Tuang Kopinya Bu

Kopi Hitam
Kopi sebagai perekat hubungan. © Nody Arizona

Sejak semakin maraknya dunia kopi, terutama sejak munculnya kedai kopi yang menyajikan specialty coffee, banyak orang mulai menikmati kopi tanpa gula. Hal ini mengingatkan saya akan kisah tentang nenek saya, yang dituturkan oleh Bapak. Menurut beliau, nenek kalau minum kopi tidak pernah pakai gula. Jadi sebenarnya, kebiasaan minum kopi tanpa gula ini sudah ada sejak dulu.

Ah tapi sudahlah. Minum kopi dengan atau tanpa gula, itu sama saja. Sesuai selera masing-masing saja.

Di keluarga saya, semua penikmat kopi. Mulai dari bapak, ibu, kakak, sampai adik. Kami kurang suka kopi sachetan, apalagi kopi Luwak yang konon diperoleh dengan cara yang kurang pantas. Kami semua suka kopi hitam yang berasal dari biji yang sudah disangrai hingga kecokelatan, dan ditumbuk hingga halus. Setelahnya, baru ditambahi gula. Nikmat.

Rutinitasnya mungkin seperti ini. Setelah adzan Subuh berkumandang, Ibu sudah ada di dapur. Membuat kopi untuk anggota keluarga. Ini sekaligus untuk jadi penyemangat agar para anak-anaknya bangun dan sholat Subuh. Kalau kami, para anaknya, masih malas, Ibu akan berteriak: “Bangun! Kopi sudah jadi!” Biasanya, mendengar kata kopi, kakak saya yang paling malas bangun akhirnya terpaksa beranjak.

Saya pernah menuntut ilmu di pondok pesantren. Saya selalu minta kiriman kopi dan gula dari Ibu. Walau kadang saya ingin merasakan pengalaman yang berbeda, mencampur kopi dengan sedikit susu. Kebiasaan itu masih terbawa hingga kuliah. Setiap hendak balik ke perantauan, saya selalu membawa kopi dan gula dari rumah. Kalau dua benda itu sudah habis, maka saya punya alasan untuk pulang. Biasanya, saat kopi dan gula habis, saat itu pula uang saku saya habis.

Di kalangan kami, masyarakat suku Sasak di Pulau Lombok, ada idiom yang sekiranya penting bagi diketahui oleh para pecinta kopi: semiskin-miskinnya orang Lombok, jika ada tamu, maka tuan rumah wajib menyajikan kopi. Dan ajaran itu terus dipraktekkan hingga sekarang. Jadi jangan heran kalau kopi dan gula di sini sangat laris. Juga jangan heran, apalagi curiga, kalau ditawari kopi oleh orang Lombok yang tidak kalian kenal. Sebab, kopi ibarat perekat hubungan antara tuan rumah dan tamunya. Itu ibarat salam perkenalan.

Lalu Muhammad Getar Persada Nusantara Roby Ulhaq

Mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab. Penikmat kopi dan sepak bola. Apalagi nonton bola sambil ngopi. Salah satu cita-citanya menciptakan kopi rasa mantan.