Umar dan Suswati;

Dari Pelarian ke Pelarian
Umar dan Suswati

Lima malam jelang penanggalan 2012 ditinggalkan. Adzan Isya’ baru saja berkumandang. Guyuran hujan yang datang di sore tadi membuat beberapa sudut tempat ini masih tergenang air. Suasana masih lengang di sini. Di Alun-alun Jember.

Sekelompok remaja pengendara vespa yang tampak kelelahan lantas memanfaatkan alun-alun untuk beristirahat. Ada yang menyandarkan punggungnya di pagar Kantor Pemerintahan Kabupaten Jember. Beberapa yang lain merebahkan diri di trotoar jalan. Berpasang suami istri membawa anaknya yang masih kecil berdatangan di alun-alun.

Seorang ibu dengan membawa baki plastik berwarna biru mendatangi kelompok demi kelompok orang yang berada di alun-alun. Dia menawari mereka kopi. Setelah sedikit berbincang-bincang ibu berkerudung putih dengan hiasan warna coklat itu lantas meninggalkan sekelompok remaja tadi. Ibu itu membawa baki.

Perempuan pembawa baki itu berjalan sekitar 50 meter, tepatnya di Jalan Kartini, salah satu sisi Alun-alun Jember. Di bahu trotoar ia meninggalkan termos air panas dan belasan sachet kopi instan dagangannya, tanpa ada yang menjaga. Ada motor Suzuki Astrea dan dua helm di atasnya. Di sanalah ia meracik empat gelas pesanan kopi.

* * *

Meracik kopi

Suswati (44 tahun), nama perempuan pembawa baki itu. Ia tak sendirian. Ia berdagang kopi keliling bersama suaminya, Umar Basyari (46 tahun). Suami-istri ini dua dari puluhan orang yang menjual kopi dengan cara menjajakannya berkeliling di Alun-alun Jember.

Sang suami juga berkeliling alun-alun untuk menawarkan kopi. Baki seng berwarna kuning yang bermotif kembang dibawanya. Baki itu terlihat retak. Terlihat kawat penyambung yang melapisinya.

Umar belum berhasil mendapatkan pemesan kopi. Dia kembali ke ‘pos’. Dia letakkan bakinya. Malam itu ia sudah berjanji akan menjemput dua anaknya, Arif Kurniawan dan Aldi Firmansyah. Ia memacu motornya. Sekitar 20 menit kemudian ia datang dengan membonceng tiga bocah. Dua anak kandung dan satu keponakannya. Di hari-hari sekolah mereka tidak pernah ikut ke alun-alun. “Besok liburan, anak-anak mau bermain di alun-alun,” ujarnya. Tiga bocah tanpa menunggu perintah sudah langsung berlari menuju alun-alun yang mulai ramai.

Pasangan suami-istri ini telah berdagang kopi keliling sekitar setahun yang lalu. “Sebagai pelarian,” kata Umar, singkat. Ia sempat bekerja sebagai penjual LKS (Lembar Kerja Siswa) di sekolah-sekolah. Namun, lantaran penjualan buku diambil alih oleh Dinas Pendidikan, maka pekerjaan itu tak lagi bisa dijalankannya. Ia beralih berdagang kopi keliling di alun-alun Jember. Itulah mula Umar dan Suswati berjualan kopi di Alun-alun Jember.

Dari berdagang kopi keliling inilah keluarga ini mencukupi kebutuhan sehari-hari. Umar tak lagi punya kesibukan yang menghasilkan sejak ia tak bisa lagi menjual LKS. Kesehariannya hanya diisi dengan mengantar jemput anak ke sekolah.

Sebenarnya ia punya lahan warung di daerah Mastrip, tapi sudah lama ia sewakan. Dari lahan warung itulah dahulu Umar mencoba usaha dengan berdagang nasi. Namun Umar tak tahan. “Orang sukanya main belakang,” ujarnya. Seperti percaya tak percaya, lanjutnya, daganganya sering bau padahal baru saja dimasak. Itu yang membuat memilih untuk menyewakan lahan warung miliknya hingga sekarang.

