The Man Who Sleeps: Teralienasi dalam labirin rutinitas

Membicarakan film-film besutan dari sineas asal kota mode Perancis sama saja seperti tersesat di tengah kerumunan orang-orang di pasar kaget saat hari minggu. Ada terlalu banyak manusia dan barang-barang jualan yang eksentrik, ganjil juga menarik untuk dilihat-lihat dan dibeli. Di era tahun 30an sampai 80an itu Ada Jean Cocteau (Orpheus, Beautyand the Beast, The Blood of a Poet), Robert Bresson (Au Hasard Balthazar), Alain Resnais (Hiroshima Mon Amour, Last year at Marienbad) Jean Luc Godard (A Woman is a Woman, Pierrot le Fou, Contempt, Breathless), Francois Truffaut (The 400 Blows), Jean Pierre Melville (Le Samourai, The Red Circle, Army of Shadows). Lalu ke era yang lebih modern kita bisa melihat kiprah Michael Gondry (Eternal Sunshine of the Spotless Minds, The Science of Sleeps), Olivier Assayas (Irma Vep, Clouds of Sils Maria), Jean Pierre Jeunet (Amelie, Delicatessen), Leos Carax (Holy Motors) dan tentunya si bajingan Roman Polanski (Rosemary’s Baby, Chinatown, The Pianist, The Ghost Writer). Saking banyaknya, terus terang saja ada beberapa film dari beberapa sineas yang sengaja saya saya bubuhkan namanya, meski saya sering mendengar nama dan reputasi mereka. Sama seperti barang-barang di pasar kaget, meski unik tapi belum tentu menarik perjatian saya.

Namun tidak dengan The Man Who Sleeps (1974) besutan Bernard Quaysanne, sutradara “antah-berantah” asal Perancis lainnya, Begitu saya membaca sinopsis dan beberapa ulasan pendek dari para cinephile di Mubi, saya bergegas mencari film ini di beberapa situs untuk mengunduhnya, secara ilegal tentunya. Diadaptasi langsung dari novel karangan Georges Perec (yang mana ikut membantu menyutradarai) yang berjudul A Man Asleeps, The Man Who Sleeps menuntun kita untuk memasuki lorong kehidupan seorang mahasiswa tak bernama (Jacques Spiesser) di kota Paris.

Buang jauh-jauh bayangan kalian dari Paris yang disuguhkan Woody Allen di Midnight In Paris. Tidak ada sinematografi artistik, lanskap pemandangan cantik bak lukisan Renoir dan Monet, atau musik latar jazz yang romantis dalam film ini. Alih-alih membungkus film ini dengan warna-warna cantik seperti dalam film Midnight In Paris, Bernard Queysanne dan Georges Perec justru membuat kota yang dijuluki City of Lights ini mati lampu. Gelap, sunyi, dan gerah. Yang mana bagi saya justru tepat untuk mendukung premis, atmosfer serta nuansa sepi dan terasing dalam film tersebut.

Dalam film ini kita akan diajak untuk memasuki labirin rutinitas seorang mahasiswa yang repetitif, namun manis. Melihat si pemuda ini menghabiskan waktunya di dalam kelas, bermain kartu, menonton film, merenung, merokok, ngopi dari mangkuk, berjalan-jalan di jalur pedestrian, pergi ke galeri seni, melamun lama di dalam kamar dan lain-lain yang dilakukannya sendirian membuat saya yang menonton ikut merasa kesepian dan terasing, tapi di satu sisi ada bagian dalam diri saya yang merasa tercerahkan. Rasanya seperti mendengarkan “Take My Breath Away” dari Berlin atau “Under Your Spell” dari Desire sehabis beraktivitas seharian, lalu dilanjut bercumbu dengan kekasih orang di kamarnya yang lembap ditemani beberapa batang rokok kretek, secangkir kopi Gayo panas dan kerlap-kerlip sinar lampu papan reklame dari luar jendela. Nikmat, berkeringat terkantuk-kantuk, merasa buruk dan lelah bercampur menjadi satu.

The Man Who Sleeps
The Man Who Sleeps

Agak berbanding terbalik dengan tokoh Meursault dalam buku The Stranger karya Albert Camus yang terasing dengan dirinya sendiri, tidak mempunyai ambisi, serta menganggap hidup ini nirmakna, si pemuda dalam film The Man Who Sleeps ini justru merenungkan dan mempertanyakan keterasingannya serta bagaimana cara menghadapinya. Berusaha mencoba untuk keluar dari rutinitasnya sehari-hari, si pemuda ini “berkeliling” kota melakukan berbagai macam hal kecil, namun apa yang dia dapat justru menjerumuskannya pada “keterasingan-keterasingan” lain di jurang “kesepian” yang berbeda.

Seperti yang dikatakan si narator dalam suatu adegan,

How many times you have repeated the same amputated gesture, the same journey’s that lead nowhere? All you have left to fall back on are your tuppeny-halfpenny boltholes, your idiotic patience, the thousand and one detours that always lead you back unfailingly to your starting point. All that counts is your solitude : whatever you do, whenever you go, nothing that you see has any importance, everything you do, you do in vain, nothing that seek is real. Solitude alone exists, every time you are confronted , every time you face yourself. . .

Adegan terakhir ketika si pemuda menyusuri jalan di gang sendirian dengan narasi yang menjelaskan bahwa si pemuda ini mulai takut terhadap beberapa hal, dan akan menunggu hujan selesai turun di suatu tempat seolah menyiratkan bahwa si pemuda mulai takut dan cemas dengan keterasingannya. Ketakutan dan kecemasan si pemuda dapat kita lihat di akhir-akhir film dalam berbagai adegan, seperti saat dia meringkuk terpekur di dalam kamarnya atau menggigiti jarinya tanpa alasan.

The Man Who Sleeps
The Man Who Sleeps

Georges Perec dan Bernard Queysanne seolah ingin mengajak kita becermin bahwasanya kota besar bukanlah jaminan kita lolos dari sergapan keterasingan, malah justru sebaliknya. Paradoks memang. Tidak perlu jauh-jauh ke Paris. Kita bisa catut nama kota tempat tinggal sendiri. Terkungkung, teralienasi dalam sebuah labirin rutinitas bisa terjadi di mana saja dan kapan saja di saat-saat yang tak terduga.

Arti kalimat “Menunggu hujan selesai turun” di akhir film bagi saya seperti sebuah simbol, bahwa untuk keluar dengan mulus dari keterasingan adalah sesuatu yang membutuhkan kesabaran. Untuk keluar tanpa basah kuyup, kita membutuhkan payung yang tepat. Atau kalau kita tak sedang membawa payung. Ya, berteduhlah sampai hujan itu reda.

Bagi saya pribadi, The Man Who Sleeps adalah sebuah serenade paling puitis yang pernah dibuat dalam bentuk sinema. Menonton film ini sama saja dengan menonton rekaman pribadi seorang pemuda yang direkam oleh badan intelegensi tertentu. Tanpa dialog, dipoles warna hitam-putih, tak jarang memakai teknik pengambilan gambar tracking in/out yang lambat serta hanya dinarasikan oleh suara seorang wanita (voice-over) yang melenakan dan meninabobokkan para penonton. Mungkin film ini khusus direkomendasikan untuk para pengidap insomnia yang juga sedang kesepian dan merasa terasing di hari-harinya yang datar. Seperti kalian yang membaca tulisan ini.

Dimas AT Permadi

Cerpenis di Narazine.co

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com