Warung Kopi Mak Pik di Ambulu

Secangkir kopi Warung Kopi Mak Pik, Ambulu
Secangkir kopi Warung Kopi Mak Pik, Ambulu | © Ananda Firman J

Ambulu merupakan kecamatan di selatan Kabupaten Jember. Daerah ini memiliki kultur minum kopi yang tinggi. Bahkan di hampir setiap gang terdapat warung kopi. Mayoritas mata pencaharian masyarakat yang bersifat agraris memungkinkan ketersediaan waktu senggang bagi warga. Itu pula yang mendukung kultur minum kopi bisa ‘hidup’ di daerah ini.

Sebelum semarak kedai kopi terjadi. Di daerah ini hanya tersedia sedikit warung kopi, salah satunya Warung Kopi Mak Pik. Warung kopi ini mempunyai pelanggan melimpah, hingga banyak pembeli yang tak kebagian tempat duduk dan berhambur di sepanjang trotoar.

Tak sulit mencari warung kopi ini. Tempatnya mudah dikenali. Bila hendak berwisata ke pantai Watu Ulo atau Tanjung Papuma dari Jember dan terpaksa berhenti karena terjebak lampu merah di Ambulu, cobalah menoleh ke sebelah kiri jalan. Di situ ada warung kopi legenda berada.

Tim Ekspedisi Kopi Miko menghentikan motor di pinggir jalan, seorang pria paro baya sedang sibuk menata gelas-gelas. Sampai di bangku warung, ia menyambut dengan tanya apakah kami memesan kopi. Setelah mendapat jawaban, ia mulai menyiapakan empat cangkir yang ditata berjejer, dan mulai menuangkan dua sendok teh bubuk kopi dan tiga sendok gula pada masing masing cangkir. Tak berapa lama air mendidih dituangkannya ke cangkir kemudian mengaduknya hingga benar-benar yakin air, gula, dan kopi menyatu. Setelah yakin teraduk rata, gelas itu diletakkannya di depan kami.

Sepertinya, semua warung di daerah Ambulu yang khas adalah cangkir sajinya. Cangkir kecil berwarna putih susu, lengkap dengan tatakan berwarna sama.

Pak Hari, salah satu pewaris Warung Kopi Mak Pik
Pak Hari, salah satu pewaris Warung Kopi Mak Pik | © Ananda Firman J

Mak Pik, sang perintis, membuka warung kopi ini sekitar awal dekade 80an sampai wafat pada 2002. Karena tak memiliki keturunan, Mak Pik yang bernama asli Pi’ah itu, mewariskan lapak dagangnya pada tiga keponakannya. Mereka bergantian membuka warung kopi di tempat yang sama bergantian selang 8 jam. Hingga nama Warung Kopi Mak Pik tetap lestari sampai saat ini.

Keponakan Mak Pik yang berusia 60 tahun ini sibuk melayani pembeli. Beberapa datang dan pergi. Hanya satu orang selain Tim Eksedisi Kopi Miko yang memesan kopi, sedangkan yang lain memesan minuman berenergi.

“Biasa saja,” katanya ketika mulai menjelaskan proses pembuatan bubuk kopi. Kopi buatan pria paro baya ini diproses dari biji kopi robusta yang dibelinya dari toko grosir di seberang warung. Kopi tersebut disangrai sendiri dan digiling (selep) menjadi bubuk kopi di jasa penyelepan. Harga satu cangkir kopi hanya Rp2.000.

“Ambulu sudah banyak warung kopi,” kata Pak Hari. Ia mengarahkan telunjuknya ke warung kopi di seberang jalan, dan mengalihkan pada warung kopi lagi sekitar 20 meteran di ruas trotoar yang sama dengan warungnya. “Ada banyak sekali mas di sini.”

Pengunjung Warung Kopi Mak Pik
Pengunjung Warung Kopi Mak Pik | © Ananda Firman J

Menjamurnya warung kopi di Ambulu menurutnya merupakan salah satu penyebab berkurangnya pelanggan di warungnya. “Sekarang terbanyak tak sampai seratus cangkir kopi dalam sehari. Beda dengan zaman tahun 2004/2005 dulu bisa sampai dua ratus cangkir per hari,” ujarnya

Menurut pewaris warung Mak Pik yang mantan penjahit ini, yang sekarang yang datang nongkrong di tempatnya adalah anak-anak muda dan banyak yang bukan dari Ambulu. “Zaman saya dulu gak ada anak muda yang nongkrong di warung. Sekarang usia remaja baru belajar merokok sudah berani nongkrong dan ngopi-ngopi di pinggir jalan,” tuturnya.

Ekspedisi Kopi Miko

Ananda Firman J

Bersama Rotan menjadi Volunteer Sokola Kaki Gunung di Jember.