WARKOP BIK LA: Warung Kopi Lintas Generasi

Tampak Depan Warung Kopi Bik La
Tampak Depan Warung Kopi Bik La © Syndi Nur Septian

“Mampir Mbah Dulu ya”

“Oke, siap!”

Percakapan singkat terjadi saat saya dan teman hendak pulang ke kampung halaman, Jumat kemarin. Perjalanan dari Jember ke Lumajang memang tidak memakan waktu yang cukup lama. Cuaca siang hari waktu itu sangat cerah. Kami berdua berangkat sehabis sholat Jumat. Jalan menuju Lumajang sedikit sepi waktu itu, sehingga kami bisa memacu sepeda motor dengan kecepatan tinggi.

Sesampainya di Lumajang, kami langsung menuju sebuah warung kopi sederhana yang berada di Nol Kilometer Lumajang. Warung Kopi Bik La. Tapi sayang, Tugu Nol Kilometer yang terpasang tepat di seberang warung kopi Bik La sekarang sudah tidak ada. Entah kemana hilangnya, mungkin sudah dipindahkan ke Alun-Alun Kota. Sependek pengetahuan saya, Nol Kilometer sebuah kota biasanya memang berada di Alun-Alun Kota. Terlepas dari itu semua Warung Kopi Bik La tetap menjadi warung kopi nol kilometer Lumajang bagi kami.

Warung Kopi Bik La
Warung Kopi Bik La © Syndi Nur Septian

Setelah sampai dan membuka perlengkapan berkendara kami langsung memesan minuman. Siang itu ternyata bukan Mbah yang sedang menjaga warungnya, tetapi Mbak Lisa salah satu anaknya yang bergantian menjaga warung kopi Bik La. Saya pun bertanya kepada Mbak Lisa: “Mbah, nangdi mbak?”

“Lagi makan siang mbah,” jawabnya singkat.

Mbah sudah berumur 68 Tahun. Usia yang mengharuskan beliau untuk banyak istirahat demi menjaga kondisi kesehatannya. Mbah mempunyai tiga anak; dua laki-laki dan satu perempuan. Om Yunus, Pak Haidar, dan Mbak Lisa. Dulu waktu saya masih duduk di bangku sekolah menengah atas, saya sangat sering mampir dan menikmati secangkir kopi di Warung Bik La ini. Waktu itu mbah masih 24 jam menjaga warung miliknya dan bergantian dengan suaminya. Akan tetapi semenjak suaminya meninggal beberapa tahun lalu, mbah selalu digantikan oleh anak-anaknya untuk menjaga warung. Biasanya pada pagi sampai sore hari Mbak Lisa yang menggantikan dan malam harinya adalah Pak Haidar. Warung Kopi Bik La buka dari pagi pukul 6 pagi sampai jam 11 malam, Kecuali pada malam minggu biasanya Warung Bik La buka sampai jam 2 malam tergantung ramainya pengunjung yang datang.

Mbak Lisa; Anak Perempuan Mbah
Mbak Lisa; Anak Perempuan Mbah © Syndi Nur Septian

Setelah memesan minuman saya langsung melihat-lihat tempat duduk yang kosong. Tempat duduk Warung kopi Bik La tidak seluas warung kopi atau tempat ngopi lainnya di Lumajang. Tempatnya sederhana dengan bertatakan meja dan kursi yang berukuran biasa-biasa saja. Tapi Warung kopi Bik La adalah salah satu warung kopi tradisional yang masih kuat bertahan sampai sekarang. Saat ini kota Lumajang sudah banyak tersedia tempat-tempat ngopi yang berkonsep cafe yang memiliki tempat yang luas, unik, dan asyik untuk dijadikan arena ber-selfie ria. Gempuran kafe dan kedai kopi di Lumajang, warung kopi Bik La masih tetap ramai pengunjung. Bahkan saat malam hari menuju dini hari warung kopi Bik La akan semakin ramai dipenuhi anak muda dan orang tua untuk menikmati secangkir kopi.

Warung Kopi Bik La adalah salah satu warung kopi legendaris di Lumajang. Warung kopi Bik La sudah ada berdiri lebih dari 40 tahun lamanya. Mbah Siti Romlah, nama lengkap beliau. Si empunya warung kopi ini sudah membuka warkop saat anak-anaknya masih kecil. Saat ini anak-anaknya sudah memberikan lima cucu kepada beliau. Warkop ini sudah banyak bertransformasi. Mulai berdiri saat masih beratap daun kelapa yang kering. Dinding yang masih terbuat dari gedek kayu. Saat ini atapnya sudah berganti dengan genteng dan dinding yang sudah menjadi dinding bata.

