Us Tiarsa dan Memoar tentang Bandung

Memoar Us Tiarsa dalam bahasa Sunda
Memoar Us Tiarsa dalam bahasa Sunda

Ketika pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) tengah berkecamuk di Jawa Barat, banyak penduduk yang mengungsi ke tempat yang lebih aman, salah satunya ke Kota Bandung. Mereka yang mengungsi ke Kota Bandung itu mayoritas datang dari Tasikmalaya terutama dari Ciawi dan Garut. Bahkan ada juga yang datang dari daerah-daerah dekat seperti Ciparay, Manggahang, dan Dayeuhkolot.

Tahun 1952 seorang bocah melihat banyak tamu datang ke rumah orang tuanya. Ia bertanya kepada bapaknya ihwal siapa tamu-tamu tersebut. Bapaknya menjelaskan bahwa mereka adalah para pengungsi yang menghindari gerombolan DI/TII. Us Tiarsa nama anak tersebut. Ia baru kelas tiga sekolah rakyat waktu itu, tapi sudah senang membaca koran Pikiran Rakyat dan Sipatahoenan.

Kebiasaan Us membaca dua koran itu mendorongnya untuk menulis saat satu peristiwa kedatangan para rombongan ke rumahnya. Ia lalu mengirimkan tulisannya ke redaksi Pikiran Rakyat tanpa memberitahu orang tuanya.

Selang tiga hari pengiriman tulisan itu, Us tengah bermain kelereng ketika dua wartawan mendatangi rumah orang tuanya. Mereka, yang datang, menanyakan nama Us Tiarsa sambil memegang kartu pos. Dan tentu saja mereka kaget saat tahu bahwa yang menulis adalah seorang anak kecil.

Setelah menyampaikan terimakasih karena telah diberi kabar ihwal para pengungsi, sang wartawan berkata kepada ayah Us Tiarsa bahwa bocah tersebut mempunyai bakat untuk jadi wartawan. Kisah tersebut disampaikan Us Tiarsa dalam sebuah memoar berbahasa Sunda berjudul Basa Bandung Halimunan.

Us Tiarsa lahir pada 1 April 1943 di Bandung. Ia pernah menjadi redaktur di surat kabar mingguan Kujang, majalah Sunda Manglé, Gondéwa, Koran Sunda, dan Galura. Buku memoarnya yang pertama kali terbit pada tahun 2001 adalah kumpulan tulisannya di tabloid Galura.

Jika selama ini pembaca—terutama yang berminat kepada sejarah Bandung—hanya mengenal Haryoto Kunto lewat buku Semerbak Bunga di Bandung Raya, Wajah Bandoeng Tempo Doeloe, Ramadan di Priangan, dll, memoar Us Tiarsa kiranya dapat memperkaya wawasan pembaca tentang Bandung, khususnya periode tahun 1950 sampai 1960-an akhir.

Pengalaman seseorang dengan sebuah kota, yang kemudian menggedor dan lekat di batinnya, tak jarang disajikan dengan narasi yang kelabu. Bahkan Orhan Pamuk, peraih hadiah Nobel Sastra tahun 2006 yang menulis memoar bertajuk Istanbul, menggambarkan sebuah kemurungan (hüzün) massal pasca Kesultanan Turki Usmani runtuh.

“Setelah Kesultanan Usmani ambruk, dunia nyaris lupa bahwa Istanbul ada. Kota tempatku dilahirkan ini lebih miskin, lebih kumuh, dan lebih terasing ketimbang sebelumnya selama sejarahnya sepanjang dua ribu tahun. Istanbul selalu merupakan kota penuh reruntuhan dan kemurungan masa akhir-kesultanan. Aku menghabiskan hidup memerangi kemurungan ini atau (seperti semua penduduk Istanbul) menjadikannya kemurunganku,” tulis Orhan Pamuk.

Meraih penghargaan Sastra Rancage pada 2011, sebuah penghargaan lokal lewat kumpulan cerpen berjudul Halis Pasir, Us Tiarsa dalam memoarnya justru berkisah tentang masa kecilnya dengan penuh kegembiraan, atau setidaknya mengundang senyum para pembaca. Ia menulis kenangan menelusuri sungai Cikapundung, bermain di stasiun kereta api, menaiki kapal bekas perang dunia kedua, dikejar orang gila, menikmati jajanan, dll.

