Warung Kopi adalah Kunci

Potret keramaian di salah satu sudut warung kopi
Potret keramaian di salah satu sudut warung kopi © Ichsan Maulana

Warung kopi atau dalam bahasa Aceh disebut keude kupi merupakan sebuah entitas yang melekat dalam tatanan masyarakat serambi mekkah. Keberadaannya multifungsi, tak sebatas tempat rehat, transit ataupun sebatas tempat nongkong bersama. Transformasi esensi dari keberadaan warung kopi dimulai pasca tsunami. Dengan adanya wifi dan perubahan desain arsitektur telah membawa perubahan yang sangat signifikan akan keberadaan warung kopi itu sendiri.

Dari berbagai fungsi keude kupi yang ada, berdiskusi adalah pilihan yang paling lumrah dilakukan. Dengan berbagai elaborasi diskusi itu sendiri; mulai dari pembahasan remeh-temeh semisal basa-basi ha hi hu. Bahasan sedang; saling berbagi mengenai dinamika urusan kampus, curhat ditinggal belahan jiwa, dll. Hingga bahasan berat seperti diskusi semi formal dengan mengundang tokoh maupun pakar, tanpa terkecuali konsolidasi mengenai pilkada.

Pilkada dan warung kopi seyogyanya ialah dua hal yang berbeda. Namun, di Aceh keduanya memiliki hubungan sebab akibat yang sangat menentukan posisi seorang kandidat. Apakah ia akan menang atau kalah. Bahkan, dalam cakupan yang lebih jauh, kemenangan seorang kandidat erat kaitannya dengan konsolidasi di warung kopi yang digagas kuat serta jelas pendekatannya dengan melibatkan sisi emosional di dalamnya.

Timbul pertanyaan. Masak ia sih hanya karena warung kopi seorang kandidat bisa memenangi pilkada? Jelas jawabannya sangat bisa! Mari kita urai lebih jauh. Dalam kesehariannya, kecenderungan masyarakat Aceh menghabiskan banyak waktunya di warung kopi. Terlepas apapun motifnya. Sesibuk apapun, minimal sekali waktu pasti ngopi, misal jam istirahat kantor sambil makan siang. Warung kopi di Aceh jumlahnya banyak! Sangat banyak. Sanking banyaknya, antara satu keude kupi dengan keude kupi lainnya jaraknya kadang tak sampai bermeter-meter. Tapi berdempetan. Tentu tergantung lokasi dan daerahnya. Di samping itu pula, interaksi sosial masyarakat Aceh banyak berlangsung di keude kupi. Selain di masjid, meunasah juga pasar.

Komposisi dari jumlah warung kopi yang banyak, frekuensi interaksi sosial yang intens, serta waktu dengan kecenderungan banyak di warung kopi, merupakan tiga hal yang menentukan. Warung kopi sebagai wadah (tempat) memudahkan seorang kandidat melalui tim suksesnya untuk mengumpulkan masa. Dari segi cost, dapat dilihat dua hal; Pertama, lebih murah karena tidak harus menyewa tempat, dan kedua kalaupun lebih banyak pengeluaran lantaran membayar kopi ataupun varian minuman lainnya, dapat diganti dengan pendekatan emosional. Pendekatan emosional lebih berdampak dan ini rasanya lebih menguntungkan ketimbang harus terlalu matematis mempertimbangkan jumlah pengeluaran sebab membayar kopi.

Bagan.
Bagan. Dok. Pribadi © Ichsan Maulana

Interaksi sosial yang dibangun di warung kopi lebih menyentuh akar rumput. Karena wacana yang dibangun maupun pendekatan di dalamnya cenderung didengarkan. Sepintas didengar dulu. Walau masuk kuping kanan keluar kuping kiri. Intinya sempat didengar dan sudah pernah ngopi bareng kandidat. Ada kedekatan emosional di dalamnya yang membuat si calon kandidat minimal dipertimbangkan oleh masyarakat.

