Warung Koplak; Kopi Enak tak Harus Mahal

Ada alasan unik di balik berdirinya Warung Koplak: mencoba mendekatkan kopi kepada publik. Daya tawarnya, warung ini menyediakan kopi dengan harga miring.

Selain itu dengan lokasi warung yang tak jauh dari pintu masuk Universitas Jember, membuat warung ini mudah diakses. Beragam jenis kopi dan teknik seduh memanjakan para pengunjung.

Asal kata koplak sendiri diambil dari akronim ‘Kopi dalan Kalimantan’. Selain tempat kumpul favorit beberapa admin Twitter, Warung Koplak adalah ruang menggali informasi, belajar menyeduh, dan mengecap citarasa kopi. Koplak ada karena memang berangkat dari suatu perjalanan mengenal kopi.

Warung Koplak
Papan Menu Warung Koplak. © Dieqy Hasbi Widhana

Bagian luar warung ini dilapisi dengan ornamen bilik bambu yang dipilin rapi. Beberapa meja persegi panjang berwarna cokelat tua dipasangi dua kursi panjang pada kedua sisinya. Di bagian kanan ruang dalam terdapat display dapur. Ada berbagai perlengkapan dapur, para barista yang tengah sibuk bekerja, dan biji kopi yang tertata rapi dalam kemasan toples transparan.

Di samping kanan dapur terbuka itu, terdapat panggung kecil beserta perlengkapan akustik. Di sana para pengunjung kerap menghibur pengunjung yang lain, entah lewat musik atau stand up comedy. Sedangkan di sisi kanan panggung terdapat level serupa lesehan berukuran sekitar 4×4 meter. Tempat itu sengaja disediakan bagi mereka yang ingin berdiskusi dengan jumlah massa yang tak termuat meja.

Saya sengaja datang ke Warung Koplak bersama beberapa rekan pegiat pers mahasiswa. Kami memang punya ritual sakral untuk menyeduh obrolan ditemani segelas kopi dan kepulan tawa dengan rutin. Biasanya saya memesan kopi Kintamani. Sudah lama saya tertegun dengan ketabahan panjang yang terkandung pada tiap butir biji kopi Bali tersebut.

Proses penanamannya tak sembarangan, masih dalam lingkar budaya Tri Hita Karana. Diproses dalam metode pertanian warisan, yaitu ala subak. Namun semakin bertambahnya waktu, petani subak dikhianati oleh para pemimpin daerah yang terjebak hasrat modern.

Tak seperti hari-hari sebelumnya, malam itu saya memesan coffee late. Tentu karena beberapa hari sebelumnya saya mendapat bocoran bahwa barista Warung Koplak handal dalam membuat coffee latte art.

Otomatis latte art adalah menu utama dari warung ini, meskipun pada akhirnya saya menyadari bahwa ternyata salah.

Awalnya Warung Koplak dikelola berdua. Pembagian kerjanya: Wahyu Romadhon (22) menjadi barista, sedangkan temannya bagian pengolahan makanan. Namun tak berjalan berapa lama, akhirnya Wahyu menjalankan Warung Koplak sendirian.

Selain berkenalan dengan kopi nusantara, para pengunjung juga bisa turut serta berlatih menjadi barista. Warung ini punya cupping sebagai agenda rutin di malam Minggu. Makanya jangan heran jika singgah di Warung Koplak Anda melihat beberapa pengunjung yang membuat kopi sendiri di dapur. Mereka sudah menguasai cara pengoperasian beberapa mesin yang tersedia di warung itu.

Cupping itu semacam percobaan rasa, memperkenalkan rasa dari kopi itu sendiri. Seperti metode seduh tubruk, vietnam drip, Volvo V60, kono meimon filter, cappuccino, aeropress,” ungkap Wahyu, sang barista muda.

Wahyu punya alasan kenapa Koplak memilih konsep warung ketimbang kafe. Ini karena belum banyak masyarakat yang mengenal kopi dari tanah air. Kebanyakan mereka masih mengonsumsi kopi instan. Hal ini ditambah dengan, banyak orang —terutama dari kelas menengah ke bawah— sedikit kesusahan mendapat edukasi kopi dari kafe yang biasanya mematok harga mahal.

“Karena memang kalau kita ngomong modern, kita ngomong kafe. Sedangkan orang bawah gak mungkin ke kafe. Makanya kami bawa konsep warung agar orang-orang seperti kita bisa menikmati kopi dengan harga murah. Kami menawarkan coffee latte di warung. Kopi enak gak harus mahal,” kata Wahyu.

