The Original Taste from Malabar

Kopi Malabar
Dua cangkir kopi luwak malabar. © Neni Apriyani

Saya termasuk kebanyakan peminum kopi di Indonesia yang kesulitan mencicip aneka rasa kopi. Bagi saya, semua kopi itu sama, hitam dan pahit. Sesekali saya minum kopi di kantor sebagai tolakbala rasa penat dan kantuk.

Kali ini, saya bersama seorang kawan belajar tentang kopi di Malabar, Bandung bagian barat. Saya mengunjungi salah satu desa di kaki Gunung Malabar yang terkenal dengan suguhan kopinya. Desa Pasir Mulya. Di desa ini ada salah satu produsen kopi luwak yang menjadi kebanggaan kota Bandung.

Malabar tak terpisahkan dari sejarah kopi di Indonesia. Di sinilah perkebunan kopi pertama dibuka oleh Belanda pada 1696. Benih kopi yang ditanam itu kiriman Adrian van Ommen, dari Malabar, India. Sejak itulah daerah ini dikenal sebagai Malabar.

Tak susah menemukan Desa Pasir Mulya, di pinggiran jalan raya terdapat banyak petunjuk jalan menuju kopi luwak malabar. Tetapi, sesampainya di pintu desa saya agak kebingungan. Jalan berkelok-kelok ketika sampai pintu desa, petunjuk jalan tidak ditemukan lagi. Saya bertanya kepada seorang penduduk yang sedang memanggul kaleng susu. Ia memberitahu bahwa pemilik pertenakan luwak di desa tersebut bernama Supriatna Dinuri.

Touchdown!!

Kopi Malabar
Pohon kopi kelompok tani Rahayu Malabar. © Neni Apriyani

Plakat hijau bertuliskan kopi luwak malabar berukuran satu meter menandakan kami telah sampai. Tak ada siapa pun ketika itu. Saya coba berkeliling. Barangkali ada seseorang yang ditemui. Kurang dari lima belas menit, seorang pemuda dengan mengedarai motorgunung datang menyapa.

“Ada yang bisa dibantu?” sapa sang pemuda.

“Saya ingin mencicip kopi luwak malabar,” kataku.

Sang pemuda seperti telah terbiasa menerima orang yang datang ke perkebunan ini, langsung memberikan infomarsi seputar tempat produksi kopi luwak malabar.

Sebuah mobil bak putih mewah yang mengangkut beberapa pohon kopi di bak belakang datang. Pemuda tersebut langsung menyapa sopan seseorang di dalam mobil. Ia mengatakan maksud kedatangan saya. Itulah Pak Nuri, pemilik perkebunan kopi luwak. Saya berharap bisa bercakap lama dengannya, tapi sepertinya tidak mungkin karena ia sedang terburu-buru.

Setelah mendengar arahan, sang pemuda langsung mengenalkan diri bernama Irfan dan ia salah satu karyawan perkebunan luwak malabar. Saya bersiap melihat perkebunan kopi luwak. Sebelum itu, saya diajak terlebih dahulu mencicipi kopi luwak produksi perkebunan sini. Nah, memang itu yang sedang ditunggu. Saya menghampiri sebuah bangunan, pintu kaca dibuka, di dalam rumah ini adalah tempat biji kopi diolah. Irfan langsung menawarkan mau mencoba varian kopi apa. Hhmm… Dua cangkir kopi panas dari kotoran luwak kami pesan.

Irfan masuk ke dalam ruangan yang terdapat mesin pesangraian kopi. Mengambil beberapa jumput biji kopi di kedua tangan dan memasukan ke mesin penggiling. Saya mengambil beberapa jepretan foto selama proses pengolahan kopi.

And done! Kopi panas kecokelatan kini tersaji.

Kopi Malabar
Irfan, pemuda yang tak jemu memberikan informasi tentang kopi. © Neni Apriyani

Dengan senyum terkulum, Irfan menyondorkan dua cangkir kopi luwak panas siap seruput. Saya tak sabar ingin merasakan sensasi kopi luwak. Suguhan kopi di sini sederhana dibanding sajian kopi kedai-kedai di pusat kota. Tapi tunggu, kopi yang kita minum akan lebih memikat kalau telah mengenalnya lebih jauh. Tidak peduli penampilan, kasar, dan seolah-olah tidak membutuhkan kemampuankhusus untuk meraciknya. Namun, ciumlah aromanya terlebih dahulu.

