The Notebook: Usaha Merawat Ingatan

“Seorang laki-laki memegang dua dayung yang terikat pada kedua sisi sampannya, dia gerakan perlahan secara bersamaan. Sebuah pelayaran kecil menelusuri senja, sekelompok burung-burung terbang rendah mernyertainya, sayapnya dikepakan sesekali saja untuk bisa menyertai laki-laki itu berlayar.

Sekelilingnya menyerupai warna merah senja, kecuali bayang-bayang yang tidak bisa menirukan warna senja itu. Senja itu selain menjadi sumber puisi para penyair juga sering menjadi penggambaran usia yang tua, dimana apa yang kita sempat miliki ketika muda perlahan menghilang, setidaknya itu berkurang.

Tubuh tidak lagi bugar, menjadi lebih sensitif dari bayi-bayi yang baru terlahir. Ingatan memudar seperti kain yang kehilangan warna cerahnya, warna-warna itu masih bisa dikenali dan tidak menghilang namun itu mengusam, begitupun dengan ingatan kita nanti ketika berada pada usia yang mereka sebut sebagai usia senja. Kita akan kesulitan mengingat secara utuh, bahkan sekedar mengingat dengan cara apa kita jatuh cinta ketika muda dulu. Akan begitu sulit, sekalipun ada yang sukarela menuntunnya.”

Mengulas film The Notebook (2004)? Tidak! Katakanlah ini hanya sekadar pengalaman menjadi penonton, karena mengulas itu butuh pemahaman yang baik seputar film, tulisan ini pun tidak mencapai seribuan kata untuk pantas disebut ulasan sebuah film yang berdurasi hampir dua jam itu dan memang terlalu lawas juga, bisa dilihat dari tahun rilisnya, dan saya baru menontonnya beberapa hari lalu.

Film ini berlatar di kota tertua di bagian Carnolia Selatan, Amerika serikat. Film drama romantik Amerika ini lahir dari sebuah novel dengan judul yang sama karya dari Nicholas Sparks tahun 1996. Di sutradarai oleh Nick Cassavetes dan diproduseri Lynn Harris dan Mark Johnson. Berkisah tentang usaha seorang laki-laki tua yang keras kepala mengembalikan ingatan yang hilang dari kekasihnya (Istri) di sebuah rumah panti jompo dengan ingatan-ingatannya yang sudah berhasil ia tuliskan. Dia membacakan cerita itu kepada kekasihnya setiap hari. Tidak ada lelah baginya.

Ada beberapa bagian yang saya suka dalam film ini, yang pertama adalah ketika babak awal perjumpaan Noah muda yang diperankan oleh Ryan Gosling dan Allie diperankan oleh Rachel Mcadam, pertemuan di sebuah karnaval. Noah melakukan tindakan luar dugaan bagi seorang pemuda yang merasa tertarik pada seorang perempuan yang baru pertama dijumpainya, bahkan itu terlalu nekat, gila dan bodoh. Menggelantungkan dirinya pada palang besi di sebuah komedi putar yang sedang beroperasi, kalau di Indonesia kalian akan menjumpai benda itu di pasar malam di desa-desa/pinggiran kota. Noah melakukan tindakan gila itu hanya untuk diterima ajakan kencannya oleh Allie, berbeda dengan ketika saya mengetahui teman laki-laki saya menyukai perempuan. Mereka akan bertindak malu-malu, seolah cuek padahal diam-diam memperhatikannya dari kejauhan. Adegan itu yang membikin saya mengumpat “edan, apa bener orang barat senekat itu?”

Yang kedua, adalah ketika ketegangan yang lain hadir, ketika orang tua Allie mengetahui bahwa anaknya memiliki hubungan dengan pria desa yang berkerja di sebuah pabrik pengolahan kayu, yaitu Noah. Keluarga Allie berasal dari keluarga bangsawan, sudah bisa ditebak persoalannya adalah restu, seperti bencana kekeringan yang tiba-tiba datang saat tanaman sedang mulai tumbuh . Ini bisa kita banyak jumpai di sekitar kita, jangan jauh-jauh ke barat kalau soal restu orang tua. Ketika orang tua berkeyakinan bahwa laki-laki yang sedang dekat dengan anak perempuannya dirasa tidak bisa mengamankan sandang, pangan, papan anaknya maka sudah bisa dipastikan kita akan lemas lutut. Laki-laki yang propertyless itu memang menyedihkan, hmmmm.

Terakhir adalah ketika Allie tua mengingat bahwa apa yang dibacakan laki-laki di hadapannya adalah kisah mereka berdua. Usaha keras kepala mengembalikan ingatan itu tidak sedikitpun berkhianat walaupun dalam waktu yang singkat Allie tua kembali kehilangan ingatannya kembali. Ingatan Allie kembali pulih sepulang Noah dari rumah sakit karena terkena serangan jantung, perasaan Allie begitu gembira mendapati Noah sudah berada di samping pembaringannya. Ada dialog-dialog yang menurut saya berhasil membuat siapapun yang menonton film ini merasa haru. “Apa yang akan terjadi, ketika aku tidak bisa mengingat apapun lagi”. Noah memecah kecemasan Allie dengan berjanji bahwa dia akan selalu berada di dekatnya. Kemudian keduanya berbaring di sebuah ranjang dengan dua tangan saling menggenggam, keduanya menutup usia dalam satu pembaringan, memastikan tidak akan ada hal apapun lagi yang bakal mengganggu cinta mereka.

Ini mengingatkan saya pada pasangan pemilik rumah kos saya ketika SMA, saya perkirakan usia keduanya tidak kurang dari 60 tahun, keduanya selalu menunjukan keromantisan di depan anak-anak kos, membikin siapapun yang menyaksikannya tersenyum geli. Tapi itu benar tulus, mengajari saya bahwa keromantisan itu harus ditunjukkan sampai kapanpun, bukan anak muda pemilik tunggal dari hal-hal semacam itu. Tidak saya tangkap itu adalah usaha mereka bertahan dalam kebosanan, alamiah tanpa kepura-puraan.

Setelah menonton film The Notebook ini saya juga mengingat Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin atau yang lebih kenal dengan nama NH Dini. Masa tuanya tinggal di rumah panti jompo. Karena si narator berkisah disana, saya mengingatnya.

Bagus Sentanu

Pembaca jenis buku apa saja dan menulis sebisanya.

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com