Warung Kopi (Pisang) My Way

“Gak ngampus?”
“Kapan? Masak ya sekarang. Aku baru bangun.”
Iki aku nang kampus. Ndang aduso sing ganteng. Sopo ngerti ketemu jodoh di kampus. (Ini aku di kampus. Cepat mandi biar ganteng. Siapa tahu ketemu jodoh di kampus)”

Pesan Alfi itu masuk jam setengah sepuluh pagi. Saya baru bangun tidur, dan hari itu tidak ada niatan untuk pergi ke kampus. Kepala agak pusing, leher sebelah kanan sakit, pinggang pegal, entah saya tidur model apa tadi malam. Dalam kondisi seperti itu, saya masih lanjut saling berkirim pesan dengan Alfi. Percakapan itu akhinya dipungkasi Alfi dengan penutup yang cukup menyeramkan.

“Kata Bu Anas ya, kalau kamu nunggu inspirasi datang, itu ciri-ciri orang yang dekat dengan DO. Pokoknya ayo jadwalkan kita ngopi berdua, aku pengen marahin kamu!”

Balasan saya; emoticon cengengesan disertai dua acungan jempol. Maksud saya, agar tidak ada balasan lagi dari Alfi. Tapi dasar Alfi teman yang baik, ia tidak mempan dengan balasan itu. Ia minta kepastian dari saya kapan direalisasikan agenda itu. Alfi mengusulkan nanti malam saja, dan saya menyetujui usulannya.

Warung Kopi My Way
Warung Kopi My Way © Amal Taufik

Kami janjian di warung kopi My Way. Letaknya di Jalan Riau, dari Universitas Jember ke arah barat lalu belok ke utara. Saya pikir tidak jauh-jauh amat dari kos-kosan kami. Saya sampai sana lebih dulu. Alfi memberi kabar kalau ia masih mau mandi dulu. Setengah jam kemudian ia menyusul. Saya maklumi saja, sebab tak ada perempuan yang mandinya cepat.

Perkenalan saya dengan warung kopi My Way berawal dari ajakan Faris pada suatu malam. Faris malam itu begitu pandai berkhotbah soal kopi. Kebiasaan saya menambahkan satu sendok gula ke dalam kopi arabika dikritik olehnya. Katanya kopi arabika kalau dikasih gula, sedikit atau banyak, bisa merusak rasa. Beda dengan saya, menurut saya kopi arabika itu enaknya ditambahi gula. Jika tanpa gula, rasa asamnya tidak enak.

Nama ‘My Way’ diambil dari salah satu lagu Frank Sinatra. Faris yang menjelaskan itu. Dan benar saja, di salah satu sisi ruangan terpacak lirik lagu Frank Sinatra yang berjudul My Way. Faris tahu lagu Frank Sinatra yang itu, sedangkan saya tidak tahu. Meminta Faris menjelaskan apa makna dari lirik lagu itu rasa-rasanya tidak mungkin. Sebab saya masih ingat Faris pernah membeberkan bagaimana cara ia belajar bahasa Inggris. Yaitu dengan main game Clash Of Clan.

Lirik Lagu My Way karya Frank Sinatra dipajang di tembok dalam warung.
Lirik Lagu My Way karya Frank Sinatra dipajang di tembok dalam warung. © Amal Taufik

Malam itu dua pelopor berdirinya warung kopi My Way; Mas Asmuni dan Mas Rio sedang tidak ada. Mas Asmuni sibuk dengan pekerjaannya sebagai koordinator sebuah lembaga survei area Jawa Timur. Sedangkan Mas Rio sedang berada di Kalimantan. Keinginan untuk bertanya-tanya makna lagu My Way kepada mereka pun urung saya lakukan.

Di Jember sekarang banyak berdiri cafe baru. Setiap cafe punya barista. Ya, namanya barista. Dulu tahun-tahun awal saya masuk Jember, cafe di sini tidak banyak menyediakan varian kopi. Paling untuk varian kopi, di menu hanya tertera kopi hitam, kopi susu, dan cappuccino. Sekarang hampir setiap cafe menyediakan kopi dari penjuru nusantara (single origin). Di meja bar dipamerkan toples-toples berisi aneka macam biji kopi. Entah berkaitan atau tidak, kalau saya amati fenomena ini membuat beberapa orang mendadak suka kopi pahit. Seakan kopi yang tidak pahit itu tidak enak. Padahal dulunya mereka tidak begitu.

