Tiga Pilihan Profesi dalam Bisnis Kopi

Coffee Cupper
Latihan mencicip citarasa. Kemampuan mengenal citarasa dituntut untuk dimiliki oleh seorang pencicip kopi dan barista. © Nody Arizona

Seiring makin maraknya orang mengonsumsi kopi membuat banyak orang mengambil kesempatan mencicipi usaha perkopian. Hampir di semua daerah di Indonesia pasti ada tempat untuk meminum kopi. Mulai dari warung kopi yang murah meriah hingga kafe yang membuat kita merogoh kantong dalam-dalam.

Sekarang ini, membicarakan usaha perkopian tidak lagi sederhana. Kopi tidak lagi sekadar urusan menanam, memetik, mengeringkan, menumbuk, sangrai, dan menyeduh. Selera masyarakat pun meningkat, yang mengakibatkan pentingnya menjaga kualitas. Dan pada akhirnya, membuka profesi-profesi baru.

Profesi-profesi yang keren ini di dunia perkopian ini dapat kalian coba:

Barista

Jika sebuah bar memiliki bartender untuk meracik minuman beralkohol dengan kepiawaian memainkan botol dan gelas, maka di sebuah coffee house ada barista yang menyajikan secangkir kopi dengan keterampilannya, dari cara tradisional hingga modern.

Profesi barista merupakan profesi yang paling banyak peminatnya. Profesi ini cukup menjanjikan, tetapi gampang-gampang susah. Ada yang memilih ikut kursus barista, ada yang mengasah kemampuan meracik kopi secara pas dengan berkali-kali praktik.

Setiap tahunnya selalu ada Barista Competition baik tingkat nasional maupun di tingkat internasional. Seorang barista dituntut untuk mampu menyajikan kopi dengan baik dan memiliki pengetahuan yang baik pula mengenai kualitas kopi. Itu sebabnya barista kerap disebut seniman kopi. Sebutan tersebut semakin layak disandang ketika barista mampu menghasilkan gambar yang indah dalam latte art.

Coffee Tester / Coffee Cupper

Nama pasangan suami istri, Adi Taroepratjeka dan Mia Laksmi, sudah tidak asing lagi di dunia perkopian. Lisensi coffee taster kelas dunia yang disandangnya semakin menguatkan posisinya sebagai salah satu pencicip terbaik.

Terlihat mudah jika mencomot kata mencicip. Tapi kemampuan menjelaskannya itulah yang sulit. Tidak bisa hanya mengucapkan kopi itu enak atau tidak enak, atau menyampaikan bahwa kopi itu pahit atau tidak pahit.

Merasa, mengecap, membaui, dan memilah rasa itu keahlian yang wajib dimiliki pencicip kopi. Perbendaharaan rasa tentunya harus lebih kaya. Seperti rasa pahit tentu tidak bisa sekedar bilang pahit saja. Pencicip kopi wajib menjelaskan pahitnya seperti apa? Seperti jamu temu hitam kah? Seperti obat antiobiotik kah? Seperti getah? Atau terkontaminasi bauan dari sekitar pengolahan kopi, seperti asap pembakaran dan lain sebagainya.

Pelatihan pengujian citarasa kopi menjadi sekolah wajib bagi mereka yang ingin mendalami keahlian ini. Adakah cara lain? Yup, kemampuan ini bisa ditempa dari kebiasaan, bisa dicoba dengan saling bercerita dan menjelaskan detail kopi yang diminum.

Coffee Roaster

Senjata coffee roaster tentu mesin roasting (sangrai). Pekerjaannya sangat penting untuk menghasilkan biji kopi yang terbaik. Keahlian ini juga perlu pancaindera yang awas untuk mengamati perubahan warna dan aroma kopi ketika proses sangrai.

Pekerjaan coffee roaster itu memuat empat hal: mengatur naik turunnya suhu melalui besar kecilnya api; memperhatikan perubahan warna kopi; membaui aroma, dan mencatatnya dalam laporan berdasarkan waktu.

Tertarik?

Cak Oyong

Lelaki yang bercita-cita menjadi SuperDad.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405