Tumbuh Bersama

One Piece Anime Logo
One Piece Anime Logo | Sumber: onepiece.wikia.com

Saya pertama kali membaca One Piece saat liburan setelah ujian nasional SMP, sembari menanti penerimaan SMA. Saat itu saya numpang libur di rumah saudara, daerah Rungkut, Surabaya. Ada rental komik dekat rumahnya. Sebuah komik menarik perhatian saya. Sudah sering dengar sebelumnya sih, tapi baru kali itu saya melihat langsung komiknya. One Piece oleh Eichiiro Oda. Tentu saja versi yang saya pegang, dan akhirnya saya pinjam, adalah bajakan dari Seventh Heaven.

Lucunya, karena yang tersisa di rental hanya jilid 12, maka jilid itu yang saya baca. Kesan awal, hmm, okelah. Menarik. Bajak laut saling berantem, pakai buah iblis, shonen banget laah. Komik favorit saya saat itu Slam Dunk dan Yu Yu Hakusho (serta tentu saja Dragon Ball).

Lalu One Piece terlupakan begitu saja selama beberapa waktu.

Sampai kemudian, saya menerima rapor untuk hasil belajar semester satu, kelas 1 SMA. Halaman rapor merah membara. Nilai nyaris semua pelajaran hancur. Ranking saya terendah ketiga dari bawah. Semua itu karena saya nekat ikut serta menjadi panitia lustrum sekolah, bolos kelas sebulan lebih, dan ketika masuk saya tak paham apapun yang diajarkan guru.

Papa kecewa melihat nilai saya buruk. Saya pun kecewa. Saya merasa gagal membuktikan bila aktivitas eskul tak akan mengganggu pelajaran. Hari itu menjadi salah satu kenangan terburuk saya kala remaja.

Mood saya jelek sekali hari itu. Tanpa tujuan saya keliling Kota Boyolali, sampai kemudian mampir ke rental komik Flintstone. Saya tak pernah datang ke sana sebelumnya, hanya lewat saja. Prosesnya begitu cepat. Saya mendaftar jadi anggota, melihat One Piece edisi 1-11 masih tersedia, dan meminjam semuanya. Lagi-lagi, semuanya versi Seventh Heaven.

One Piece
One Piece Anime | Sumber: bluemaize.net

Di hari-hari buruk itu, saya menghabiskan waktu membaca One Piece. Pelan-pelan, saya bisa melupakan perkara nilai rapor yang ambyar. Saya terisap ke dalam dunia Luffy dkk.

Di edisi 8, ketika Sanji berpamitan dari Master Zeff dan rekan-rekan Baratie, saya ikut menangis sesenggukan. Untuk pertama kalinya, saya menangis hanya karena sebuah manga.

Lalu di jilid 9, ketika masa lalu Nami terungkap, saya kembali berurai air mata. Lebih sedih malah. Saya merasa ikut terpuruk.

Pengalaman berurai air mata itulah yang memantabkan saya menjadi penggemar One Piece. Manga ini menyentuh titik peka saya. Dia tidak sekadar mengajak pembacanya tertawa atau terhibur. Oda memaksa saya peduli pada karakter dan dunia rekaan yang dia bangun. Setiap karakternya pun bertambah dewasa. Luffy pelan-pelan paham tak semua masalah bisa selesai dengan pukulan. Untuk menghadapi yonko atau pemerintah dunia, mereka harus membangun aliansi, percaya pada kemampuan masing-masing kru, dan berbagi tugas. Maka puas rasanya melihat Luffy dari sekadar bajak laut kelas kampung saat ini menjadi salah satu buruan utama Angkatan Laut, sampai memiliki armada (pendukung) ratusan kapal. Oh iya, di semester dua nilai saya membaik dan akhirnya dapat ranking 6. One Piece mengajarkan saya pentingnya kemauan bangkit dari kegagalan.

Walau, harus diakui, saya sempat minder kala SMA, karena gaya gambar Oda sensei dianggap beberapa kawan terlalu kekanak-kanakan. Ceritanya yang shonen abis juga membuat sebagian teman otaku mencemooh. To each her/his own. Tapi mereka tentu saja tak bisa merasakan getaran yang saya rasakan ketika Luffy menghadapi Arlong, lalu mengaku dia tak bisa melakukan apa-apa tanpa rekan seperjalanannya. Atau kepuasan tak terperi saat Luffy akhirnya berhasil menjotos Crocodile di Arabasta untuk pertama kalinya; Karakter antagonis pemakan buah logia yang beberapa bab sebelumnya tampak mustahil dikalahkan.

Memasuki masa kuliah, ternyata saya bertemu lebih banyak penggemar One Piece. Saya merasa menemukan sahabat. Mereka berasal dari kampus, kota yang berbeda, bahkan negara-negara lain. Walaupun sekarang intensitasnya berkurang, forum Oro Jackson pasti tetap saya sambangi, setidaknya sebulan sekali. Menjadi penggemar One Piece, alhasil, adalah bergabung dalam sebuah keluarga besar. Bagian dari jaringan nakama sedunia.

Saya setia mengikuti perjalanan Mugiwara menerobos Grand Line, ke langit, menembus Impel Down, hingga kini ke dunia baru menghadapi intrik antar bajak laut maupun melawan kezaliman Pemerintah Dunia. Saya mengoleksi semua komiknya (tentu yang resmi terbitan Elex), menonton semua filmnya, dan sesekali membeli pernak-pernik One Piece.

Dalam waktu dekat, impian saya mengunjungi Tokyo One Piece Tower bakal terwujud. Tentu saja petualangan saya dan One Piece tidak akan berakhir, bahkan ketika Oda menggoreskan sapuan pena terakhir di bab pamungkasnya kelak. Saya akan terus membaca kisah raksasa ini, walaupun makna One Piece dan rahasia Raftel telah terkuak sekalipun. Saya akan selalu mencintai One Piece. Fanatisme serupa dimiliki banyak orang lain. Terbukti, One Piece kini menjadi manga terlaris sepanjang masa. Ketika Naruto bubar (overrated), Bleach makin ga jelas dan tamat, serta shonen generasi anyar macam My Hero Academia atau Tokyo Ghouls mulai membosankan, One Piece masih berhasil menggetarkan dan mengejutkan pembaca bangkotan seperti saya.

One Piece memberi saya sensasi petualangan yang tak dibuat-buat, karakter yang kaya dan mendalam, serta pengalaman tumbuh bersama seiring waktu. Saya peduli pada karakter bajak laut Mugiwara, dan tokoh-tokoh sampingan mereka. One Piece membantu saya melewati fase remaja yang brutal, menawarkan eskapisme, sampai sekarang. Cakupan plot yang luas (melibatkan ribuan karakter) barangkali sedikit mendekati keagungan narasi Mahabharata (yang juga saya sukai).

Chapter pertama One Piece, terbit pertama kali hari ini, 19 Juni 1997 di Majalah Shonen JUMP. Kini, manga favorit saya sudah berusia 20 tahun. Pekan lalu, Oda menyampaikan ucapan terima kasih pada seluruh pembaca, atas kesetiaan mengikuti karyanya selama dua dekade, yang bikin saya mewek di kamar malam-malam. Harapan saya tentunya, bersama-sama Oda Sensei, bisa mengikuti kisah ini sampai akhir.

Terima kasih One Piece, telah menjadi bagian dari hidup saya selama 15 tahun terakhir.

It’s a journey still worth sailing!

Ardyan Mohamad Erlangga

Jurnalis mukim di Jakarta. Hanya suka kopi arabika.