Tuah Kedai Kopi di Aceh

Tiga jam setelah saya tiba di Pulau Simeulue, Ilan, kenalan baru saya di Simeulue mengirim pesan: “Datangi saja desa-desa terdekat dari Sinabang lebih dulu, Desa Air Pinang dan Kuala Makmur, sekitar 30 menit dari Sinabang. Kalau di sana sudah selesai, baru ke desa yang lebih jauh. Desa Sembilan bagus dikunjungi, salah satu penghasil cengkeh terbaik di Simeulue.” Saya membalas pesan singkat saja, “Baik, Bang. Terima kasih.”

Saya belum pernah bertemu dengan Ilan. Saya menghubunginya melalui nomor kontak dari salah seorang yang juga belum saya kenal dan temui. Tapi semuanya berujung pada Pak Roem, konsultan penelitian yang sedang saya jalani di Pulau Simeulue. Cukup rumit dan panjang, namun teknologi menyebabkan semuanya menjadi lebih mudah.

Saya sudah terlalu lelah. Selepas azan subuh sudah meninggalkan rumah di Yogya dan baru tiba di Pulau Simeulue sesaat jelang maghrib. Perjalanan panjang dengan dua kali transit di Jakarta dan Medan membuat saya ingin segera merebahkan badan di atas kasur empuk.

***

Saya menggunakan jasa ojek di Kota Sinabang, ibukota Kabupaten Simeulue untuk pergi ke Desa Air Pinang, Kecamatan Simeulue Timur (masih satu kecamatan dengan Sinabang) keesokan harinya. Tidak ada kenalan yang saya rujuk di Desa Air Pinang. Di hari Minggu, saya juga tidak bisa langsung menuju kantor desa. Saya pikir tidak ada pegawai desa yang terlalu rajin sehingga masuk kerja di hari minggu. Tapi ini Aceh. Dan ini bukan kali pertama bagi saya ke kota ini. Saya tahu tempat favorit yang bisa lekas saya datangi, tempat yang tidak pernah sepi sejak pagi hingga malam hari. Kedai kopi.

Empat meja berukuran 2 x 0,5 meter dikelilingi kursi panjang dan beberapa kursi perorangan yang terbuat dari bahan plastik. Laki-laki dari berbagai usia ramai bercakap-cakap. Spontan saya menghitung jumlah manusia di kedai kopi sesaat setelah saya memasuki kedai, semuanya 17 orang.

Kedai kopi di Desa Air Pinang ini tidak bernama. Dikelola oleh Fitra, 18 tahun, pemuda yang baru saja tamat SMA dan bercita-cita melanjutkan sekolah mengambil jurusan biologi tahun depan. Sebelumnya kedai kopi itu dikelola orang tua Fitra. Selepas ia menamatkan sekolah dan sembari menunggu pendaftaran kuliah di tahun depan, orang tua Fitra memasrahkan pengelolaan kedai kopi kepada Fitra.

Saya memesan secangkir kopi. Dengan sigap Fitra membuat kopi pesanan saya. Dua buah wadah berbahan seng berbentuk gelas besar dan sebuah penyaring berbentuk kerucut menjadi perlengkapan utama penyajian kopi. Air panas berpindah dari satu wadah ke wadah lainnya setelah sebelumnya melalui penyaring. Berulang kali Fitra membolak-balikkan air panas berwarna kehitaman di antara dua wadah itu sebelum akhirnya menuangkan kopi ke dalam cangkir.

Fitra sedang menyiapkan secangkir kopi untuk pelanggan
Fitra sedang menyiapkan secangkir kopi untuk pelanggan | © Fawaz

Dalam film Cut Nyak Dien arahan sutradara Eros Djarot yang diproduksi pada tahun 1987, Teuku Umar yang diperankan oleh Slamet Rahardjo memberikan semangat kepada pasukannya sebelum pertempuran besar melawan Belanda di Meulaboh, pertempuran yang akhirnya menewaskan Teungku Umar. Ia berkata, “Beungoh singoh geutanyoe jep kupi di keude Meulaboh atawa ulon akan syahid”. Besok pagi kita akan minum kopi di Kota Meulaboh atau aku akan syahid.