“Mun tiluan, nu saurang jadi pilot, nu saurang purah ngabekaskeun bedil mesin, nu saurang deui tukang ngaragragkeun bom. Nu jadi pilot teu eureun ngahéang, niron sora kapal bari dangdak-déngdék ka ditu ka dieu. Nu ngabekaskeun bedil mesin teu eureun dédérédédan. Ari bomber mah, susuitan terus jejeleguran bari mengpeukan ceuli sorangan,” tulisnya.

(Kalau main bertiga, seorang jadi pilot, seorang bertugas menembakkan senapan mesin, dan seorang lagi bertugas menjatuhkan bom. Yang menjadi pilot tidak berhenti menirukan suara pesawat terbang sambil memiringkan badan ke sana ke mari. Yang menembakkan senapan mesin tak berhenti menirukan suara bedil. Dan yang menjadi bomber terus bersuit dan mengeluarkan suara dentum sambil menutup kupingnya sendiri)

Anak-anak itu mengalami masa perang dunia kedua yang menyebabkan mereka harus mengungsi, diintai bom, terancam pelor nyasar, dan rupa-rupa marabahaya lainnya. Namun ketika mendapati bekas pesawat tempur di masa kemerdekaan, alih-alih trauma mereka justru merayakannya dengan riang.

Dalam fragmen yang berbeda, Us Tiarsa menuliskan keceriaan lain khas anak-anak. Kisahnya barangkali sepele, yaitu tentang orang gila yang berkeliaran di kota. Dalam dunia anak-anak, orang-orang kurang waras hadir sebagai sosok ambigu, menakutkan namun kerap dijadikan sebagai objek kenakalan. Begini Us Tiarsa bercerita:

“Si Nurmi sok ujug-ujug selenteng wé ngudag. Budak nu teu kaburu lumpat, kerewek ditéwak, jeletot-jeletot, diciwitan. Teu ieuh kapok barudak téh. Sawaréh noélan ti tukang, sawaréh deui ngabaregégan ti hareupeunana. Beretek lalumpatan bari patingirihil.”

(Si Nurmi—nama orang gila, suka tiba-tiba mengejar. Anak yang tidak keburu berlari ditangkap dan dicubit olehnya. Tapi anak-anak tak kapok. Sebagian nyolek Nurmi dari belakang, sebagian lagi menggodanya dari depan. Lalu anak-anak berlarian sambil tertawa)

Us Tiarsa yang menjalani masa kecil di tahun yang tak terlalu jauh dari masa revolusi kemerdekaan, barangkali bisa saja menulis memoar tentang masa-masa getir zaman perang. Namun ia memilih untuk mencatat hal lain dengan gaya menulis yang jauh dari dramatis. Baginya memoar tentu hayat dalam ruang personal, tapi dalam konteks kota, cerita-cerita kecil seperti yang ditulis olehnya berdasarkan pengalaman, sedikit banyak adalah dokumen yang menjadikan kota tersebut tak cepat tergerus penyakit lupa.

Ia sadar bahwa waktu tak mungkin berjalan mundur. Dengan rendah hati ia menyebut memoarnya ini sekadar cermin dan tempat untuk menengok kerinduan.

“Kaayaan sarupa kitu téh ngahaja ditulis sakadar pikeun eunteung waé. Itung-itung mulangkeun panineungan. Malah mandar aya manpaatna pikeun warga Bandung kiwari. Tangtu wé pamohalan ari Bandung kudu mulang deui ka jaman harita onaman,” tulisnya.

(Keadaan seperti itu sengaja ditulis sekadar untuk cermin. Sekadar mengembalikan kerinduan. Mudah-mudahan bermanfaat untuk warga Bandung sekarang. Tentu mustahil jika Bandung harus kembali ke masa lalu).

Irfan Teguh Pribadi

Menulis di beberapa media cetak dan daring. Bergiat di Komunitas Aleut.