Untung ada Martabak Bro

Martabak Bro
Martabak Bro © Anggara Gita Arwandata

Hari itu hujan cukup deras. Sedari pagi. Setelah menuruti keinginan Vina mengelilingi deretan ruko Perumahan Taman Galaxy lagi dan lagi, akhirnya ia menyuruhku menghentikan mobil. Wajahnya, yang hanya bisa kulihat dari spion karena tidak diperbolehkan ikut turun apalagi bergabung bersama mereka, terlihat gugup sekali. Harus sebegitunya kah bertemu dengan pacar sendiri? Gumamku saat itu.

Perlahan, hujan mulai reda. Bosan dan agak lapar menggerakkan keberanianku keluar dari mobil. Toh Henri jugas tidak tahu wajahku seperti apa. Kayaknya sih.

Ada banyak penjual makanan di dekat tempat aku memarkir mobil, tapi aku sedang tidak ingin makan berat. Kulihat lagi sekeliling, di tenda-tenda yang menyerupai foodcourt, ada penjual mie ayam bangka, dimsum, bakso, yang sebetulnya sangat menggoda dan tidak terlalu berat, tapi entah kenapa aku malah milih martabak. Ada satu penjual martabak gerobakan yang sudah lama mangkal di situ, dan aku pernah membelinya. Rasanya lumayan.

Tapi selain makanan, aku juga butuh tempat untuk menunggu Vina, jadi akhirnya kupilih Martabak Bro. Lucunya, walaupun Martabak Bro ini letaknya tidak jauh dari rumahku, tapi selama ini aku tidak tahu. Dan bahkan semestinya, ketika sedang melewati daerah situ, aku bisa melihat papan logo Martabak Bro dari jauh karena diletakkan cukup tinggi. Entahlah, sepertinya aku terlalu fokus menghadap ke depan ketika menyetir.

Malam dua hari yang lalu, Vina berpanjang lebar menceritakan rencananya bertemu Henri, kekasihnya yang kebetulan sedang pulang dari Taiwan karena libur semester. Hampir setengah jam berbuih-buih di telepon, tapi Vina malah sama sekali tidak menceritakan hal-hal yang justru paling ingin aku ketahui, seperti kenal di mana, berapa lama pacaran, dan apa yang terjadi pada hubungan mereka akhir-akhir ini. Inti yang hendak ia sampaikan sudah dapat ditebak di kalimat-kalimat awal obrolan kami,

“Aku mau menyelesaikan semuanya besok, seperti yang udah bilang ke kamu pas kita ngopi di Rumah Kopi Nusantara tempo lalu. Duh, semoga tidak gugup deh. Udah hampir dua tahun gak ketemu, grogi juga jadinya. Kamu temenin aku, ya.”

Terpaksa kukorbankan jadwal mengantar balon daganganku saat itu. Berhubung sudah tergila-gila, peluang sekecil apapun tetap akan kucoba. Ku iyakan saja permintaan Vina, dengan konsekuensi satu pelangganku marah karena pesanannya tidak diantar tepat waktu. Baru tiba jam 9 malam. Molor 4 jam dari yang kujanjikan.

Berjam-jam menunggu Vina, hariku benar-benar diselematkan oleh Martabak Bro, lebih tepatnya oleh Mas Ilham, ownernya yang kebetulan sedang berada di situ. Bisa dibilang malah menjadi berkah tersendiri, karna andai saja Vina tidak memintaku menemaninya, belum tentu aku punya kesempatan ini. Kesempatan belajar banyak tentang bisnis dan mendengarkan dari orangnya langsung, sekaligus menemukan martabak super enak yang letaknya tidak jauh dari rumah. Oh ya, ketika mengunjungi sebuah tempat, dan sendirian, aku tak canggung menghampiri siapapun yang aku temui untuk diajak bicara. Paling gampang sih dengan cara klasik, meminjam korek, walaupun setelahnya aku merasa wagu karena bukan perokok. Tak jarang orang melihatku aneh, tetapi makin ke sini aku makin bisa menebak orang mana yang asyik diajak ngobrol walau baru kali pertama bertemu.