Hmmmm.. Sambil mengembangkan cuping hidung, menghirup dalam-dalam kepulan asap yang membungbung dari cangkir, saya terpesona. Srupp!!

Dua sampai tiga kali kali kopi saya teguk perlahan. Serasa menerjemahkan rasa, saya terbuai nikmat kopi luwak malabar. Rasa pahit mulai menyapa lidah. Mengetahui itu, setoples gula aren langsung ditawarkan. Saya membubuhi tiga sendok teh gula aren, berharap rasa pahit tidak begitu melekat di rongga mulut. Tak lupa mengaduknya lembut, sembari mengobrol dengan Irfan. Kini rasa kopi sudah pas di lidah.

“Mantappp!” kataku.

Irfan tersenyum sumringah. Ia menambahkan informasi bahwa kedasyatan kopi terletak pada temperatur, tekanan, dan urutan langkah pembuatan yang tepat. Saya sungguh menikmati kopi ini, apalagi Irfan tak jemu untuk menjelaskan bagaimana kopi diproses, dari sistem menanam, cara merawat luwak, sampai kopi tersebut terhidang.

Kopi Malabar
Biji kopi malabar. © Neni Apriyani
Kopi Malabar
Aneka jenis kopi malabar. © Neni Apriyani

Kopi malabar dibagi ke beberapa jenis menurut lokasi penananam dan cara pengolahannya. Penetapan banderol pun melihat ketinggian lahan tanam dan tingkat kesulitan proses olah kopi. Jenis kopi gourmet yang termahal, jenis ini termasuk kopi arabika, ditanam di lokasi tertinggi dan diolah secara khusus. Kopi luwak termasuk jenis kopi gourmet yang dihasilkan dari proses pilih dan cerna dari binatang luwak.

“Mereka (Luwak) itu pintar loh,” lanjut Irfan. Mereka dapat memilih sendiri biji kopi terbaik. Setelah memakan mereka mengeluarkan kotoran plus biji kopi, dan kemudian diolah lebih lanjut. Luwak tak makan kopi setiap hari, tapi hanya di waktu-waktu berlansung panen kopi, yang dimulai antara April dan Mei setiap tahunnya.

Luwak termasuk sejenis binatang pengerat yang sangat sensitif. Kandang luwak harus selalu bersih. Mereka juga bisa memilih tempat mengeluarkan kotoran biji kopi dan lokasi berbeda untuk mengeluarkan kotoran dari makanan lain. Pintar sekali binatang ini, seakan mereka tahu bisa menghasilkan kopi dengan citarasa yang dahsyat.

Aduh, semakin tak sabar saya ingin menemui hewan unik ini.

Kopi Malabar
Luwak di peternakan luwak koperasi tani Rahayu di Malabar. © Neni Apriyani

Satu jam lebih mengobrol tentang kopi malabar, sekarang waktunya menuju perkarangan luwak. Saya diwanti-wanti tidak mengambil gambar. Bah!! Layaknya selebritis saja, pikirku. Ya sudahlah, saya pasrah. Kamera tetap saya kalungi.

Kurang dari satu kilometer berjalan menelusuri jalan desa, sampailah saya di sebuah lahan kecil dikelilingi tembok tinggi. Beberapa pekerja sedang membersihkan pengeringan biji kopi. Saya masuk, dan sang pemuda membukakan teralis besi yang terdapat kandang luwak di dalamnnya. Saya bergegas masuk. Ada sekitar 40 kandang luwak berbaris rapi dengan satu kandang terisi satu Luwak. Mirip perumahan rumah sederhana di pinggiran kota.

“Luwak ini dilarang stres,” katanya. Itu alasan kenapa kandang selalu dijaga kebersihannya. Setiap hari ada petugas yang membersihkan kandang. Di sela-sela obrolan , tak disangka Irfan menawarkan untuk mengambil salah satu foto luwak. Wah, betapa senangnya saya.

Siapa yang menyangka kalo kotoran hewan bisa menghasilkan biji kopi dengan citarasa tinggi? Yes, luwak is unique. Saya yakin kopi jenis ini salah satu kekayaan Nusantara.

Saya pulang dari perjalanan ke Bandung kali ini dengan membawa oleh-oleh kopi malabar Gourmet Arabica, dan cerita ini tentunya.

So long Malabar!!

Neni Apriyani

Fotografer lepas, penikmat tualang. Tinggal di Jakarta.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405
  • Efi

    Mbak Neni, mau tanya dong… Jadi kalau kita mau ke sana, perlu janjian dulu engga ato bisa langsung aja?
    Makasih ya mbak