Wabah Kedai Kopi di Bondowoso

Racikan kopi asli Bondowoso di Oma Milkbar
Racikan kopi asli Bondowoso di Oma Milkbar | © Friska Kalia

Sejak dideklarasikan sebagai Republik Kopi pada Mei 2016 lalu, suasana baru terasa di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur. Kabupaten kecil berpenduduk 750 ribu jiwa lebih ini, punya hal baru yang menarik perhatian masyarakat. Ya, Kopi menjadi sesuatu yang sudah lama dikenal namun baru belakangan menjadi tren di Bondowoso.

Diakui atau tidak, karena tidak menjadi daerah transit membuat Bondowoso kurang dikenal. Untuk menuju Kabupaten ini dibutuhkan waktu sekitar 5 jam dari Kota Surabaya. Bondowoso sendiri diapit Kabupaten Situbondo dan Jember.

Kopi, membawa tren baru di Kabupaten kecil ini. Jika dulu orang mengenal Bondowoso dari Gunung Ijen atau sebagai penghasil tape, kini Bondowoso juga dikenal sebagai Republik Kopi. Mulai banyak kedai-kedai kopi yang bermunculan di Bondowoso. Semacam virus yang terus menular hingga menjadi wabah.

Dimulai dari kedai-kedai milik petani yang letaknya di Kecamatan Sumber Wringin. Kecamatan ini menjadi salah satu sentra penghasil kopi terbaik di Bondowoso. Menyusul kemudian kedai-kedai di kawasan kota bahkan hingga ke pinggiran yang mulai merebak.

Menu utama Dako Raja, Ice Coffee Latte
Menu utama Dako Raja, Ice Coffee Latte. | © Friska Kalia
Seorang pelanggan memesan kopi di Cafe N Distro Bondowoso
Seorang pelanggan memesan kopi di Cafe N Distro Bondowoso | © Friska Kalia

Bukan hal yang aneh memang jika kopi menjadi tren baru di Bondowoso. Petani kopi di Bondowoso sudah mampu menghasilkan kopi berkualitas dan bercita rasa tinggi. Sejak 2011, kopi rakyat asal Bondowoso sudah di ekspor ke berbagai negara.

Sedikit mengulas, dulunya kopi rakyat tak diolah dengan baik. Namun sejak 2011, petani kopi diberdayakan dan mengolah kopi sesuai dengan standar yang telah dipakai oleh petani kopi dari daerah lain seperti Aceh, Toraja dan Flores. Hasilnya di luar dugaan, produksi meningkat, kualitas juga membaik dan tentu saja cita rasa yang sudah memenuhi standar kopi specialty. Hasilnya, diraihlah Sertifikat Indikasi Geografis dari Kemenkum HAM pada 2013 silam.

Tren ngopi sendiri ini mulai diperkenalkan kawula muda di Bondowoso yang diawali dengan membuka kedai yang menyajikan kopi-kopi pilihan. Memang tak hanya kopi Bondowoso saja, melainkan kopi-kopi lain dari berbagai daerah di Indonesia.

Salah satunya adalah Oma Milkbar. Kedai milik pasangan suami istri muda Teguh Sifuyung Fandy dan Resita Dwi A’yuni ini memulai usaha sejak 2015 lalu. Konsep awal mereka adalah menyajikan olahan susu. Namun tren kopi yang mulai mewabah di Bondowoso memotivasi mereka untuk menghadirkan kopi fresh di kedai yang juga menjadi hunian mereka.

“Awalnya hanya olahan susu, tapi kami juga merasa perlu sebagai pemuda Bondowoso mempromosikan kopi khas Bondowoso. Jadilah kami suguhkan juga kopi asli Bondowoso ditambah beberapa pilihan kopi dari beberapa daerah yang sudah terkenal seperti Sidikalang, Gayo Aceh dan Flores,” ujar Teguh.

Menurut Teguh, sejatinya kopi Bondowoso sudah mendapatkan tempat dan apresiasi dari penikmat kopi nusantara. Terbukti dari banyaknya pembeli yang rela membayar mahal untuk mencicipi kopi yang tumbuh di lereng Gunung Ijen dan Raung ini. Hanya saja, warga Bondowoso diakuinya belum terlalu kenal dengan kopi khas asal daerahnya sendiri.

“Kami punya keinginan mengenalkan kopi lokal kepada masyarakat di Bondowoso. Memang sulit mengedukasi warga, tapi kalau bukan kita yang mencintai kopi kita sendiri, siapa lagi,” imbuh Teguh.

Beberapa kopi asli Nusantara yang disajikan di kedai kopi Oma Milkbar, Bondowoso.
Beberapa kopi asli Nusantara yang disajikan di kedai kopi Oma Milkbar, Bondowoso. | © Friska Kalia
Meracik Kopi
Meracik Kopi | © Friska Kalia

Ia bersama istrinya kerap berhadapan dengan pelanggan yang sangat awam dengan kopi. Terkadang tak semua mau disuguhi kopi arabika khas Bondowoso. Asam, menurut beberapa pelanggan awam masih aneh dilidah mereka. Atau bahkan melekatnya stigma dimana kopi hanya suguhan untuk kaum lelaki dan kaum usia menengah ke atas.

Kedai kopi lain di kawasan kota adalah Cafe N Distro. Mengusung konsep kafe yang juga menjajakan sejumlah souvenir khas kota Bondowoso, kedai ini mulai menarik perhatian warga. Meski lagi-lagi tak semua pelanggan memesan kopi segar, namun desain interior yang dipenuhi ornamen kopi diakui menjadi daya tarik kedai ini.

Setidaknya ada puluhan kedai yang bermunculan di Bondowoso pasca Deklarasi Republik Kopi. Mayoritas dari kedai tersebut tentu saja menyajikan kopi arabika khas Bondowoso selain dimeriahkan pula dengan kopi nusantara lainnya.

Beberapa di antaranya adalah Kedaikoe, Mount Coffee, Surya Coffee Shop, Modster Coffee, Dapur Kopi (Dako) Raja, Kedai Nuri, Nine Coffee, Blackdose Kopitiam, Oma Milkbar, Cafe N Distro, Jojo Coffee House dan Nurtanio Coffee.

Tak hanya kedai yang mewabah, sejumlah komunitas pecinta dan penikmat kopi juga bermunculan. Para penyeduh atau lebih keren disebut barista dan roastery atau tukang sangrai kopi, juga mulai unjuk kebolehan meracik dan menggoreng biji-biji kopi. Tak hanya di kedai, mereka bergerilya masuk ke dalam berbagai komunitas untuk mengenalkan kopi Bondowoso.

Tentu saja ini menjadi angin segar untuk Bondowoso yang sedang berjuang keluar dari status Kabupaten tertinggal. Tak sedikit yang berharap, agar kopi mampu membawa Bondowoso dari masa gelap menuju terang.

Jadi, tertarik berkunjung ke Republik Kopi?

Friska Kalia

Tukang Nulis, Ngopi dan Tidur.