Resep dari ahli per-martabak-an

Setelah menaruh sajadah ke mobil, Mas Ilham kembali menghampiri meja tempat kami duduk. Dia pergi sebentar untuk Sholat Maghrib ketika saya bilang hendak memesan Martabak Red Velvet. Sebetulnya ia menyarankan Martabak Telur Cheese karena, menurutnya, martabak telur sudah dikenal sejak lama, sehingga tidak sulit bagi masyrakat untuk membandingkan rasa martabak telur yang enak dan yang tidak.

Mas Ilham ingin saya membandingkan martabak telur di Martabak Bro dengan martabak telur di tempat lain. Tapi martabak telur yang ini sudah dikombinasikan dengan keju. Benar saja, uedan, lumeran keju yang menyelinap di sela-sela martabak, dengan cocolan sambal yang, kata Mas Ilham, resepnya sama persis dengan sambal di resto martabak papan atas di Jakarta, membikin mata saya terpejam beberapa saat saking enaknya. Jadi ternyata, salah seorang juru masak Martabak Bro adalah teman Mas Ilham yang dulunya bekerja di resto martabak terbesar di Jakarta & Bandung. You know that lah ya, resto yang aku maksud.

Karena punya kenalan yang sangat ahli dalam per-martabak-an, plus lidah orang Indonesia yang sudah tidak asing lagi dengan martabak, Mas Ilham merasa mantab untuk membuka Martabak Bro. “Enak jualan martabak, tidak perlu lagi ada pengenalan. Orang-orang udah tau martabak telur tuh yang kaya gimana, martabak manis kaya gimana. Terkecuali untuk yang martabak kekinian, ya, kita tetap butuh ngasih sample ke orang-orang. Biar pada tau, martabak kita rasanya juara”.

Matabak Telur Cheese
Matabak Telur Cheese © Anggara Gita Arwandata
Martabak Red Velvet
Martabak Red Velvet © Anggara Gita Arwandata

Sebelum berbisnis martabak, Mas Ilham bekerja di sebuah perusahaan retail terkemuka di Jakarta, yang cabangnya sudah menyebar ke seluruh Indonesia. Ia resmi mengundurkan diri akhir tahun lalu agar bisa fokus ke bisnis pribadinya ini. Berbekal pengalamannya itulah ia kemudian berani membuka banyak cabang dalam waktu kurang dari satu tahun sejak berdirinya Martabak Bro yang pertama, di Perumahan Taman Galaxy.

Kini Martabak Bro bisa ditemui juga di Jatibening (Bekasi), Sunter & Kelapa Gading (Jakarta Utara), Tendean (Jakarta Selatan), dan Kedoya (Jakarta Barat). Mas Ilham mengaku masih mengincar beberapa tempat lagi, terutama daerah Tebet (Jakarta Selatan). Kesemuanya itu dikelolanya sendiri, dalam artian belum di-franchise. Saya sebutkan belum, karena ia punya rencana ke depannya akan demikian. Mungkin tahun 2017.

Selain memiliki satu orang yang bertanggung jawab mengurusi dapur, Mas Ilham juga menunjuk satu orang yang secara khusus mengurusi persediaan dan distribusi bahan-bahan, dari adonan sampai kotak pembungkus martabak, ke cabang-cabang. Sisanya adalah anak-anak muda yang bekerja rangkap sebagai jurus masak, kasir, sekaligus melayani pembeli yang makan di tempat. Sebagian besar memang sebelumnya adalah penjual martabak gerobakan atau bekerja sebagai juru masak martabak di tempat lain, sehingga sudah luwes. Tetapi ada juga yang masih baru. Yang masih baru ini lebih banyak melihat dan mendengar ketika temannya memasak, lalu nanti ketika sudah jadi, dia yang akan mengemasnya ke kotak atau menghidangkannya ke meja pelanggan.