Kebiasaan masyarakat Aceh menghabiskan waktu di warung kopi, memberikan kemudahan. Fleksibilitas menjadi suatu hal yang penting, dengan begitu baik para timses maupun si kandidat tinggal menyesuaikan saja waktu untuk melakukan penetrasi ke warung-warung kopi. Dengan kecenderungan waktu yang relatif sering di warung kopi, bila tidak berjumpa dengan masyarakat secara keseluruhan pun, masih bisa bertemu di lain waktu. Dengan asumsi semoga banyak berjumpa dengan calon pemilih lainnya.

Keberadaan warung kopi sebagai public space mendapatkan perhatian oleh hampir setiap kandidat yang akan mencalonkan diri maupun sudah terpilih. Menyapa konsitituen dengan ritual ngopi jamaah merupakan ihwal romantis di bawah payung pernikahan politik dan kebudayaan. Dimana warung kopi sebagai instrumen budaya, dan kandidat (politisi) sebagai instumen politik. Celakanya, masih ada ‘sianida’ antara seorang kandidat dengan masyarakat. Kerap kali menyapa warga di warung kopi dilakukan sebelum terpilih dengan modus pencitraan bahwa ia peduli kepada rakyat. Warung kopi adalah panggung pencitraan saja guna menjajankan ‘bahwa saya merakyat’. Padahal lebih dari itu, di hadapan kopi pancong dengan harga tiga ribu rupiah kita adalah setara. Setelah terpilih menjadi sangat berbeda. ‘You minum kopi pancong tiga ribu, saya minum kopi (minimal) 30 ribu segelas’. You makan pulut, saya makan rainbow cake. Duh!

Maka dari itu, sedari sekarang 2016 menuju 2017 yang akan berlangsungnya Pilkada. Banyak warung kopi di Aceh mulai ramai dikunjungi calon kandidat, terutama calon gubernur Aceh guna melakukan konsolidasi dengan timses maupun melakukan pendekatan terhadap rakyat. Jika di Ibukota Jakarta dihebohkan dengan adanya teman-teman Ahok. Relawan mengumpulkan KTP warga Jakarta untuk persyaratan maju sebagai calon gubernur DKI melalui jalur independen, maka di Aceh orang-orang mulai memeriahkan warung kopi dengan ritual ngopi jamaah guna memikat hati masyarakat.

Kita berharap semoga warung kopi tidak hanya menjadi tempat untuk ngopi jamaah saja, dengan asumsi mendapatkan kopi gratis. Namun, lebih jauhnya lagi, kiranya warung kopi dapat dijadikan sebagai wadah untuk mengedukasi masyarakat dengan hal-hal yang berkaitan masalah politik. Khusus untuk masyarakat Aceh, berhubung pilkada sudah di ambang pintu, ngopi jamaah bersama calon kandidat harus digunakan sebaik mungkin untuk mengenali sosok cagub dengan pemikiran-pemikirannya terhadap bagaimana Aceh ke depan. Jangan sampai, hanya lantaran kopi gratis kita menjadi luluh dan memberikan hak suara kepada calon-calon yang tidak kompeten. Sungguh, bila itu terjadi, kita lebih rendah dari harga kupi pancong yang tiga ribuan itu.

Dalam khasanah perpolitikan di Aceh, “warung kopi adalah kunci” selain figur tokoh si calon kandidat maupun timses yang cekatan. Untuk itu jangan sampai hanya lantaran libido kekuasaan dengan pilkada sebagai goalnya malah merusak esensi warung kopi itu sendiri. Warung kopi adalah bagian dari kekayaan budaya orang Aceh. Pemanfaatkan warung kopi sebagai instrumen pemenangan bukanlah sesuatu yang haram. Selama menggunakan prinsip yang baik dan benar. Jangan sampai ketika sudah terpilih tidak pernah lagi ngopi jamaah. Keberadaan warga digantikan oleh kolega yang notabene eks timsesnya dulu. Ngopi jamaah itu penting guna menyerap aspirasi masyarakat. Jangan ada dusta antara kita karena alasan terlalu sibuk.

Ichsan Maulana

Penulis yang menulis untuk modus mengisi kesepian. Mahasiswa Universitas Syiah Kuala.