Todays Koffie

Todays Koffie
Papan menu © Kelsi Sawitri

Wednesday In A Cafe, yes?

Yes, absolutely!

Aneh rasanya ketika pergi ke kedai kopi pada hari Rabu selalu terasa magis. Selalu! Pun Rabu dua minggu lalu, persis seperti Taylor Swift dalam lagu “Begin Again”. Manis dan magis, satu hari untuk selamanya. Mengenai kemarin, yang juga hari Rabu, lagi-lagi kedai kopi di bilangan jalan Dago, Todays Koffie.

Pertama kali melihat, aku langsung jatuh cinta. Kafenya mungil dan klasik. Kelsi sih suka kafe-kafe bernuansa klasik. Didominasi kayu, seperti Kopi Panggang, hanya saja lebih berwarna dan lebih lovable, dengan pagar kayu pendek dan papan nama yang juga dari kayu.

Di Todays Koffie jam bukanya berbeda-beda, Senin-Kamis dari jam 12.00-23.00, Jumat jam 13.00-23.00, sedangkan Sabtu-Minggu jam 12.00-24.00 (bisa juga dilihat di akun twitter @todaySKoffie). Umur Todays Koffie cukup lama, hampir tiga tahun. Konsepnya pun unik, coffee shop and microroastery.

Oh iya, kopi yang diseduh di sini banyak sekali kopi lokal Indonesia. Harganya pun bersahabat. Menarik, kan? Baristanya ramah, apalagi ketika bercerita tentang kopi. Memang awalnya sungkan berinteraksi, mungkin karena Kelsi baru pertama kali ke sana. Berikutnya, semoga baristanya sharing banyak mengenai kopi.

Todays Koffie
Desain minimalis tapi manis. © Kelsi Sawitri
Todays Koffie
Hiasan dinding. © Kelsi Sawitri

Seperti yang Kelsi bilang, desain bangunannya minimalis dan klasik. Di dalam ada dua meja untuk bertiga, dua meja untuk berempat, serta meja panjang (seperti bar, hanya saja menempel di dinding) untuk lima orang. Sedangkan di luar, terdapat sekitar enam meja masing-masing untuk empat orang. Di sini, baik di dalam maupun luar ruangan, keduanya smoking-area. Tapi tak apa, pertukaran udaranya lumayan.

Belum lagi lukisan-lukisan tentang kopi yang ditata sedemikian rupa, serta hiasan dindingnya. Juga lampu belajar di meja panjang, dan lampu-lampu kuning yang menambah romantisme-klasik di Todays Koffie. Aku suka sekali di sini!

Bicara mengenai kopi, Kelsi pesan dua cangkir kopi. Gelas pertama, kopi situbondo yang diseduh dengan pour over V60. Biji kopinya tipis, kalau tak salah medium roast. Rasa biji kopinya tidak terlalu pahit dan terasa asam. Setelah diseduh, aromanya tipis. Asamnya memang sedikit dominan di pangkal lidah, tapi cepat hilang. Sedangkan rasa pahitnya terasa di ujung lidah dan tinggal lebih lama. Kalau langsung ditelan, rasanya pahit, asamnya akan terasa sekali ketika kopi ditahan di mulut.

Gelas kedua, kopi solok diseduh a la Turkish (menggunakan gula). Biji kopinya lebih besar. Warnanya lebih hitam, aku rasa karena level roasting yang lebih tinggi. Rasanya jadi lebih pahit dibandingkan kopi situbondo, pun aromanya, lebih kuat. Setelah diseduh, menurutku aroma asli kopi jadi samar, tertutup oleh aroma karamel. Begitu juga rasanya, manis, dengan rasa pahit yang tidak kalah. Seperti tidak ingin kehilangan ke-solok-an. Ada rasa asam sedikit (biji kopinya pun begini, sedikit sekali asamnya), datangnya belakangan. Mungkin, kalau bukan diseduh a la Turkish, asamnya lebih terasa.

Todays Koffie
Todays Koffie © Kelsi Sawitri

Betah sekali rasanya. Karena kopinya, manual brewing-nya, dan fasilitasnya. Ada stop kontak dan free wifi. Cocok sekali untuk mahasiswa yang ingin mengerjakan tugas, apalagi yang suka kopi. Wuih!

Lagi-lagi, yang membuat Kelsi cinta adalah meja di salah sudut ruang, dan speaker di sudut lainnya. Ditambah playlist jazz ringan yang diputarkan, kalau tidak salah itu Nat ‘King’ Cole dan Michael Buble. Romantis!

Semoga hari Rabu di kedai kopi berikutnya tidak kehilangan magisnya.

But on A Wednesday in a Café, I watched it begin again.

Kelsi Sawitri

Penyuka kopi (dan pisang goreng). Mahasiswi semester terakhir di jurusan Fisika Institut Teknologi Bandung.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405