Ada sekitar 6 meja dengan total 30 bangku di Martabak Bro yang di Perumahan Taman Galaxy. Saat akhir pekan, semua bangku terisi bahkan antre, tapi di hari-hari biasa, terutama di jam kerja, lebih banyak abang GOJEK yang datang silih berganti mengambil pesanan. Di cabang lainnya, luas dan kapasitasnya tempatnya tidak sama. Bahkan ada yang berbagi tempat duduk dengan pelanggan makanan lainnya karena berada di sebuah foodcourt.

Saya sempat berpikir, membangun banyak cabang dalam waktu singkat adalah langkah yang tergesa-gesa. Penjual martabak, baik yang gerobakan maupun yang berbentuk restoran, tidak bisa disebut jarang lagi. Sudah menjamur. Menurut hemat saya, kenapa tidak dibikin satu saja dulu, nanti setelah dikenal orang, baru bikin di tempat yang lain. Tapi begitu mendengarkan pemaparan Mas Ilham, yang paham betul proses bisnis seperti ini karena sebelumnya sudah malang melintang selama 10 tahun, saya malah jadi ingin meniru langkah bisnis yang ia lakukan.

Dalam mengelola Martabak Bro, Mas Ilham diuntungkan dengan bekal pengalaman kerjanya selama ini. Usut punya usut, awalnya Mas Ilham ingin membuka restoran ayam goreng. Menurutnya, pengalaman kerjanya terdahulu bisa berguna dan cocok untuk bisnis apapun, tetapi setelah melihat pasar dan teringat punya teman yang ahli di bidang martabak, akhirnya ia lebih memilih berbinis martabak.

Baru selesai menikmati dua potong Martabak Red Velvet yang juga merupakan salah satu menu andalan Martabak Bro, aku langsung tergoda mencoba Martabak Telur Cheese, namun untuk dibawa pulang saja. Untuk Vina. Martabak di Martabak Bro porsinya cukup besar, baru makan dua potong saja rasanya kenyang sekali.

Sambil menunggu pesanan jadi, saya mencari “mangsa” lainnya. Kali ini supir GOJEK yang sedari tadi kulihat sudah mondar-mandir sebanyak tiga kali. Setiap harinya, dia dan beberapa teman yang lain menjadikan Martabak Bro ini sebagai “pangkalan” karena saking banyaknya orang-orang yang tinggal di daerah sini memesan Martabak Bro via GOJEK. Terlebih saat hujan dan malam minggu, jumlah pesanan meningkat.

Martabak Bro (Taman Galaxy)
Martabak Bro (Taman Galaxy) © Anggara Gita Arwandata

Lokasi Martabak Bro ada di pusat jajanan di Perumahan Taman Galaxy – Bekasi, yang mana pengunjungnya tidak hanya dari orang-orang yang rumahnya di sekitar situ, tetapi juga dari perumahan-perumahan sekitar. Pengunjungnya bukan cuma orang-orang yang kebetulan lewat kemudian mampir, tidak jarang pula ada yang memang sengaja datang untuk makan dan nongkrong karena memang di sini sudah terkenal sebagai pusat jajanan. Itulah kenapa Vina dan Henri janjian di sekitar sini.

Setiap malamnya, pusat jajanan di Perumahan Taman galaxy ini selalu ramai dipenuhi oleh orang-orang yang pulang kerja atau yang malas makan di rumah, lebih-lebih saat malam minggu. Tidak cuma cafe, restoran, atau penjual cemilan, ada pula warnet, penjual DVD, distro, toko elektronik, sampai penjual perlengkapan pesta. Ramai dan lengkap sekali. Dan kehadiran Martabak Bro menambah variasi dan pillihan orang-orang yang berkunjung ke situ, khususnya yang ingin makan atau mencari martabak.

Aku coba iseng membuka Instagram Martabak Bro dan googling, ternyata sudah cukup banyak yang tahu. Aku saja yang kudet. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang tinggal atau bekerja di sekitar cabang Martabak Bro. Faktor ini juga yang mempengaruhi jam operasi Martabak Bro. Untuk cabang yang di Kelapa Gading, Martabak Bro buka sedari siang karena mereka mengincar pembeli dari pekerja-pekerja di perkantoran sekitar situ. Berbeda halnya dengan yang di Perumahan Taman Galaxy dan cabang lainnya yang buka menjelang sore laiknya pedagang martabak gerobakan.

