Trip Fotografi: Surga Itu Bernama Argapura

Foto bersama berlatar lereng Panyaweuyan, Argapura. Foto Ranar Pradipto.
Foto bersama berlatar lereng Panyaweuyan, Argapura. | © Ranar Pradipto

Langit mendung dan udara dingin menyambut kami sekitar pukul 15.30 wib di penginapan yang terletak di Desa Argamukti. Jarak penginapan dengan lereng Panyaweuyan sekira 20an menit, begitu Ranar memberitahu, saat kami satu persatu memasuki kamar penginapan. Lantai penginapan terasa menyengat. “Asyem, adem banget sikilku,” kata Addien, fotografer pemenang CPMI tahun 2015, yang ikut dalam trip Argapura kali ini. Kami datang dengan mengendarai 3 mobil minibus merk sejuta umat. Satu mobil berisi rombongan kawan-kawan fotografer dari Jakarta; Ranar Pradipto, Isna, Adam Rozelly, Syahran, dan Didik Harianto. Dua lainnya berisi fotografer Addien, Dharma, dan Endang Tonari atau Een. Saya semobil dengan Misbachul Munir atau MM, dan Sigit Ardianto dari Solo.

Rencana perjalanan trip memotret memang sudah direncanakan oleh Een jauh jauh hari menjelang musim panen bawang di lereng Panyaweuyan, Argapura. Kabar disebar, bantingan biaya disepakati, tim dibentuk, dan kami berangkat pada tanggal 2 Desember 2016 malam. Een dan tim Eton Rentcar menjemput saya jumat pukul 22.00 wib dan langsung berangkat menuju Argapura, Majalengka. Di dalam mobil sudah ada Sigit, dan MM. Sebenarnya saya merencanakan untuk tidur selama perjalanan. Namun, kondisi jalan yang rusak sana sini membuat saya tak bisa nyenyak barang sekejap.

“Pak Ganjar harusnya suruh lewat sini nih biar tahu kondisi jalan wilayahnya,“ kata MM, yang duduk di sebelah saya. Saya hanya tertawa mendengar MM menyebut nama Gubernur Jateng itu. Namun dalam hati saya membenarkan perkataan MM. Pejabat yang baik seharusnya tahu kondisi, tidak hanya warganya, melainkan sarana kepentingan publik lainnya.

Menjelang pukul 04.00 subuh kami mampir di Brebes, rumah Een. Kami beristirahat sejenak dan memberi kesempatan Lindung dan Wahyu, dua orang sopir kami, untuk tidur karena perjalanan akan dilanjutkan jam 06.30 pagi menuju Indramayu. Addien, MM, dan Dharma bergantian ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Mereka melaksanakan salat Subuh secara bergantian di ruang belakang rumah Een. Saya dan Sigit istirahat di ruang depan sambil menikmati teh hangat dan camilan yang disediakan oleh Ibunya Een. Lalu saya ke depan, duduk di teras menikmati kesunyian subuh sambil udud kretek yang saya bawa. Saya menghormati kawan-kawan saya yang tidak merokok.

Kami berangkat sebelum jam 06.30 menuju spot pertama; Indramayu. Perjalanan diperkirakan memakan waktu sekira 2 jam. Menjelang lokasi spot pertama, kami berhenti di sebuah pasar untuk menemui tim Jakarta yang sudah sampai terlebih dahulu. Ranar Pradipto menghampiri kami dengan hangat. Menjabat tangan sambil bertanya kabar dan memberi informasi seputar spot yang akan kami foto. Hanya sebentar. Kami dengan menumpang tiga mobil merk sejuta umat itu lalu berangkat menuju spot pertama pemotretan.