Mbah Siti Romlah; Pemilik Warung Kopi Bik La
Mbah Siti Romlah; Pemilik Warung Kopi Bik La. © Syndi Nur Septian

Tentu saja dari perjalanan waktu yang dilalui oleh Warung Kopi Bik La ini, Warung Kopi Bik La mengalami beberapa perubahan. Selain dari atap dan dinding yang sudah saya sebutkan tadi. Warung kopi Bik La sekarang sudah memiliki wifi dan juga beberapa menu sajian tambahan yang disediakan. Dulu warung kopi Bik La hanya menyediakan sajian minuman panas dan dingin. Tidak ada makanan yang tersedia. Jika memang ada orang yang memesan makanan itu pun hanyalah orang-orang terdekat dan tertentu saja yang akan dilayani. Mbah akan mengambil makanan dari masakan rumahnya sehari-hari.

Sekarang, sudah ada sajian menu makanan. Ada cilok dan gorengan yang melengkapi warung kopi Bik La. Jajanan cilok dan gorengan tersebut berada tepat di samping warung kopi Bik La. Tempat cilok dan gorengan yang melengkapi warung kopi Bik La adalah kepunyaan dari anak mbah sendiri, yaitu Pak Haidar. Pak Haidar biasa membuka cilok dan gorengannya pada saat sore hari. Maklum, pada pagi dan siang hari beliau harus menunaikan kewajibannya mengajar di salah satu sekolah menengah atas swasta yang ada di Lumajang. Tapi jangan kuatir. Jika perut lapar melanda pada siang hari, ada sajian nasi dan mie goreng sebagai makanan yang bisa dipesan.

Kini ada wifi di Warung Kopi Bik La
Kini ada wifi di Warung Kopi Bik La © Syndi Nur Septian
Beberapa produk rokok yang diperjualbelikan di Warung Kopi Bik La
Beberapa produk rokok yang diperjualbelikan di Warung Kopi Bik La. © Syndi Nur Septian

Saya sebenarnya rindu dengan kopi racikan mbah sendiri. Secangkir kopi yang takaran pahit dan manisnya tidak berlebihan. Tidak pahit juga tidak manis, dan masih ada butiran kasar yang muncul di permukaan kopi. Jadi kita harus bersabar untuk meminumnya. Menunggu ampas kopi itu turun ke bawah.. Sekarang mbah jarang meracik kopi seiring semakin jarang pula mbah menjaga warung. Faktor usia yang memang sangat mempengaruhi, tidak jarang ketika mbah sedang berjaga dan ada pengunjung yang memesan, mbah seringkali lupa apa pesanan pengunjungnya dan harus diingatkan beberapa kali.

Terlepas dari semua perubahan dan kerinduan saya kepada racikan kopi mbah. Ada beberapa hal yang tidak pernah berubah dari sebuah warung kopi sederhana bernama Warung Bik La ini, yaitu rasa kekeluargaan dan rasa persaudaraan yang terjalin di dalamnya. Saya menemukan keluarga baru di sini, keluarga baru yang sampai sekarang berkomunikasi dengan baik. Contohnya adalah Mas Nanang. Mas Nanang adalah seseorang yang saya kenal di warung kopi Bik La ini. Mas Nanang adalah pengunjung setia warung kopi Bik La. Beliau saat masih sekolah sampai sekarang sudah berkeluarga, masih setia menikmati secangkir kopi di Warung Kopi Bik La ini. Mas Nanang jarang berpindah-pindah tempat ngopi sehingga kami pun tak pusing ketika ingin mencarinya.

Meja dan Kursi Warung Kopi Bik La
Meja dan Kursi Warung Kopi Bik La © Syndi Nur Septian

Pada saat sedang berkumpul dan menikmati secangkir kopi bersama, teman-teman saya dan bahkan saya sendiri sering mencurahkan isi hati kepada Mas Nanang ketika sedang dilanda kegelisahan ataupun kegundahan. Entah itu tentang masalah percintaan, perkuliahan, dunia kerja, atau bahkan sampai ke masalah yang sangat pribadi. Mas Nanang pun dengan tenang dan sabar mendengarkan keluh kesah kami dan tidak lupa memberikan jalan keluar bahkan sampai membantu menyelesaikan permasalahan kami secara langsung, sudah seperti kakak kandung sendiri. Jadi ketika kami sudah berkumpul semeja, kami tidak pernah kehabisan topik pembahasan. Murahnya harga secangkir kopi di warung kopi Bik La 2000 – 2500 rupiah, semakin membuat kami betah berlama-lama untuk berbincang banyak di Warung Bik La ini.

Seperti siang waktu itu, Mas Nanang dan beberapa teman ternyata sudah berkumpul di salah satu tempat duduk di warung kopi Bik La. Tanpa berpikir panjang saya langsung bergabung dengan mereka sembari menikmati kopi racikan mbah.

Syndi Nur Septian

Penikmat Kopi dan Pengagum Senja