Sebagian besar dari mereka menemukan Martabak Bro ketika sedang mencari penjual martabak kekinian yang dekat dari lokasi mereka. Oh ya, ngomong-ngomong tentang martabak kekinian, saya sangat penasaran sama Martabak Pizza. Tampilannya itu lho, menggoda sekali. Bikin liur saya menetes. Ada satu pelanggan yang memesan Martabak Pizza, dan dari awal dia memesan sampai martabak itu jadi, dia tidak beranjak sedikitpun dari tempatnya berdiri. Tepat di depan tempat si juru masak meracik toping martabak. Beberapak kali kulihat dia menjepret foto, lalu menunggahnya ke Path, kemudian mengirimkan foto tersebut ke temannya via Whatsapp. Sepertinya sudah tidak sabar sekali.

“Gara-gara ada GOJEK, saya jadinya gak perlu buka jasa delivery, mas,” sahut Mas Ilham agak kencang sambil beranjak pergi melanjutkan aktivitas yang lain. Saya setuju, GOJEK memang sangat membantu dalam hal yang seperti ini. Para pengusaha restoran jadinya bisa memusatkan karyawannya untuk fokus di toko, ketimbang harus mondar-mandir mengantar pesanan. Lagian berbagi rezeki juga kan.

Bila kamu mengalami situasi seperti saya ini, sedang di luar, menunggu orang tanpa kepastian, kelaparan pula, tapi enggan makan berat, ya Martabak Bro ini sudah pas sekali. Tapi jarang juga sih orang yang bernasib seperti saya. Fiuh. Atau kalau sedang lapar tapi malas ke luar, kamu tinggal memesannya via GOJEK. Berhubung Martabak Bro kini sudah tersedia di GO-FOOD, jadi kamu dan si abang GOJEK tidak perlu repot-repot lagi mencari di map letak cabang Martabak Bro yang terdekat dari lokasimu. Namun bila kamu dan pacar atau sahabat ingin makan di tempatnya langsung, menurut saya malah lebih enak lagi. Martabak Bro memberi kita pilihan bagi yang ingin kongkow-kongkow tapi malas makan makanan berat. Ini saya malah tidak terasa berjam-jam duduk di sini, ngobrol, dan sekarang martabak tinggal tersisa beberapa potong lagi.

Dua jam lebih ngobrol dengan Mas Ilham, dering handphone dan tanda chat masuk berulang kali terdengar. Dia sedang sibuk sekali sepertinya. Selain bisnis martabak, Mas Ilham juga menggeluti bisnis properti. Kantornya di Jatibening, yang mana di malam harinya, saat kantor sudah tutup, sebagian tempatnya dijadikan tempat berjualan Martabak Bro. Di tengah jadwalnya yang cukup padat, sesekali ia masih menyempatkan diri berkunjung ke cabang-cabang, atau setidaknya mengirimkan orang lain untuk memesankan martabak untuknya.

Ia rutin mengecek memastikan rasa martabaknya tetap terjaga. “Saya orang hobi makan, Mas. Beda dikit aja, langsung tau,” ujarnya sambil terkekeh-kekeh. Dia sendiri juga yang mengoperasikan seluruh akun media sosial Martabak Bro. Dia berujar suatu hari pernah ada yang mengeluh di Instagram bahwa cabangnya yang di Tendean ditelepon berkali-kali namun tidak diangkat. Lalu dia langsung mengubungi karyawannya yang berada di sana untuk menindaklanjuti. Sejak itu dia merasa bahwa akses ke sosial media sebaiknya dia sendiri saja yang mengoperasikannya.

