Warisan Leluhur dalam Tiwul Instan

Tiwul merupakan makanan pokok yang dulu dimakan sebagai pengganti nasi. Sebagai makanan khas masyarakat Jawa, Tiwul identik dikonsumsi masyarakat kecil. Meski tak bisa dibilang punah, belakangan tiwul makin jarang dijumpai, terutama sejak nasi menjadi kebutuhan pokok masyarakat Indonesia. Alhasil, tiwul kini mulai menjadi makanan yang asing di lidah. Padahal, makanan ini pernah berjaya pada masanya.

Perlu diketahui, tiwul dan temannya, gatot, merupakan makanan yang berbahan dasar ketela pohon. Makanan ini adalah warisan budaya leluhur, yang dulu, sebelum ada padi, ketela sebagai bahan dasar tiwul merupakan makanan pokok.

Beberapa produk tiwul instan
Beberapa produk tiwul instan | © Ni’matun Naharin

Ceritanya, siang itu saya dan teman-teman melakukan kunjungan ke rumah Siti Muniroh di Desa Demuk, Kecamatan Pucanglaban, Kabupaten Tulungagung. Kami menemuinya setelah sehari sebelumnya mengabari bahwa kami akan berkunjung. Kedatangan kami disambut senyum.

Muniroh, adalah seorang perempuan paruh baya pemilik industri rumahan yang memproduksi tiwul instan. Di rumahnya, saya melihat jejeran produk tiwulnya, baik yang sedang dikeringkan atau sudah dikemas rapi. Menurut Muniroh, sejak kecil ia sudah berkecimpung dalam proses pembuatan tiwul. Tentu untuk dikonsumsi. Itulah mengapa kemudian ia berinisiatif untuk melestarikan tiwul dengan memproduksi tiwul instan.

Cara pembuatan tiwul ini mula-mula dengan mengupas ketela pohoh kemudian dijemur. Hasilnya ini biasa disebut gaplek. Setelah dijemur, gaplek akan ditumbuk halus menjadi butiran-butiran kecil yang nantinya dimasak. Belakangan, seiring kemajuan teknologi, proses penumbukan mulai diganti dengan mesin.

Sedangkan gatot berbeda dengan tiwul. Ia berasal dari ketela pohon yang telah dikupas, kemudian dipotong-potong kecil dan dijemur. Proses penjemuran ini memakan waktu yang lama, sebab harus menunggu sampai gatot berwarna coklat kehitaman.

Seporsi Gatot
Seporsi Gatot | © Ni’matun Naharin

Makanan ini memang dibuat dengan proses panjang, di mana ketela pohon harus melalui proses penjemuran. Itu pun juga harus terkena sinar matahari. Sebab, kediaman Muniroh berada di kawasan dengan suhu cukup dingin. Kondisi iklim itu membuat proses pembuatan tiwul berlangsung lebih lama. Muniroh, oleh sebab itu tak setiap hari mengolah tiwul, hanya jika cuaca mendukung.

Peluang dari membuat tiwul instan ini kemudian menghasilkan ide untuk menambah jenis produk lainnya, yaitu ampok. Ampok merupakan nasi berbahan dasar jagung yang telah dihaluskan dengan mesin selip kemudian ditanak setengah matang sebelum kemudian dijemur. Tapi sebelum dijemur, ampok setengah matang harus diselip ulang. Usai proses penjemuran inilah ampok akan dibungkus dan lalu didistribusikan.

Usai mengenalkan produknya, Muniroh membuat kita ngiler karena nasi goreng tiwulnya. Yap, di sini selain belajar memproduksi tiwul, kita juga dikenalkan dengan kuliner tiwul.

Tiwul yang telah dimasak dan matang dipadu bumbu nasi goreng lengkap sayuran hijau semakin terlihat mantap saja. Saya jarang menemukan nasi goreng tiwul. Jangankan nasi goreng, tiwulnya saja saya jarang melihat. Selain itu, kami juga sempat diajak memasak tiwul bakar yang diisi dengan potongan gurami goreng. Hmmm nyam nyam mantap.

Bagaimana, kamu mau coba wisata kuliner satu ini?

Kamu berkunjung dan belajar langsung pembuatan kuliner legendaris ini. Setahu saya UD Barokah milik Siti Muniroh ini satu-satunya yang masih getol memproduksi makanan warisan leluhur ini. Kuy, kamu belum bisa didapuk jadi pakar kuliner kalo belum ngerasain tiwul, dan teman-temannya ini.

Ni'matun Naharin

Tukang ngalas yang suka kuliner dan belajar nulis.