Titisan Pak Raden

Sudahkah hari ini berbahagia? Melupakan sejenak diri bermain gadget, lalu menghampiri anak-anak dan memperkenalkannya pada berbagai dolanan. Bingung tidak mempunyai anak karena masih jomblo ya, Mas? Tenang, karena banyak jutaan anak Indonesia baik yatim, piatu, dhuafa yang dengan senang hati menerima uluran tangan walaupun itu hanya untuk bermain.

Ada engkel, gobag sodor, ular tangga, bakiak, enggrang, congklak dan masih banyak dolanan lainnya yang patut kita kenalkan kepada generasi menunduk. Mas, anak 90-an? Itulah zaman terindah di mana waktu dihabiskan berdolanan sehingga peluh membasahi badan, tidak jarang ibu atau ayah memarahi anak-anaknya yang datang ketika matahari tenggelam.

Ketika sudah lelah berdonalan dan menikmati tawa yang manis pada wajah anak-anak. Marilah rehat, lalu mengenang masa-masa indah kita, di mana tidak hanya sibuk dimarahi seharian berdolanan, tapi ada suatu episode di mana ayah memangku, sambil membuka lembaran-lembaran buku bergambar, lalu bercerita dengan suka hati. Atau kalau ayah memang sibuk, mari menyalakan televisi hitam putih, kemudian jatuh pada pilihan seorang pria bertubuh besar, mengenakan pakaian jawa, blangkon menghiasi kepala, dan kumis yang menambah kegagahan dirinya, acara tv yang satu ini sangat terkenal, di mana pria gagah bercerita sambil menggambar dengan cekatan, atau kalau lupa, tapi masih ingat dengan boneka “Si Unyil”? Ya, Pak Suyadi atau Pak Raden, masih ingatkan Mas?

28 November 1932, hari lalu adalah kelahiran bapak yang merupakan lulusan seni rupa Institut Teknologi Bandung. Tidak hanya Google Doodle saja yang ikut mengenang jasa beliau. Banyak titisan di nusantara ini yang menggemakan kebaikan mendongeng.

Pak Raden berbahagialah di sana, di sini banyak yang merawat dan meneruskan kebaikan bapak.

Gema mendongeng sudah dirasakan di awal bulan November, FDII (Festival Dongeng Internasional), festival yang setiap tahunnya ini diadakan oleh komunitas Ayo Dongeng Indonesia.

Keseruan Pendongeng India, Thailand, Singapore
Keseruan Pendongeng India, Thailand, dan Singapore. | © Ayodi
Antusiasme anak-anak dan orangtua
Antusiasme anak-anak dan orangtua. | © Ayodi

Museum Nasional menjadi saksi para pecinta dongeng datang dari berbagai tempat bahkan ada yang hadir dari negara lain. Acara yang berlangsung pada tanggal 5-6 November 2016 diramaikan oleh pendongeng ternama baik dalam negeri maupun luar negeri.

Dari dalam negeri sendiri yaitu PM Toh (Aceh), I Made Taro (Bali), Fanny Haurissa (Maluku), Imam Rozali (Lampung), Kak Awam (Jatim), Paman Gery, Rona Mentari (Jogjakarta) dan masih banyak. Sedangkan pendongeng Internasional yang ikut berbagi cinta: Sheila Wee (Singapore), Jeeva Raghunath (India), Ng Kok Keong (Malaysia), Seung Ah Kim (Korea Selatan), Craig Jenkins (U.K), Wajuppa Tossa (Thailand).

“Indonesia bagaikan kampung halaman. Walaupun pertama kalinya, saya sangat senang bisa mendongeng di hadapan anak-anak Indonesia” ada buliran halus yang jatuh membasahi pendongeng asal Singapore.

Tidak hanya di awal bulan November, menyambut Hari Dongeng Nasional digemakan dari rumah ke rumah, yaitu dengan mendongeng untuk anak sendiri, adik-adik, ataupun siswa. Tentunya, tidak hanya mencoba menggiatkan dongeng untuk ramai di rumah-rumah. Sebagai bentuk kecintaan yang mendalam dan menjadi generasi yang merawat kebaikan Pak Raden, di pertengahan bulan November pun berada di tempat yang berbeda yaitu Poso, Jogjakarta, Bandung, Bogor. Gempita oleh dongeng dan puncaknya yaitu di hari kelahiran Pak Raden, Ayo Dongeng Indonesia merayakannya serempak di tujuh tempat: di Sekolah Yayasan Pendidikan Anak Cacat (Jakarta), Taman Bermain Kepompong (Jakarta), Perpustakaan Dexagroup (Bintaro), PAUD Bina Keluarga Bahagia Gelatik (Bekasi Barat), Yayasan Dompet Yatim dan Dhuafa Rempoa ( Ciputat, Tangsel), Perpustakaan Mosintuwu (Tentena-Poso), SD Kecil, Pulau Sjahrir, Banda Neira ( Maluku).

Kesan dan pesan dari para pendongeng
Kesan dan pesan dari para pendongeng. | © Ayodi
Pantia FDII
Pantia FDII | © Ayodi

Tentu titisan perawat mimpi Pak Raden tidak hanya komunitas Ayo Dongeng Indonesia, masih banyak lagi: Kampung Dongeng, Kukuruyuk, Buku Berkaki, Dakocan dan masih banyak komunitas baik berupa komunitas dongeng ataupun non dongeng, yang menularkan kecintaan nilai hidup lewat bertutur kata.

“Buat aku, melihat keceriaan dan binar mata anak-anak saat mendengarkan dongeng adalah bayaran termahal. Aku memang belum bisa berbuat banyak, tapi dengan mendongeng, aku bisa menanamkan kebaikan tanpa menggurui mereka” tutur Kak Bonchie tentang perasaannya yang mendalam terhadap mendongeng.

Itulah Mas sensasinya mendongeng, Mas masih jomblo? Carilah gebetan ataupun pendamping yang bisa mendongeng, atau suka dan mau belajar mendongeng. Melalui dongenglah hubungan anak dengan orangtua akan semakin hangat, mencintai budaya, dan belajar banyak hal lewat kata-kata. Jadi, setuju bukan kalau yang mencintai dongeng adalah pasangan-able? Walaupun telat ya Mas, “Selamat Hari Dongeng Nasional!”

Annisa Sofia Wardah

Wanita biasa yang mencintai sastra, anak-anak dan perjalanan.