Blok Dukuh atau warga sekitar menyebutnya dengan nama Dukuh Sabrang Kulon, berada di Desa Kenanga, Kecamatan Sindang, merupakan sentra industri kerupuk ikan dan kerupuk udang di wilayah Indramayu. Pengrajin kerupuk di Dukuh ini berawal sejak tahun 1981. Syaein yang dulu berusia 37 tahun mengawali usaha kerupuk ikan dan kerupuk udang bermodalkan pengetahuan secara otodidak. Dia diajak bergabung oleh Mastara penduduk setempat lainnya guna membuka usaha pembuatan kerupuk udang dan kerupuk ikan. Bermodalkan tabungan hasil kerja sebagai pemborong kecil kecilan, Syaein dan Mastara, berhasil dan maju dalam usahanya. Mereka berdua mempengaruhi penduduk lainnya untuk membuka jenis usaha yang sama yakni membuat kerupuk udang dan kerupuk ikan. Bahan baku udang dan ikan mudah didapat karena banyaknya Tempat Pelalangan Ikan (TPI) yang bertebaran di sepanjang pantai Indramayu. Kini, hampir sebagian besar warga di Dukuh ini menjadi pengrajin kerupuk. Itu sebabnya Padukuhan ini disebut juga Dukuh Kerupuk.

Kami turun di halaman sebuah masjid. Ranar Pradipto yang menjadi mentor trip kali ini segera mengomandoi peserta trip menuju spot pemotretan. Hamparan kerupuk yang dijemur serta aktivitas pengrajin yang bekerja menjadi daya tarik secara visual bagi kami yang gemar memotret. Kami tak menghiraukan bau ikan dan udang yang menyengat hidung. Beberapa orang menghampiri pengrajin untuk sekedar ngobrol santai, menjaga kehangatan dengan tuan rumah. Sementara yang lain langsung memotret aktivitas pekerja yang dimentori oleh Ranar Pradipto.

Pekerja di sentra pembuatan kerupuk Indramayu. Foto Eko Susanto.
Pekerja di sentra pembuatan kerupuk Indramayu. | © Eko Susanto
Menata kerupuk dalam proses penjemuran. Foto Eko Susanto.
Menata kerupuk dalam proses penjemuran. | © Eko Susanto

“Sekarang pindah, jangan di sini terus,” kata Ranar. “Kang, tolong tambahin aktivitas pekerjanya biar asyik difoto,” lanjutnya, kepada seorang pengrajin.

Ranar Pradipto merupakan mentor yang baik dalam mengkoordinir peserta. Lelaki jebolan Teknik Sipil UGM ini beberapa kali menyabet gelar juara lomba fotografi. Jika Anda melihat akun instagramnya yakni; @ranarpradiptoindonesia, Anda akan melihat bagaimana keindahan alam berkelindan dengan kehidupan manusia. Seperti jagad makro alam semesta dan jagad mikro dalam tubuh manusia. Foto-fotonya bagaikan penjabaran filosofi tasawuf maupun filosofi kebatinan jawa. Penyatuan keindahan alam ciptaan Tuhan dan drama kehidupan manusia sehari hari. Penuh rasa syukur. Kaya warna namun tidak semata indah melainkan ada drama kehidupan yang disampaikan Ranar pada foto-fotonya.

Saya membuka tas tripot, melepas kaki-kakinya menjadikannya monopod agar saya dapat mengambil foto dari sudut ketinggian. Saya terinspirasi dari drone yang diterbangkan MM di atas hamparan kerupuk di antara pekerja yang sedang menata. Ada keindahan grafis yang tidak bisa diciptakan oleh pemegang kamera di tangan dari sudut konservatif. MM merekam video dan memotret hamparan itu dari ketinggian sehingga menghasilkan perspektif lain bagi foto-fotonya. MM merupakan fotografer profesional yang banyak menyabet penghargaan lomba fotografi. Juara Canon Photo Marathon Indonesia (CPMI) 2009, ini juga membuka kelas fotografi di rumahnya. Dan saya beserta Addien menjadi cantrik yang ngangsu kawruh tentang fotografi di Padepokan Kuantan.

Hampir 2 jam kami berada di Dukuh Kerupuk. Beberapa teman membeli kerupuk ikan untuk dibawa pulang. Kami meringkus semua peralatan fotografi dan melanjutkan perjalanan menuju spot idaman; Argapura.