Ujaran Teuku Umar ini tertulis dalam prasasti di depan pintu masuk makam Teuku Umar. Menurut Muhajir, dalam tulisannya di beritagar.id tentang warung kopi di Aceh, kutipan itu merupakan bagian dari cerita rakyat turun-temurun, yang dipercaya sebagian besar warga Meulaboh. Adapun prasasti di makam Teuku Umar dibuat jauh setelah Belanda angkat kaki dari Aceh dan Indonesia. Ujaran ini melegitimasi bahwa kebiasaan minum kopi di Aceh sudah ada sejak awal abad 20, tepatnya setelah Belanda menanam kopi besar-besaran di dataran tinggi Gayo, Aceh.

Menurut Fitra, ada tiga waktu di mana kedai kopi yang ia kelola ramai oleh pengunjung, Pagi hari antara pukul 08.00 dan 10.00, sore hari antara pukul 15.00 dan 18.00, dan malam hari antara pukul 19.00 dan 24.00. Ini menyesuaikan dengan jam kerja masyarakat. Saya tiba di kedai kopi mendekati pukul 10.00, saat kedai masih cukup ramai. Dalam sekali duduk, dari 17 orang yang ada di kedai kopi, seluruhnya adalah pemilik kebun cengkeh. Tanpa perlu bersusah payah, sekali ke kedai kopi, seluruh narasumber emas terkait penelitian cengkeh yang saya lakukan sudah saya dapatkan. Dua di antara para pengunjung adalah juga kepala dusun di dua dusun yang ada di Desa Air Pinang. Dari mereka semua saya mendapatkan data penting yang saya perlukan untuk riset ini.

Kopi Aceh
Kopi Aceh | © Fawaz

Di Kota Sabang, di hari berikutnya di kedai kopi lainnya, tanpa disengaja saya berjumpa dengan tiga orang anggota dewan DPRK Kabupaten Simeulue. Ketua Partai Gerindra Kabupaten Simeulue, Ketua Partai Hanura Kabupaten Simeulue, dan Sekretaris Jendral Partai Nasional Aceh (PNA). Selain itu saya juga bertemu dengan seniman lokal Kabupaten Simeulue. Dari mereka saya mendapat informasi tambahan tentang seluk beluk kebijakan perkebunan cengkeh, tata niaga cengkeh, sejarah keberadaan cengkeh di Simeulue, dan kesenian yang terkait langsung dengan perkebunan cengkeh.

Ketika saya berpindah tempat ke Kabupaten Aceh Barat Daya, lagi-lagi, tanpa disengaja saya berjumpa dengan wakil bupati Kabupaten Aceh Barat Daya yang dua hari dari perjumpaan itu akan dilantik bersama bupati terpilih. Tentu saja ini sebuah keuntungan besar. Tanpa perlu repot-repot mendatangi kantor dengan izin resmi dan pakaian formal, saya mendapat banyak informasi penting dari sumber utama.

Tujuan saya ke Aceh, mendatangi tiga kabupaten memang dalam rangka penelitian komoditas cengkeh. Tetapi harus saya akui, kopi dan kedai kopi memberikan tuah tersendiri. Di sana, dalam obrolan santai di antara seruputan secangkir kopi, mengalir deras memenuhi ruang data yang saya perlukan. Di kedai kopi pula sekat-sekat sosial yang di tempat lain begitu beku, mudah mencair. Anda bisa menggali informasi apa saja dan dengan mudah menjumpai orang-orang penting berkat tuah kedai kopi, tuah kedai kopi di Aceh. Syaratnya, Anda kuat duduk berlama-lama di kedai kopi, seperti kebanyakan masyarakat di seluruh Aceh kuat berlama-lama di kedai kopi. Jadi, jika Anda berkesempatan berkunjung ke Aceh, di kota atau desa manapun itu, sempatkanlah singgah di kedai kopi. Sekali duduk, banyak informasi dan hal menarik yang dapat Anda unduh.

Fawaz

Volunteer Sokola Rimba