Untuk biji kopi, Wahyu bekerja sama dengan petani daerah di Jawa Barat yaitu Koperasi Petani Sunda Hejo. Dari sana dia bisa mengambil kopi dalam skala kecil. Sunda Hejo sendiri diambil dari nama salah satu varietas biji kopi yang nyaris hilang dari peradaban karena kebun-kebunnya diluluhlantakan bencana alam. Beruntung akhirnya dua ahli kopi dunia berhasil menemukan kembali varietas old Java tersebut.

Warung Koplak
Cara manual menjadi pilihan. © Dieqy Hasbi Widhana

Warung Koplak masih mengandalkan cara dan alat seduh manual. Beberapa di antaranya tubruk, vietnam drip, Volvo V60, kono meimon filter, espresso, late, aeropress, dan capuccino.

Biji kopi yang digemari para pengunjungnya kebanyakan kopi aceh, toraja, dan papua. “Karena memang orang-orang di sini istilahnya baru mengenal kopi, sedangkan nama-nama yang besar aceh, toraja, sama papua,” kata Wahyu memperkirakaan mengapa jenis kopi polular itu sering dipesan pengunjungnya.

Sudah setahun lebih Wahyu belajar otodidak menjadi barista. Dia belajar dari internet dan beberapa rekan-rekannya yang menjadi barista. Hingga proses selanjutnya bagi Wahyu, ialah membuka warung kopi. Baginya ada proses panjang untuk menempa diri menjadi seorang barista.

“Di kopi ada perjalanan yang harus dilalui. Kita gak bisa terburu-buru, tiba-tiba bisa bikin kopi yang wah. Yang penting prosesnya,” ujar Wahyu.

Ternyata ada semacam satu persepsi yang muncul di kalangan penjaja kopi di Jember. Mitos atau anggapan itu mengenai barista yang tak bisa latte art, berati tak bisa dianggap sebagai barista. Wahyu juga bersedia belajar bersama para pengunjung untuk membuat latte art. Baik di kala cupping atau saat ia menemukan waktu senggang.

Di balik beberapa kopi yang diseduh secara modern ala Italia dan Vietnam, Wahyu ternyata tak suka kopi yang dibuat dari mesin modern. Ia lebih suka kopi tradisional, tubruk.

“Aku sebenarnya gak begitu suka latte art, itu hanya sampingan. Aku sih cenderung ke rasa, dari segi manual, yaitu tubruk. Soalnya ditubruk sendiri kita bisa cupping, menentukan kualitas kopi baik atau tidak.

Bagi Wahyu, kopi Indonesia itu bagus. Namun selama ini belum ada orang yang berani memberikan edukasi seputar kopi.

“Jadinya kita gak tau kalau kopi Indonesia itu bagus. Jika diolah dengan baik ternyata rasanya gak kalah dengan kopi luar, Starbuck,” ungkap Wahyu.

Warung Koplak
Aneka kopi dari berbagai daerah. Di antaranya ada kopi dari Koperasi Petani Sunda Hejo. © Dieqy Hasbi Widhana

Jember sendiri sebagai kota setengah urban, beragam kopi dikelola oleh para petaninya. Namun proses distribusinya cenderung eksklusif. Hal tersebut yang pada akhirnya berdampak pada kebanyakan orang Jember cenderung tidak mengenal kopi daerahnya sendiri.

“Kopi lokal jember itu bagus, salah satunya kopi kahyangan. Susahnya ketika orang seperti saya ini membeli kopi Jember, itu belinya harus satuan ton. Gak bisa kita beli satu kilo. Soalnya kalau dari PDP (Perusahaan Daerah Perkebunan) sendiri ketika tahu kopinya bagus, langsung dijual ke luar negeri. Itu yang bikin orang Jember sendiri susah mengenal kopi Jember,” ujar Wahyu.

Padahal di Jember sendiri terdapat Pusat Penilitan Kopi dan Kakao (Puslitkoka), harusnya publik lebih mudah mengenal nama Jember lewat kopi.

Dieqy Hasbi Widhana

Jurnalis lepas dan fotografer. Karya-karya jurnalistiknya bisa disimak di persmaideas.com dan indonesiakreatif.net.

  • bocah_ugal

    Rekomen vietnam drip.. Robusta pakk susu gk usah gula bikin selalu ketagihan tiap hari pesan tuh menu

    Ngopinya di koplak
    Baristanya koplak