Faris pernah bercerita soal varian kopi baru di My Way. Namanya kopi pisang. Menurut tuturan Faris, ada rasa pisang yang muncul sesaat setelah mencecap kopi tersebut. Saya yang penasaran segera memesan kopi arabika pisang itu kepada Mas Bambang.

Suasana di dalam Warung Kopi My Way
Suasana di dalam Warung Kopi My Way © Amal Taufik

Saya ngeloyor masuk ke dapur ingin tahu seperti apa kopi arabika pisang itu. Beberapa toples saya buka lalu saya hirup baunya satu per satu dengan lagak seorang ahli kopi. Mulai dari Kopi Bali, Kopi Kayu Mas, Kopi Ijen, wanginya tidak ada yang berbau pisang. Hingga Mas Bambang menyodorkan satu plastik berisi biji kopi. “Ini lho yang pisang”, kata Mas Bambang. Saya mengudar karetnya lalu menghirupnya. Wangi buah pisang menguar. Saya hirup berkali-kali dan itu benar-benar wangi buah pisang.

Sembari menunggu Alfi datang, saya mencoba cara minum kopi yang baik sesuai anjuran Faris: kopi arabika tanpa gula. Sengaja saya minta Mas Bambang agar kopi disajikan dengan cara ditubruk. Karena saya merokok. Menurut pengalaman pribadi sebagai perokok, kopi kalau disajikan dengan Vietnam Drip atau diperas dengan rok presso, rasa kopinya bisa kalah oleh rasa rokok.

Kopi Khas Warung My Way: Kopi Pisang
Kopi Khas Warung My Way: Kopi Pisang © Amal Taufik

Alfi datang ketika saya masih sibuk mencecap rasa pisang. Rasanya muncul sangat samar di lidah. Munculnya untup-untup setelah mengatupkan lidah berkali-kali. Itu pun sangat sebentar. Mungkin karena terlalu sibuk mencecap rasa pisang, rasa asam kopi arabika kesukaan saya sama sekali tidak terasa. Akhirnya, terpaksa satu sendok gula saya tumpahkan ke dalam cangkir.

Tujuan Alfi ketemu saya adalah untuk ngomeli sayasoal kemalasan menggarap skripsi. Saya sudah membayangkan adegan-adegan semacam ini: Alfi datang dengan wajah serupa penyihir jahat, duduk berhadap-hadapan dengan saya, tatapan matanya dingin, mencekam, dan selanjutnya, seisi warung kopi akan memalingkan mata kepada kami karena mendengar omelan Alfi yang mirip orasi.

Namun bayangan itu seketika runtuh saat Alfi sudah cengengas-cengenges disertai kehebohannya saat baru saja duduk di samping saya. Ia memesan segelas afogato. Lalu mulailah kami diskusi panjang lebar soal skripsi. Kebetulan salah satu dosen pembimbing kami sama. Dosen senior, perempuan, yang menurut pengakuan Alfi agak sedikit rempong. Saat diajak diskusi soal skripsi, menurut Alfi, beliau bisa tiba-tiba menyangkut-pautkan dengan sejarah candi-candi Jawa. Padahal beliau sama sekali bukan dosen sejarah dan beliau tidak mengajar di Fakultas Sejarah dan skripsi mahasiswa yang beliau bimbing juga tidak membahas soal sejarah.

Obrolan kami soal skripsi berakhir ketika saya bertanya kepada Alfi, “Apa sih yang membuat perempuan ilfeel sama laki-laki pas PDKT?”

Obrolan pun akhirnya beralih jadi sesi curhat. Hingga kemudian saya memamerkan foto seorang perempuan.

“Ini, Fi.”
Wajahnya kaget. “Anak ini, Pik?”
Ya ampun emang kamu yakin dia mau sama kamu? jawabnya sambil mringis tak berdosa.
Seketika itu, saya ingin mematikan bara rokok tepat di ubun-ubun kepala Alfi.

Amal Taufik

Pecinta masakan kambing garis keras.