Warung Antiq: Suasana Ngopi Siang Hari di Kediri

Saya percaya, waktu akan selalu memberi kesempatan untuk kita ngopi. Tak ada yang namanya “tak sempat ngopi”, sesibuk apa pun hari itu. Setiap saya pulang ke Kediri, saya selalu sempatkan ngopi di tempat ini. Namanya Warung Antiq, warung sederhana yang tersembunyi di antara hiruk-pikuk kawasan Bandar, Kota Kediri.

Sebelumnya perlu diutarakan di sini, saya tak paham-paham amat tetek-bengek soal kopi. Saya tidak paham tentang jenis-jenis kopi, teknik penyeduhan, bagaimana membedakan antara arabica, robusta, atau lainnya. Saya tak paham bagaimana cara mengetahui sifat seseorang dari kopi yang diminumnya, seperti yang saya baca di blog Mas Nuran yang apik. Saya tahunya cuma satu: ngopi itu enak, walau tanpa ada mbak-mbak.

Warung Antiq ini seduhan kopinya biasa saja, barangkali bahkan tak lebih enak dibandingkan seduhan kopi di rumah saya di Ngadiluwih, yang diracik oleh Emak saya yang berusia lebih dari 92 tahun. Akan tetapi suasana yang disuguhkan oleh Warung Antiq ini yang membuat berbeda, luar biasa. Nyaman, di bawah pepohonan, adem. Tempat yang nyaris sempurna untuk membaca buku atau sekadar dihabisi waktu.

Warung Antiq di kawasan Bandar, Kota Kediri.
Warung Antiq di kawasan Bandar, Kota Kediri. © Fidocia W. Adityawarman

Untuk bisa ke Warung Antiq ini, saya kira sulit sekali bila sendirian tanpa ada teman yang sudah tahu lokasi warung ini. Benar-benar tersembunyi. Pengopi harus melewati pekarangan kosong lalu melewati sebuah gerbang yang bentuknya hampir-hampir mirip rashomon dalam komik Naruto. Tapi apabila tak malu bertanya, saya kira orang-orang di sekitar kawasan Bandar pasti tahu tempat ini. Warung ini kalau saya tak keliru, buka dari jam 9 pagi hingga jam 9 malam. Konon, ia diberi nama Warung Antiq karena di depan jalan raya tepat sebelum masuk pekarangan, pernah ada sebuah toko barang antik yang kini sudah berhenti buka.

Sekarang saya akan coba bercerita tentang suasana yang saya bilang berbeda. Setelah memesan kopi dan membeli rokok eceran (ini penting, membeli rokok eceran ini merupakan sebuah usaha yang tak hanya dapat membantu kesejahteraan para petani tembakau dan cengkeh, tapi juga agar warung tetap terjaga keberlangsungannya), saya duduk di kursi di bawah pohon mangga. Area warung ini luas karena memang modelnya terbuka, seperti di pekarangan belakang rumah.

Warung (tempat memesan dan meracik kopi) menghadap ke utara, membelakangi rashomon yang tadi saya ceritakan. Di pojok kanan area itu, dapat ditemui banyak sekali bonsai yang entah punya siapa. Terkerdilkan, ditaruh di tempat tersembunyi, tak terawat pula. Di situ kadang saya merasa, ah tak apa-apa. Kan memang begitu hidup itu?

Oke, sebelum lanjut, ada baiknya seseruput dulu. Ah…

Di pojok kiri, ada rumpun pohon bambu yang ketika tergesek angin mereka berdesah-desah seksi. Ini juga bagi saya membawa sensasi tersendiri dalam suasana ngopi. Di belakang bambu, setelah jalan gang kecil, ada sebuah musala yang selalu mengingatkan kita untuk beribadah. Tapi, kan bagi sebagian orang kan ngopi juga ibadah?

