinya dan MBAKNYA…

  • wah bagi alamatnya dong, mau kesana saya… -___-

  • Nody Arizona

    Alamatnya emg disamarkan, pak! Biar bapak ndak berkunjung ke sana. Hihihi.. 😀

  • Donny Sabiansyah

    Hehe,tp apapun itu..menikmati kopi menurut saya HARUS tanpa alasan.

  • Kopi memang mantafff