Kami mampir makan siang sebentar di sudut kota Indramayu. Een dan beberapa kawan menyempatkan diri mampir sejenak membeli mangga Gedong khas Indramayu di pinggir jalan. Malam harinya mangga tersebut langsung kami tandaskan di penginapan.

Perjalanan menuju spot idaman masih cukup panjang. Saya tahu hal itu sebab melihat MM belum setengah perjalanan sudah memakai sabuk pengaman. Saya hafal lelaki yang banyak menjuarai lomba fotografi ini selama perjalanan malam tadi. Jika sudah memakai sabuk pengaman itu artinya dia mau mapan.

“Wah, warek iki marake liyer liyer,” katanya memberi alasan untuk mapan tidur. Sementara saya memegang gajet menonton aktivitas teman-teman di medsos dan menuliskan perjalanan ini.

Hawa dingin lokasi penginapan yang terletak di kaki Gunung Ciremai ini membuat peserta trip semakin akrab dengan kehangatan canda dan tawa. Saya membuat kopi sachet yang saya bawa dari Banaran. Saya membawa dua sachet dan menawarkan sebungkus pada MM. Sialnya, air pada dispenser penginapan tidak begitu panas. Kopi rasanya kurang nikmat. Kamar telah disiapkan. Peralatan telah disimpan. Dan makan malam telah terhidang.

MM mengeluarkan proyektor yang dibawanya dan diserahkan pada Een. Malam ini acaranya Coaching Clinic oleh Een tentang foto-foto travelling dan Ranar menambahi dengan spot-spot foto dari Argapura. Melalui visual foto, Ranar menjelaskan dari spot mana foto diambil agar subuh esok hari peserta trip paham apa saja dan lokasi mana yang dituju. Malam berlangsung dengan semarak. Saling ejek dengan akrab. Terutama MM yang senang mengejek Ranar. Isi ejekannya tak dapat saya tulis di sini karena menyangkut warna merah dan kuning. Memang banyak warna dalam tas kami sebagaimana agama yang tumbuh subur di Negeri ini. MM, Een, Adam dan saya menyukai warna merah. Addien berganti warna entah karena baru saja murtad berganti warna. Sedangkan Ranar, tetap setia dengan warna pilihannya sejak mula; kuning. Namun, apapun perbedaan warna maupun agama, tak mengurangi keakraban kami saat bersama. Bergembira bersama. Apalah artinya warna dalam genggaman karena kita sebenarnya dalam satu jalan yang sama: Fotografi.

Suasana Coaching Clinic di penginapan. Foto Wahyu.
Suasana Coaching Clinic di penginapan. | © Wahyu

Malam telah larut. Masing-masing kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Saya terbangun pukul 03.30 wib. Ranar telah memberi tahu kami bahwa keberangkatan menuju Argapura akan dimulai pukul 04.30 wib.

Dalam gigil subuh kami berdoa di dalam mobil saat menuju Argapura agar langit bersih dan matahari memerah menerangi permukaan lereng. Kami tiba di lereng Panyaweuyan sekitar pukul 05.00 wib. Matahari belum terlihat namun semburat kuning sudah tampak di timur. Ranar menunjuk titik mana saja yang akan difoto.

“Pertama kita turun dulu untuk mengambil Sunrise di lereng yang ujung itu,” kata Ranar, sambil tangannya menunjuk ke punggungan bawah dari tempat kami berdiri.

“Iseh Usum po motret Sunrise,” celetuk MM yang berada di samping saya. Kami yang mendengar celetukan itu tertawa terbahak.

“Asyeem…” Ranar, menimpali.

Aktivitas petani difoto dari ketinggian lereng Panyaweuyan. Foto Eko Susanto.
Aktivitas petani difoto dari ketinggian lereng Panyaweuyan. | © Eko Susanto
Penyemprotan pagi hari pada tanaman bawang. Foto Eko Susanto.
Penyemprotan pagi hari pada tanaman bawang. | © Eko Susanto
Menaburkan pupuk mengawali aktivitas pagi hari petani bawang di lereng Panyaweuyan. Foto Eko Susanto.
Menaburkan pupuk mengawali aktivitas pagi hari petani bawang di lereng Panyaweuyan. | © Eko Susanto

Saya tak begitu suka memotret Sunrise. Jadi saat teman-teman berjalan turun menuju lereng bagian bawah, saya tetap di atas menikmati keindahan yang terhampar di hadapan saya, sambil menikmati kretek. Semua teman turun kecuali saya, MM, dan Adam. Saya lebih memilih untuk menunggu petani yang datang dan melakukan aktivitas di kebun mereka, baik menyemprot dedaunan bawang dan saat memberi pupuk.