“Jaman udah canggih, semuanya sudah bisa dipantau by system. Selain media sosial, saya juga bisa mengecek langsung orderan, income, dan stok barang via aplikasi di tab. Ya, walaupun tidak bisa sama persis karena ini kan makanan. Takarannya kadang bisa kebanyakan, kadang bisa kedikitan walau tidak signifikan. Tapi yang jelas semuanya tetap terpantau dan dapat dicek. Kalau di pekerjaan saya yang dulu, saya ngurusi retail sparepart otomotif, dan itu jauh lebih mudah karena hitungannya per unit,” ujarnya sebelum pamit pulang.

Semua cabang Martabak Bro dilengkapi CCTV dan tablet yang berfungsi untuk mencatat pesanan, menghitung total harga setiap pembelian, sampai stok bahan. Dan semuanya ini sudah terintegrasi sehingga Mas Ilham bisa memantaunya dari kantor atau rumah.

Cocolan sambal yang bikin ketagihan
Cocolan sambal yang bikin ketagihan © Anggara Gita Arwandata
Martabak Pizza yang menggoda mata
Martabak Pizza yang menggoda mata © Anggara Gita Arwandata

Sepotong Martabak Red Velvet kucomot lagi sambil menunggu kabar dari Vina. Sesekali aku keliling melihat proses memasak martabak. Oreo digerus tidak terlalu halus, lalu ditaburi keju, susu, ahhh, gak perlu dibikin martabak, digadoin aja juga enak nih mah. “Eit, jangan salah, mas. Salah-salah taro, rasanya ambyar.” Ternyata salah seorang yang sedang memasak mendengarkan ucapanku.

Martabak Bro menyediakan total 28 menu pilihan. Itu belum termasuk dari setiap jenis yang memiliki ukurannya: besar dan kecil. Tentu dengan harga yang berbeda. Martabak Bro dihargai mulai Rp25 ribu sampai Rp125 ribu. Untuk harga yang terakhir itu khusus untuk menu Martabak Pizza. Cukup mahal memang. Tapi dengan melihat ulah salah satu pembeli Martabak Pizza—yang dengan penuh penantian melihat olahan menu pesanannya—tadi, rasanya tak penasaran harga itu untuk resep makanan yang bisa memanjakan lidah.

Vina mengabariku, sebentar lagi selesai, katanya. Mereka pergi ke sebuah mall yang tidak jauh dari sini, nonton The Revenant, kemudian makan nasi campur. Selama pertemuan yang terbilang singkat itu Vina cerewet sekali. Dia sendiri terkejut menemukan dirinya secerewet itu. Mungkin saja gugup, atau mungkin saja saking bahagianya. Sedangkan Henri, seperti biasanya, kalem tidak banyak bicara. Dia lebih suka menatap Vina dalam-dalam seakan-akan sedang membaca buku favoritnya.

Malam sudah pukul 7, pelanggan balonku pasti sudah mengasah-asah pisau di rumahnya dan siap menikamku. Aku sih sudah menyiapkan berbagai alasan, tapi masalahnya aku tak mengabarinya lagi sejak tadi sore. Aku harus segera pergi sekarang.

Panggilan teleponku yang kali ke lima tidak juga diangkat oleh Vina. Setelah berpikir masak-masak, kukirim chat menjelaskan bahwa aku harus mengantar balon dan terpaksa tidak bisa menunggunya. Pada akhir chat kubilang juga kalau ada apa-apa langsung telepon saja. Handphone aktif 24 jam.

“Sejujurnya, aku sedang patah hati dan jatuh cinta di saat bersamaan. Tapi dalam cinta, seperti katamu, tak pernah ada alasan yang benar-benar kuat, kan? Gapapa, kamu ga usah tunggu aku. Aku bisa pulang sendiri. Terima kasih ya.” Tak sampai lima menit setelah chatku terkirim, Vina malah menjawab. Aku tak mau lihat handpone lagi dan segera meluncur ke rumah pelanggan.

“Mas, ini martabaknya jangan ketinggalan,” salah seorang pelayan memanggilku. Duh, hampir saja.

Anggara Gita Arwandata

Perakit balon di @nf.nellafantasia dan perajut kata di @kedaikataid.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405