Warung Kopi Pring di Malang

Warung Kopi Pring
Lihat Galeri
4 Foto
Warung Kopi Pring
Warung Kopi Pring di Malang
Warung Kopi Pring

© Eko Susanto

Warung Kopi Pring
Warung Kopi Pring di Malang
Berbincang dan menikmati kopi di Warung Kopi Pring

© Eko Susanto

Warung Kopi Pring
Warung Kopi Pring di Malang
Menakar bubuk kopi

© Eko Susanto

Warung Kopi Pring
Warung Kopi Pring di Malang
Menyeduh kopi

© Eko Susanto

Sore hari di kota Malang, saya bersama Darwin Nugraha dan Yanni hendak mencari lokasi memotret suasana senja kota ini. Kami bertiga punya waktu senggang dua jam, sebelum melanjutkan pekerjaan pada malam harinya. Kesempatan itu yang singkat itu tak kami buang percuma. Kami pun menelusuri jalanan kota Malang.

Namun sayang, mendung tebal menyelimuti langit dan menyebabkan rencana merekam suasana kota kala senja urung terlaksana. Sebagai gantinya, Yanni menyarankan mampir ke warung kopi langganannya. Warung itu persis berdiri di sisi kiri di jalanan menuju tempat wisata Songgoriti.

Warung itu masih tutup ketika kami datang. Yanni berinisiatif mengetuk pintu warung, lalu seorang yang mengenakan jersey warna merah milik The Three Lion muncul dari balik pintu. Raut agak terkejut tampak di wajahnya.

“Mas, saya bawa teman dari Jogja mau ngopi, bisa dibuka sekarang gak?” Yanni menyapa lelaki sang pemilik warung, Vico, 36 tahun. Vico bergegas membuka pintu warung.

Di depan warung yang terbuat dari kayu itu saya bertanya-tanya. Nama yang tertera di plang penanda; Warung Kopi Pring-Kopi Nusantara. Pring diambil dari bahasa jawa yang berarti pering (bambu) tapi kenapa bangunan dan sebagian besar perlengkapannya justru bukan terbuat dari bahan pering?

Dari tepi jalan, interior warung terdiri dari empat set meja dan kursi berbahan kayu yang memunculkan kesan antik, serta satu set meja pering diletakkan di pinggir jalan. Dapur tempat meracik kopi juga hanya terdiri dari meja panjang dan satu set kompor gas piranti memasak air seduhan. Di sebelah meja panjang berdiri satu rak kaca berisi bermacam-macam kopi.

Warung Kopi Pring
Vietnam drip dan kopi tubruk © Eko Susanto

Vico mendirikan warung ini karena kecintaannya pada kopi pada 2010. Awalnya, bangunan warung memang dia bangun dengan material dari pering yang dijalin dengan tali ijuk. Juga dindingnya. Hanya atap yang menggunakan bahan alang-alang. Hampir tiga tahun berjalan, banyak material bambu yang keropos dimangsa hujan dan panas. Ia pun mengganti bahan kayu untuk warungnya sejak 6 bulan yang lalu.

Pengunjung yang datang ke warung kebanyakan juga teman-teman Vico. Namun saat ini yang datang baru kami bertiga.

Menu yang ditawarkan di sini relatif beragam, mulai dari kopi aceh gayo, papua wamena, toraja kalosi, lintong, hingga kopi brotoseno khas Kediri, yang biasa digunakan untuk nyethe. Harganya pun tergolong murah, rata-rata berkisar 10 ribu rupiah. Sedang harga untuk kopi lokal hanya dihargai 3 sampai 4 ribu rupiah.

Saya lantas memesan kopi robusta dampit khas Malang. Begitu juga teman saya Darwin. Sedang Yanni, ia memesan kopi aceh gayo yang disajikan dengan Vietnam Drip.

Warung Kopi Pring
Gelas-gelas berjajar © Eko Susanto

Vico dengan cekatan meracik kopi pesanan kami. Mulai memasak air dan menakar seberapa banyak kopi yang akan disajikan dalam gelas. Sambil meracik, Vico bercerita dengan semangat. Awalnya dia bekerja sebagai desainer di sebuah media massa. Namun, karena kecintaannya pada kopi dia keluar dari tempat kerja dan mendirikan warung kopi agar bisa sering berkumpul dengan teman-temannya sesama penggemar kopi.

Sama dengan kebanyakan warung atau kedai kedai kopi di kota lain. Vico membebaskan pengunjung warungnya untuk berlama-lama menikmati kopi. Yang membedakan, Vico tidak menyediakan fasilitas Wi-fi bagi pengunjung. Dia menggantinya dengan kartu remi dan gaple sehingga kebanyakan pengunjung dapat bertahan hingga larut.

Sayangnya, Warung Kopi Pring tidak menyediakan kamar kecil. Sehingga saat teman saya hendak buang air kecil, Vico tertawa dan menyarankan untuk pergi ke minimarket di seberang jalan. Vico menjelaskan, keterbatasan ruang menyebabkan area toilet tidak dapat disediakan.

Hari telah gelap. Pengunjung masih kami bertiga. Namun kami tak bisa berlama-lama untuk kali ini. Pengunjung dari jauh yang datang tak tepat waktu ini menjabat tangan Vico sekaligus berpamitan undur diri.

Eko Susanto

Fotografer partikelir, penikmat kopi robusta.

  • Boleh dicoba nih Warung Kopi Pring
    Buat menambah jam terbang nyeruput kopi
    Asal gak ada aparat yang mampir
    Nanti dikira buka meja judi
    hahaha…