Mendung menggelayut. Matahari enggan keluar. Sunrise malu-malu bahkan cenderung bersembunyi. Para petani satu persatu muncul mengendarai sepeda motor. Ada yang muncul melalui lereng terjal sehingga jika dilihat dari atas, petani berkendara roda dua itu, seperti berjalan di tubir jurang yang mengerikan. Suara suara rana terlepas dari kamera terdengar sahut menyahut mengabadikan aktivitas petani di lereng Panyaweuyan yang indah ini. Matahari muncul sebentar menciptakan bayang-bayang pada permukaan bergaris dedaunan bawang dan memunculkan warna merah kekuningan sesaat. Kesempatan yang hanya sebentar tak luput dari jepretan kamera peserta trip.

“Kita pindah ke atas. Ada petani di lereng yang bagus di foto, “ kata Ranar, mengajak peserta trip pindah spot.

Saat yang lain naik, saya turun menuju tempat di mana kawan-kawan saya tadi berdiri memotret sunrise, karena melihat seorang petani menggunakan trail baru saja datang ke ladang sebelah utara. Dari bawah tempat saya berdiri saya lihat MM sudah asyik dengan pesawat terbang mainannya. Sebelum saya turun dia sempat meminjami saya lensa 600 mm miliknya.

Petani menuju ladang bawang mengendarai motor di lereng terjal. Foto Eko Susanto.
Petani menuju ladang bawang mengendarai motor di lereng terjal. | © Eko Susanto
Mengecek tanaman bawang dengan motor trail. Foto Eko Susanto.
Mengecek tanaman bawang dengan motor trail. | © Eko Susanto

Lereng Panyaweuyan, Desa Argamukti, Kecamatan Argapura, Kabupaten Majalengka, tak habis di foto hanya sekali datang. Banyak spot yang belum terekam namun waktu tak terasa menuju siang. Menurut jadwal seharusnya kami turun jam 08.00 wib untuk sarapan. Namun, keindahan lereng menghipnotis rasa lapar menjadi kegembiraan peserta trip untuk terus merekam keindahan dan kehidupan petani bawang.

Hampir jam 10.00 wib kami turun untuk sarapan di penginapan lalu dilanjutkan menuju Curug Ibun. Mobil yang kami tumpangi kebablasan sedangkan 2 mobil lainnya telah sampai di Curug Ibun. Sebenarnya saya kurang minat memotret di Curug Ini. Hanya karena ingin tahu maka saya memaksakan diri turun ke dasar sungai. MM tidak turun. Lebih memilih istirahat di mobil sambil memegangi gajet. Mungkin membaca berita atau menghubungi klien.

Saya hanya memotret sekali. Lalu naik lagi ke atas menuju parkiran. Turun ke arah Curug lumayan curam. Jadi, tidak aneh kalau Adam menggerutu kepada MM sesampainya dia di atas: : “Gila lu, Nir,” katanya pada MM. “Lu gak bilang bilang kalo turunnya curam. Naeknya payah lagi…”

MM menjawab: “Lha tadi aku sampai mau kukasih tahu, semua dah pada turun. Tak telpon hpmu mati,” jawab MM, sambil tertawa.

Kami semua tertawa. Kegembiraan tetap terjaga. Dalam trip ini Een sebagai Koordinator trip pandai menjaga irama. Perut selalu kenyang dan keakraban menjadi nilai lebih.

“Iki trip akeh mangane karo motrete hahahaha….,” canda Addien menjelang balik ke Yogyakarta.

Eko Susanto

Fotografer partikelir, penikmat kopi robusta.