Warung Kopi Cak Wang: Menjaga Tali Silaturrahmi

Kopi Cak Wang
Para pelanggan kopi Cak Wang dalam sebuah acara. © Cak Oyong

Pernahkah kamu membayangkan bahwa kamu dapat uang untuk melakukan hal yang memang kamu suka? Sangat menyenangkan sekali tentunya. Hobi yang menghasilkan uang adalah hal yang paling diidam-idamkan banyak orang.

Seperti kebanyakan mahasiswa, nyangkruk di warung kopi adalah sebuah ritual wajib. Mengunjungi warung-warung kopi sederhana. Menikmati setiap perbincangan yang terlontar begitu saja. Guyub rasanya, padahal antar pengunjung pun terkadang tidak saling kenal.

Seorang lelaki kelahiran Malang yang menginjakkan kaki di Jember pun demikian. Mas Rachmad Hidayatullah yang kala itu masih berstatus Mahasiswa kerap nyangkruk di Warung Kopi bersama kawan-kawannya. Warung kopi langganannya adalah warung kopi Bu Leck yang berlokasi di sebelah Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember. Rachmad hampir tak pernah absen untuk nyangkruk. Di sana ada banyak hal yang bisa dibicarakan. Mulai dari urusan perkuliahan, perempuan hingga rencana-rencana bisnis demi menyambung hidup. Selain di Bu Leck, Rachmad juga kerap nyangkruk di warung kopi Mak Tika dan warung-warung Kopi pinggiran lainnya.

Kegiatan per-cangkruk-an ini terus berlanjut hingga Rachmad lulus kuliah. Sekalipun telah memiliki pekerjaan dengan penghasilan yang lumayan, kebiasaan nyangkruk di warung kopi pinggiran tetap tidak bisa ditinggalkan. Ia sangat jarang memilih kafe sebagai tempat nyangkruk. Menurut Rachmad, nyangkruk di kafe itu kurang nyaman karena suasananya tidak seguyub di Warung Kopi.

Di tahun 2009 Rachmad mencoba peruntungan dengan membuka Warung Kopi Kawoeng di daerah Jl. Basuki Rachmad. Tapi yang namanya usaha tidak selalu berjalan mulus dan lancar-lancar saja. Kegagalan adalah kawan karib bagi mereka yang berwirausaha. Belum setahun berjalan, bangunan Warung Kawoeng roboh dan rata dengan tanah. Ketika hal itu terjadi tidak ada saksi mata untuk menceritakan bagaimana kejadiannya. Yang tersisa hanyalah kenangan yang bisa dilihat dari sebuah foto milik Widham, kawan karib Rachmad yang berprofesi sebagai fotografer.

Merugi itu pasti, tapi bagi Rachmad sebuah mimpi itu wajib diwujudkan bagaimanapun caranya. Mimpi itu dia pandang lekat-lekat dan dia ceritakan ke banyak orang.

Bahkan Rachmad menciptakan sebuah warung kopi imajiner dengan nama Cak Wang. Kisah warung kopi baru itu ia ceritakan ke teman-temannya. Ketika ditanya lokasinya, Rachmad hanya menjawab masih rahasia dan akan diberitahukan pada saat yang tepat. Semakin sering Rachmad menceritakan tentang warung kopinya, semakin banyak kawan-kawannya yang penasaran. Akhirnya, dengan modal Rp 16 juta Rachmad membuka Warung Kopi Cak Wang di Pojok Kantin FISIP Unej.

Kopi Cak Wang
Suasana kedai Cak Wang. © Cak Oyong

Warung kopi ini tampak sederhana. Tapi tak sesederhana yang dibayangkan orang-orang. Menu andalan Cak Wang adalah aneka kopi Nusantara yang disajikan dengan Vietnam Drip. Selain itu es kopi banjir juga jadi andalan. Karena harga yang bersahabat, juga menyajikan menu kopi yang berbeda dengan warung kopi kebanyakan, Cak Wang mendapat banyak pelanggan. Warung ini nyaris tak pernah sepi.

Hanya dalam waktu 2 tahun, Cak Wang sudah mencuri perhatian pendiri situs cikopi.com, Toni Wahid. Ia penasaran bagaimana sebuah warung kopi sederhana bisa menarik banyak pecinta kopi di Jember.

Karena keberhasilan itu, seorang pemilik kafe mengajak Rachmad bekerja sama. Dibukalah cabang Cak Wang yang bertempat di Jalan Mastrip, tak jauh dari Fakultas Kedokteran Gigi. Sayang, karena kebijakan kampus tentang jam malam, Cak Wang di FISIP harus ditutup.

Rachmad terus melebarkan sayap Cak Wang. Ia menyewa sebuah bangunan di Jalan Semeru untuk dijadikan Cang Wang berikutnya. Kini, ada tujuh kedai Cak Wang yang tersebar di empat kota: Jember, Bondowoso, Banyuwangi, bahkan hingga Payakumbuh, Sumatera Barat. Ketika ditanya kiat sukses, Rachmad selalu merendah.

“Mengalir saja seperti air.”

Kopi Cak Wang
Rachmad Hidayatullah, sang pemilik Cak Wang. © Cak Oyong

Dari yang awalnya hanya memiliki seorang karyawan, kini Bapak dengan dua anak ini mampu mempekerjakan 50 orang. Saya pernah bikin survey terhadap 100 orang secara acak. Menurut mereka, kelebihan Cak Wang adalah kentalnya suasana kekeluargaan. Selain itu, kopi yang dibeli dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao juga memberikan jaminan mutu.

Tak ada manusia yang sempurna, begitu juga dengan Warung Kopi. Hal-hal yang perlu diperbaiki menurut pelanggan adalah menu makanannya karena kurang bervariasi, akses internetnya yang terkadang lelet ketika pengunjung penuh serta pelayan yang kurang cekatan juga ketika pengunjung penuh.

Tapi terlepas dari itu, Cak Wang yang awalnya adalah warung kopi imajiner belaka, kini sudah menjadi sahabat bagi pecinta kopi di Jember. Akan tetapi lebih dari itu: kemampuan Rachmad sendiri merangkul sahabat-sahabatnya jauh lebih berarti dari apapun.

Mari ngopi, mari menjaga silaturrahmi.

Cak Oyong

Lelaki yang bercita-cita menjadi SuperDad.