The Real and New Legend of Samarinda Coffee

Sore sedang ditemani rintik hujan. Kamis, 4 April lalu, saya berbincang seputar kopi dengan beberapa teman di kantin sebuah sekolah tinggi. Perbincangan diawali dengan pengalaman teman yang semalam tertidur karena sorenya menikmati segelas Irish Coffee di salah satu kedai franchise luar negeri yang membuka gerai di kota Samarinda. Seorang teman kemudian bertanya, apakah ada kopi Samarinda? Pertanyaan itu mungkin terinpirasi oleh daftar panjang nama kopi yang dibelakangnya memakai nama daerah seperti kopi Kotamobagu, Ijen, Gayo, Mandailing, Sidikalang, Toraja, Flores, Wamena, Lampung dan lain sebagainya.

Berbekal sambungan wi-fi gratis, saya mencari data perihal kopi yang dihasilkan oleh perkebunan rakyat di Samarinda. Akhirnya saya memperoleh data yang bersumber dari Statistik Perkebunan Indonesia 2009–2011 yang dikeluarkan oleh Departemen Pertanian Direktorat Jenderal Perkebunan (update tanggal 1 dan 8 Agustus 2012). Data itu menunjukkan jumlah produksi kopi dari perkebunan rakyat pada 2006 sebanyak 33 ton, lalu pada 2008 sebanyak 204 ton dan terakhir pada 2009 sebanyak 24 ton. Sedangkan lahan perkebunan rakyat yang digunakan untuk menanam kopi seluas 198 hektar.

Melihat jumlah produksi kopi antara tahun 2006–2008 terlihat ada kejanggalan, dimana ada peningkatan jumlah produksi yang sangat besar dan kemudian kembali menurun drastis di tahun 2009. Saya tidak menemukan keterangan kenapa terjadi kenaikan dan penurunan yang luar biasa seperti itu. Saya sendiri sempat melihat tanaman kopi yang tak terlalu luas di Kelurahan Makroman, yang kerap terendam lumpur kala hujan deras mengguyur. Kemana produk biji kopi Samarinda dijual atau siapa yang mengkonsumsinya juga tidak ada informasi yang bisa saya dapatkan.

Kopi hitam Ko Abun. © Toni Wahid

Di Samarinda sendiri tidak banyak dijumpai rumah atau warung kopi tradisional. Sebaliknya, yang berkembang bak jamur di musim hujan justru kafe-kafe modern, baik yang berupa franchise luar negeri maupun Indonesia, serta yang didirikan oleh warga Samarinda sendiri. Dari beberapa yang sempat saya kunjungi tak ada satu pun yang menyajikan minuman kopi yang diracik dari kopi asli hasil perkebunan rakyat di Samarinda.

Selama bertahun-tahun tinggal di Kota Samarinda saya hanya ngopi di gerobak Bu Lik yang ada di ujung jalan KH Abul Hasan. Selama itu pula saya mencari-cari ‘warung kopi’ sejati. Rumah kopi yang menjadi ‘ikon’ Kota Samarinda sebagaimana Rumah Kopi Tikala dan deretan Warung Kopi di Jalan Roda yang termahsyur di Kota Manado. Mungkin karena kurang gaul, maka saya tak menemukannya, hingga suatu saat ada teman yang mengatakan bahwa ada warung kopi yang ‘original’ di seputaran daerah pelabuhan Samarinda. Menurutnya warung kopi itu dimiliki oleh orang keturunan, namanya Ko Abun. Informasi keberadaan warung kopi Ko Abun menurut teman saya di dapat dari Majalah In-Flight yang diterbitkan di Singapura. Reportase tentang warung kopi Ko’ Abun ditulis oleh Toni Wahid, founder dari Cikopi.com (www.cikopi.com, A Sensual Coffeelicious Blog).

Suatu ketika saya pergi untuk merasakan kopi ‘Ori’ Samarinda itu. Berbekal alamat yang diberikan oleh teman saya pergi ke sana sendirian dan tak sulit untuk menemukannya. Sampai di sana, suasana tak begitu ramai, di depan warung banyak orang berkumpul memainkan kartu domino namun tanpa taruhan. Pada kunjungan pertama itu saya tak menemui Ko Abun di warungnya, kopi diracik dan disajikan oleh seorang laki-laki muda, yang meski saya belum kenal Ko Abun, saya bisa memastikan laki-laki yang menyajikan kopi kepada saya pasti bukan Ko Abun.

Ko Abun sedang menyaring kopi. © Toni Wahid

Beberapa hari kemudian saya mengajak seorang teman untuk kembali ngopi di warung Ko Abun. Dan saya mendapati seorang laki-laki yang lebih tua dari yang saya temui sebelumnya. Dalam hati saya menduga, “Ini pasti yang disebut sebagai Ko Abun”. Sambil menikmati kopi seduhan Ko Abun saya memainkan jemari mencoba berselancar di tab yang sinyalnya hilang-hilang. Dan tiba-tiba Ko Abun mendekat dan bertanya, “Itu iPad ya mas?” Dan setelah itu kami terlibat perbincangan tentang berbagai gadget. Ko Abun rupanya ingin membeli iPad 3, namun rupanya jadi ragu karena kemanakannya mengatakan iPad 3 itu tak cocok untuk dipakai di Indonesia. Dan kemenakannya lebih menganjurkan untuk membeli iPad mini.

