Warung Kopi Purnama

Berbahagialah orang Bandung sebab memiliki tempat hang out yang iconic dan historical. Kedai kopi ini salah satunya. Setelah lama berencana, akhirnya Kelsi mampir juga ke Warung Kopi Purnama.

Warung Kopi berada di Jalan Alkateri No. 22 Bandung, tidak jauh dari daerah Pasar Baru juga jalan Asia Afrika. Sebelum bernama Warung Kopi Purnama, nama sebelumnya berbahasa mandarin dan punya arti “Silakan mencoba!”. Seperti pada logonya, warung kopi ini sudah berdiri sejak tahun 1930, bahkan sebelum Indonesia merdeka, sebelum Konferensi Asia-Afrika diselenggarakan. Gurat sejarah warung kopi ini, tertulis pada lembaran menu.

Buat Kelsi, kota Bandung tidak pernah kehabisan kenangan, di tengah berdirinya banyak bangunan raksasa baru. Masih banyak bangunan yang setia pada bentuk lamanya, makanan-minuman yang setia pada resep leluhurnya.

Warung Kopi Purnama
Poster for sale The Beattles. © Kelsi Sawitri

Warung Kopi Purnama, setia menjadi saksi berubahnya daerah sekelilingnya. Hal ini yang membuatnya menjadi unik, kesetiaan pada era klasik. Manusia masa kini, akan selalu rindu masa lalu. Warung Kopi Purnama membantu memanggil memori yang tak pernah pergi. Kelsi sih lebih suka ke sini sendiri dengan berjalan kaki, sambil mengobrol dengan diri sendiri, sekaligus mencicipi Bandung yang klasik.

Bangunannya yang beratap tinggi, lampu-lampu, dan kaca pelanginya membuat Kelsi jatuh cinta pada pandangan pertama. Belum lagi, lukisan dan poster-poster for sale The Beattles dan John Lennon yang dipajang di dindingnya.

Warung Kopi Purnama sebenarnya cukup besar, ada sekitar sepuluh meja yang masing-masing berkapsitas empat orang.

Suatu hal yang menurutku cukup penting dan selalu ditulis dalam setiap review adalah mengenai smoking-area. Iya, dilihat dari atapnya yang tinggi, pintu yang terbuka dan banyaknya ventilasi, memang benar kok Warung Kopi Purnama ini smoking-area. Tapi karena fasilitas yang barusan disebutkan, Kelsi rasa itu bukan masalah besar. Satu lagi, saat ini, kebutuhan akan internet menjadi prioritas, di sini juga dilengkapi fasilitas wi-fi.

Oh ya, Warung Kopi Purnama ini sudah terkenal lho, di dindingnya bahkan terpasang hasil liputan dari berbagai media. Selain itu ada juga potret kota Bandung tempo dulu, poster, dan lukisan mengenai kopi.

Belum lagi, di sini, yang menghidangkan kopinya bukan barista, tapi waitress. Seperti namanya kan, konsepnya ya warung kopi. Menunya pun bukan kopi dengan berbagai penyajian disertai hidangan a la barat, tapi lebih mirip menu restoran dengan menu makanan Asia. Oleh karenanya, ini jadi ulasan kedai kopi pertama Kelsi yang paling “nggak-kopi“. Tapi bukan masalah, menurut Kelsi, Warung Kopi Purnama adalah tempat merenung yang oke.

Warung Kopi Purnama
Kopi telur dan kue srikaya andalan Warung Kopi Purnama. © Kelsi Sawitri

Sekarang mengenai harga, jangan khawatir, harganya sebanding dengan kualitasnya.

Seperti biasa, karena Kelsi bukan penikmat latte juga smoothies, kali ini pesanan kelsi jatuh kepada kopi telur (seperti biasa juga, tanpa gula) dan menu makanan ringan andalan Warung Kopi Purnama, roti selai srikaya (homemade).

Rotinya semacam baru diangkat dari oven, masih anget. Rotinya juga lembuuuuuut sekali. Belum lagi selai srikaya homemade-nya, kalau meminjam istilahnya Julia Perez, “sampe tumpe-tumpe“. Kali ini percayalah kepada Kelsi, mengenai rasa rotinya. Porsi rotinya juga besar, cukup untuk dua orang. Pokoknya kalau ke sini, roti selai srikaya wajib banget dipesan. Ingat kan, tadi Kelsi bilang harga sebanding dengan kualitasnya? Ya karena ini.

Mengenai kopinya, kurasa robusta. Tapi hanya terkaan saja, sebab Kelsi tidak sempat mengobrol dengan waitress di warung kopi ini.

Terakhir, kedai kopi tidak pernah lengkap tanpa musik, kan? Mulanya diperdengarkan musik klasik a la salah satu toko buku terkenal melalui salah satu speaker yang letaknya di sudut ruang. Ya, klasik. Tapi, tidak lama. Pada akhirnya kembali mendengarkan musik alami. Cicit-cuit dari bangunan sebelah, juga deru kendaraan bermotor yang jadi musik di warung kopi ini. Perbedaannya, karena jalan Alkateri termasuk jalan kecil, kendaraan yang lewat tidak terlalu banyak dan terasa dekat, suara mesin kendaraan yang lewat jadi terdengar jelas sekali. Mungkin untuk sebagian orang, suara kendaraan seperti itu sangat menggangu. Tapi kalau Kelsi, bisa mendapatkan keheningan dari keramaian seperti itu, dan buat Kelsi itu bakat.

Jadi tertarik kan main ke sini, memesan kopi dan sekadar membeli waktu?

Seperti yang selalu Kelsi bilang, “Lalu jatuh cintalah pada kopi, karena dia membuatmu terjaga, seperti memperpanjang waktu yang selalu kau anggap kurang”.

Kelsi Sawitri

Penyuka kopi (dan pisang goreng). Mahasiswi semester terakhir di jurusan Fisika Institut Teknologi Bandung.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405
  • imelda

    Saya suka dengan warkop jadul. Apakah Kelsi sdh pernah ulas kopi di warkop lain?