Secangkir kopi.
Secangkir kopi. Tetap enak, walau tanpa mbak-mbak, © Fidocia W. Adityawarman

Saya datang ke Warung Antiq jam 12 siang. Ini memang waktu yang tepat untuk ngopi, apalagi pada jam itu Kediri sedang panas-panasnya. Pengunjung warung pada jam ini biasanya adalah para debt collector yang beristirahat karena lelah melihat motor lewat dan memelototi plat nomornya satu-persatu.

Saya punya satu teman yang bekerja seperti itu, dan dari ceritanya, saya tahu menjadi debt collector adalah pekerjaan melelahkan. Menunggu berjam-jam di perempatan sambil mencocokkan plat nomor dengan kitab suci pemberian perusahaan. Benar-benar melelahkan, tapi tak membosankan. Sambil ngopi, saya dengarkan cerita mereka. Kadang guyonan khas bengkel dan tukang becak yang kocak mereka bawa ke warung, membuat seluruh penghuni warung ikut terpingkal. Tak jarang juga mereka bawa cerita ngeri dari pekerjaan mereka. Ya, apalagi kalau bukan menagih hutang. “Si A ini wis waktunya bayar tapi panggah sambat gak nduwe duit, yo tak uantemi ndas e… ” Ngeri, dan untuk ini, bolehlah kiranya sesruput kopi lagi.

Ketika setengah 2, pengunjung mulai berganti. Para penagih hutang yang mulia digantikan dengan anak-anak SMA yang baru pulang sekolah. Masih berseragam lengkap, dengan motor modifikasi yang keren abis. Kalau beruntung, bisa ditemukan juga dedek-dedek gemes asli Kediri. Sebuah pemandangan baru, penyegar setelah kengerian tentang bonsai tak terawat dan hutang yang tak kunjung terbayarkan. Mereka ini ke sini biasanya bukan untuk ngopi, tapi untuk segelas minuman berenergi. Tapi ndak papalah, kan Kediri ini kota yang toleran. Harus dihargai usaha mereka ini.

Menjelang waktu Ashar, tibalah pembuktian kota Kediri sebagai kota yang santun dan penuh toleransi. Wah, sepertinya saya lupa bercerita kalau Kediri ini salah satu gelarnya adalah Kota Santri. Banyak pesantren bertebaran di Kediri. Kawasan Bandar juga merupakan kawasan santri, dekat dengan Lirboyo, LDII, Wahidiyah, dan lain-lain. Lanjut sesruput lagi.

Menjelang Ashar, dedek-dedek gemes mulai pulang ke kesunyian masing-masing. Saya masih duduk di kursi di bawah pohon mangga, sendirian. Musala sebelah warung mulai melantunkan pujian-pujian untuk Nabi. Adem dan tentrem sekali.

Lalu, dilantunkan juga Syiir Tanpo Waton yang disukai Gus Dur.

Akeh kang apal, Quran Hadist e…
Seneng ngafirke marang liyane…
Kafire dhewe gak digatekke…

Saya merasa bungah. Di Bandung, tempat saya kuliah sekarang, jarang ada yang seperti ini. Banyak yang lebih sibuk mengkafir-kafirkan sesama muslim. Mensesat-sesatkan aliran ini dan itu. Dan suasana Warung Antiq telah menghabisi kejengahan saya pada hal-hal semacam itu.

Untuk segala suasana yang disuguhkan warung ini, saya isap tetesan terakhir dari gelas kopi….

Di Bandung, belum saya temui suasana seperti di warung Antiq ini. Yang saya tahu di sini cuma kafe-kafe yang instagram- able . Kopi yang aneh-aneh macamnya (tapi enak juga, sih , rasa kopinya).

Bila ada yang tahu warung seperti Warung Antiq ini di Bandung, adakah yang sudi menemani? Sepertinya, lama-lama saya bosan ngopi sendiri!

Fidocia W. Adityawarman

Tukang ngopi, kuliah di Bandung. Fans Juventus.