Kemudian Ko Abun bertanya darimana saya tahu warung kopinya, saya jawab dari teman. Dan mulailah perbincangan tentang kopi antara saya dan Ko Abun. Ko Abun yang akrab dengan pengunjung warungnya itu menceritakan bahwa usaha warung kopi itu diwarisi dari ayahnya dan ayahnya juga meneruskan usaha dari orang tuanya. Jadi Ko Abun adalah generasi ketika yang mengelola warung kopi yang didirikan oleh leluhurnya.

Saya mengatakan kepada Ko Abun, bahwa cara menyeduh kopi dengan saringan kain dan memanaskan air panas dengan arang mengingatkan saya pada deretan warung kopi di Jalan Roda Manado. Kemudian saya bertanya kopi apa yang dipakai oleh Ko Abun, dan Ko Abun mengatakan kopi yang dipakai adalah kopi biji yang dibeli dari pemasoknya di Surabaya. Ketika saya tanya kenapa tidak memakai kopi yang dihasilkan oleh pekebun kopi di Samarinda, Ko’ Abun mengatakan bahwa dulu dia memang membeli biji kopi dari pasar Samarinda. Namun menurutnya kualitas dan kebersihannya kurang terjaga, menurutnya banyak batu tercampur dalam biji kopi sehingga perlu dibersihkan sebelum dipanggang.

Suasana kedai kopi Ko Abun. © Toni Wahid

Pengalaman mengunjungi warung kopi Ko Abun kemudian saya tulis dan upload ke sebuah blog keroyokan. Link-nya kemudian saya bagi ke sebuah group FB dari majalah lokal yang terbit di Samarinda. Wah, malu saya karena apa yang saya anggap sebagai pengalaman baru itu ternyata merupakan cerita lama dari kebanyakan anggota di group FB itu. Menurut mereka warung Ko’ Abun adalah salah satu dari 2 atau 3 warung kopi yang termasuk kategori ‘Legend’ di Kota Samarinda. Beberapa orang yang masuk kategori ternama ternyata adalah pelanggan setia dari warung Ko Abun.

Ketika saya pergi untuk mengikuti Misa Perayaan Kamis Putih, waktu mencari bangku untuk duduk, ada seseorang yang menyapa saya. Perlu beberapa detik untuk mengingat, pemilik wajah yang rasanya belum lama saya kenal, dan akhirnya saya ingat kalau yang menyapa saya adalah Ko Abun. Saya menghampiri dan mengulurkan tangan untuk bersalaman. Wah, ternyata Ko Abun satu gereja dengan saya.

Namun bukan lantaran satu gereja, kalau saya masih menyimpan keinginan untuk meneruskan bincang-bincang dengan Ko Abun di warung kopinya. Saya ingat Ko Abun menyimpan cita-cita untuk mendirikan warung kopi ‘modern’, makanya saya ingin menantang Ko Abun untuk mengembangkan ‘kopi specialty’ yang bekerja sama dengan pekebun di Kota Samarinda. Saya ingin suatu saat di daftar pilihan minuman kopi tercantum ‘kopi Samarinda’, dan siapa tahu Ko Abun bisa memulai sebagai yang pertama. Hingga kemudian Ko Abun bukan hanya disebut sebagai ‘Godfather of Caffeine” melainkan juga menjadi “The Real and New Legend of Samarinda Coffee”.

Saya tahu mungkin itu adalah sebuah harapan yang terlalu tinggi di ‘awang-awang’, sebab jangankan untuk menghasilkan kopi, mempertahankan lahan dari caplokan tambang batubara saja sulit dilakukan oleh pemilik lahan perkebunan rakyat di Kota Samarinda.

Sumber Foto:

Toni Wahid / Cikopi.com / http://www.cikopi.com/2010/09/kopi-ko-abun-godfather-of-caffeine/
  • Elin Akbar

    Wah, bisa dicoba. Setahun lebih di Samarinda belum pernah nemu warung kopi sejati.
    Terima kasih infonya.

  • Yus

    sama-sama

  • Belasan tahun tinggal di Samarinda baru tau ada warung kopi yang begini, biasa minum kopi di coffe shop yang terkesan modern. Thanks for info (y)

  • Echi

    Kedai kopi Ko abun, aamatnya dimana ya ? 🙂

  • yus

    Di jalan pelabuhan…samping hotel harmoni….

  • Echi

    Lain kali kalo ke Samarinda, mungkin bisa coba ke kedai kopi Timur Subur di jalan Yos Sudarso di depan pelabuhan container lama.