Tuma’ninah di Semenjana Kopi

Semenjana dari depan, ketika acara Ngopi Pagi
Semenjana dari depan, ketika acara Ngopi Pagi | © Alif Bareizy

Kalau anda penggemar kopi baru di Samarinda, lalu meminta rekomendasi untuk membeli biji kopi arabika atau sekadar ngopi manual brew yang enak, bisa jadi kebanyakan para penyuka lawas kopi akan menjawab, “Ke Semenjana saja, tempatnya di Perumahan Sempaja Lestari”. Tak mudah menemukan Semenjana. Tempatnya di ujung sebuah perumahan, kalau tidak hafal jalannya, bisa menyerah dan pulang saja. Saya bilang begitu sebab saya mengalami sendiri, begitu juga banyak orang lainnya. Bahkan sempat ada yang pernah bertanya, “Emang ada ya Mas yang mau ke sini?”.

Semenjana bukan kafe. Judul resmi yang tertera di plangnya adalah Rumah Seduh dan Sangrai Kopi Semenjana. Tempatnya juga bukan di ruko, atau bangunan khas tempat nongkrong lainnya. Rumah adalah rumah secara harfiah, tempatnya di rumah. Makanya, kadang begitu sampai di lokasi dan belum ramai tamu, pasti berpikir, “Yakin nih tempatnya?”. Apalagi sebelum adanya plang (saya baru tahu dipasang setelah setahun buka), yakin pasti lebih bingung lagi. Jam operasional Semenjana dari jam 7 malam sampai jam 12 malam, itu pun tidak setiap hari. Jadwalnya bisa dipantau lewat akun instagramnya. Kecuali ingin ambil biji kopi, bisa janjian sewaktu-waktu.

Menuju Semenjana memang butuh perjuangan. Apalagi kalau sedang hujan lebat, dan semua tahu Samarinda rawan banjir. Tapi ketika sampai di tempatnya, kita bisa ngopi secara tuma’ninah. Tenang. Damai. Masuk pun kita sudah disapa Mas Rifki dan Mbak Hilda, Dynamic Duo owner Semenjana.

Mas Rifki dan Mbak Hilda
Mas Rifki dan Mbak Hilda | © Semenjana
Semenjana Kopi saat ramai
Semenjana Kopi saat ramai. | © Semenjana

Lapak Semenjana adalah ruang tamu yang tidak terlalu besar.Ada satu meja kotak di emperan rumah untuk tempat merokok. Kalau mau dipaksa sampai sesak pun, paling mentok lima belas orang. Tapi itu asyiknya, tempat begini menjamin semua orang berinteraksi. No Wifi. Sebenarnya ada sih, cuma kata sandinya hanya empunya rumah yang tahu. Supaya tidak nunduk layar hape saja katanya.

Menu utama di sini adalah kopi arabika, jenisnya tidak tentu. Kadang di antaranya ada kopi impor, tapi lokal pasti mendominasi. Seringnya ada Gayo, Toraja, Sunda, dan segala macam. Itupun beda jenis, Gayo kemarin ada Gayo Queen Ketiara, hari ini ada Gayo ramung, bulan depan Gayo Black Honey. Begitu juga yang lain. Harganya tidak mahal, berkisar Rp 15-20 ribu untuk satu cup kopi lokal, sedikit lebih mahal buat yang impor. Kudapan juga dibuat variatif, hari ini dan besok bisa beda.

Di rumah bagian belakang ada mesin sangrai kapasitas satu kilogram yang kesehariannya dipakai Mas Rifki untuk menyangrai. Seperti yang sudah saya ceritakan di depan dan sesuai judul tempatnya, Semenjana menyediakan biji kopi arabika. Jadi pembicaraan soal kopi disini tidak hanya tentang seduh saja, bahkan saya yang awam bisa sedikit tahu proses paska panen karena Mas Rifki memang sering berinteraksi langsung dengan petani kopi. Dan memang dia tidak segan mengajari newbie kopi, bahkan saya sampai dipinjami seperangkat alat seduh untuk dibawa pulang sementara waktu sampai saya bisa beli alat seduh sendiri.

Selain kopi, banyak yang dibicarakan. Sastra misal. Memang Mas Rifki cukup suka sastra, di ruang tamu ada beberapa tumpuk buku, dan di antaranya bisa dipinjam. Bahkan ada teman saya yang sampai dua bulan tidak mengembalikan satu buku. Ada. Padahal saya ingin pinjam juga. Pernah juga ada kursus singkat yoga. Kalau habis tayang episode Game of Thrones, bisa jadi itu yang dibahas. Dan semua yang ada di ruangn ikut menyimak.

Keintiman yang didapatkan di Semenjana adalah yang menarik orang untuk terus menerus datang, meski kadang harus menembus banjir sekalipun. Makin sering orang datang, makin lekat pula dan besar rasa sayangnya. Semenjana menjelma menjadi keluarga besar. Ada konser bagus, bersama-sama datang. Hari libur dan mau tamasya bersama, pergi bareng. Tujuh belas Agustus, dengan alasan sentimental membuat ngopi pagi sambil makan bubur ayam (gratis pula).

Saya pernah bertanya, pada saat saya masih amat baru intim dengan Semenjana, dan masih belum banyak tamu yang datang. Mengapa nama “Semenjana” yang dipilih? Padahal kalau memakai alasan filosofis, artinya kan medioker, biasa-biasa saja. Kurang pas untuk menggambarkan kesuksesan, padahal sekarang rumah kopi ini sudah punya tamu yang loyal. Jawabnya, “karena bagus aja, enak didenger, macam judul lagu dangdut,” kata Mas Rifki sambil nyengir, di depan saya dan Mbak Hilda di ruang makannya. Absurd. Tapi berhasil.