Berdagang kopi keliling tak terlalu susah, ia hanya menyiapkan belasan sachet kopi instan dengan berbagai merk dan gelas plastik yang ia beli di pasar, serta air panas dalam termos. Bila air panasnya habis, dan malam masih panjang, ia akan kembali ke rumah yang jaraknya sekitar 1 kilometer dari alun-alun. Kalau tak sempat pulang, Umar dan istrinya memilih membeli air panas dari pedagang kaki lima (PKL) di sekitar alun-alun. Satu termos besar air panas ditukarnya dengan Rp 4.000 dan termos kecil dihargai Rp 2.000.

Dari pendapatan berjualan kopi inilah keluarga Umar melanjutan hidup. “Ya semuanya mesti serba diirit, mas. Kalau tidak, pasti tidak akan cukup,” katanya. Setiap hari Umar dan istrinya berdagang sejak usai Maghrib hingga sekitar jam 2 pagi. Kalau hari sedang hujan mereka pulang lebih dahulu.

Umar mengisahkan, bahwa makin malam, dagangannya makin laris. Jika di sore hari, sebagian besar pengunjung adalah keluarga yang menjadikan alun-alun sebagai tempat rekreasi. Kalau malam, yang datang mayoritas remaja untuk cangkrukan.

Dalam semalam ia mampu menghabiskan satu setengah slop gelas. Satu slop berisi 50 gelas. Di akhir pekan, penjualannya bisa dua kali lipat dari hari-hari biasa. Sekitar 3 slop gelas. Dari satu slop atau 50 gelas kopi, Umar bisa mendapatkan laba sebesar Rp 50.000 per harinya.

* * *

Alun-alun merupakan sarana publik. Seperti kata ‘rakyat’, ‘publik’ juga tak dapat hadir secara personal. Demi publik, Alun-alun Jember dibongkar-benahi dalam rentang waktu relatif singkat. Demi publik pula, sejak awal tahun 2012 lalu terbit peraturan daerah untuk menata Alun-alun Jember. Peraturan itu membuat para pedagang keliling tak boleh berdagang di ruangnya publik itu. Peraturan ini juga membuat ketentuan alun-alun hanya bisa digunakan untuk kegiatan keagamaan dan upacara kenegaraan.

Sejak pemberlakuan peraturan ini, para pedagang kopi keliling menawarkan daganganya sambil membawa baki. Umar dan Suswati beserta penjual kopi keliling lainnya, meski mengambil jarak agak jauh dari alun-alun.

Tadinya para pedagang hanya dibolehkan berjualan di Jalan Kartini. Awalnya mereka memang berjualan di sana, namun karena letaknya yang tidak strategis, tidak ada yang membeli kopi mereka. Cara penjualan sambil membawa baki di alun-alun kemudian dilakukan pedagang kopi keliling untuk menyiasati peraturan.

Meskipun mereka terpaksa melakukan dua kali kerja. Pertama ia mesti berkeliling alun-alun sambil membawa baki untuk menawarkan kopi. Bila ada yang memesan, mereka membuat kopi di Jalan Kartini, atau daerah yang agak jauh dari alun-alun, tempat bahan-bahannya diletakkan. Setelahnya, kopi itu diantarkannya ke si pemesan.

“Dengan adanya peraturan penjualan berkurang setengahnya,” kata Umar. Tetapi, penurunan penjualan itu dipengaruhi pula dengan semakin banyaknya pedagang kopi keliling sepertinya di alun-alun Jember.

Umar menanggapi ringan saja soal Polisi Pamong Praja yang menjadi terusan tangan pemkab dalam meneguhkan peraturan yang pemkab buat sendiri. “Mereka sebenarnya nggak tega mau mengusir. Lah kan sama-sama orang kecil,” katanya. Namun karena menjalankan tugasnya, mereka terpaksa mengusir para pedagang di alun-alun.

Pada prakteknya, Polisi Pamong Praja dan para pedagang berusaha untuk saling memahami. “Mereka menjalankan tugasnya, dan kita mencari nafkah. Toh, mereka baru mengusir jika komandannya datang memantau,” terang Umar.

Nody Arizona

Penikmat kopi, tinggal di Jember.

  • Alun-Alun Jember tak memberi ruang untuk masyarakat membuka usaha kecil-kecilan. Di tempat saya;Gresik, ada ruang tempat orang berjualan, semunya teratur rapi, mulai dari warung kopi, penjual stiker, penjual makanan, penjual pentol, balon dll. Harusnya alun-alun adalah area dimana masyarakat bisa sejenak melepas penat.