The Handmaid’s Tale dan Bagaimana Suramnya Dunia di Bawah Dominasi Patriarki

Rumah-rumah besar, pagar tinggi, para Handmaid yang selalu berjubah merah dengan penutup kepala yang membuat wajahnya nyaris tidak kelihatan, serta dominasi tampilan warna kecoklatan kerap membuat penonton serial TV The Handmaid’s Tale pada awalnya bertanya-tanya: Kapan cerita ini berlangsung?

Pada mulanya, The Handmaid’s Tale adalah sebuah novel distopia setebal 311 halaman yang ditulis Margaret Atwood dan rilis pada tahun 1985. Latar tahun terjadinya cerita ini tentu saja tak jauh-jauh dari sekitar itu ketika Amerika Serikat berada di bawah rezim Ronald Reagan. Pemerintahannya sempat beberapa kali membatasi hak-hak perempuan dengan adanya gerakan Anti-Aborsi serta tuntutan untuk kembali kepada sistem perkawinan tradisional.

Di balik itu, isu feminisme juga cukup kencang. Misalnya, ada ide bahwa hubungan seksual semestinya konsensual. Tapi asas itu kenyataannya masih sebatas isapan jempol. Hasilnya, gerakan Anti-Pornografi menguat karena dalam pornografi seringkali tidak konsensual. Benturan isu perempuan ini kemudian menjadi bahan bakar Margaret Atwood dalam menyelesaikan novelnya. Dua puluh dua tahun setelah buku Atwood terbit, sutradara Bruce Miller bekerja sama dengan perusahaan layanan streaming mengadaptasi buku Atwood ke dalam sebuah program serial TV yang tayang perdana pada April 2017.

The Handmaid’s Tale
The Handmaid’s Tale | Sumber: Wikia.com

Handmaid adalah sebutan untuk budak seks yang dipelihara di rumah-rumah di suatu negara bernama Gilead yang dulu merupakan Amerika Serikat. Anjloknya tingkat kelahiran di sana memunculkan suatu premis: negara bisa diselamatkan jika perempuan dikembalikan ke dalam rumah. Pandangan ini lalu melahirkan sebuah hukum yang memaksa Amerika Serikat lenyap digantikan Republik Gilead.

Di Gilead, pemerintah memiliki kekuatan mutlak untuk menjebloskan para perempuan ke dalam sebuah lembaga bernama Red Center sebelum akhirnya dikirim ke rumah-rumah bakal calon majikannya. Segala hal yang tadinya menjadi hak-hak perempuan seperti bekerja, kepemilikan atas harta kekayaan, bahkan membaca dan menulis kemudian dilarang. Dengan kata lain, perempuan hanya berperan sesuai dengan fitrah biologis yang melekat pada tubuhnya yaitu menghasilkan keturunan.

Sayangnya, penindasan belum berhenti di sana. Struktur masyarakat sengaja disusun untuk menciptakan kelas-kelas sosial yang membuat penindasan terhadap Handmaid makin berlapis karena menempatkan mereka pada lapisan terbawah. Dalam setiap rumah, yang paling berkuasa adalah nyonya majikan yang bertugas menjalankan rumah tangga serta Martha, sebutan untuk perempuan yang ditugaskan sebagai juru masak.

Selain itu, ada Aunt sebagai petugas yang berwenang melatih para Handmaid, Eyes sebagai agen mata-mata: tugasnya memata-matai gerakan pemberontakan. Hunter sebagai petugas yang menangkapi mereka yang mencoba melarikan diri, serta Jezebel: rumah bordil tempat para pelacur. Kecuali Eyes dan Hunter, semuanya adalah perempuan. Sementara yang paling berkuasa di atas semuanya tentu saja adalah para tuan sebagai para elit di pemerintahan, disebut Commander.

Dengan berdiri di atas premis tersebut, tak heran jika The Handmaid’s Tale menjelma menjadi sebuah serial TV yang menarik untuk ditonton karena mampu memberikan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi jika patriarki terus langgeng dan bahkan semakin kuat.

Dengan alur maju mundur, Ofred, seorang Handmaid yang bersikap penuh kehati-hatian menarasikan sebagian besar cerita dalam serial ini. Meskipun marah dengan situasi yang menimpanya, tapi ia cukup waspada dengan tidak melampiaskan kemarahannya secara meledak-ledak. Ia tahu bahwa statusnya sebagai budak selalu diawasi sehingga kemarahan sedikit saja dapat dicurigai sebagai pemberontakan dan membuatnya mati sia-sia. Sebaliknya ia juga tidak begitu saja membiarkan dirinya menyerah dan menerima sistem yang merenggut keluarga dan hak-haknya sebagai perempuan.

Dalam sepuluh episode, penonton bakal melihat bagaimana Ofred berusaha menemukan kelompok pemberontak yang akan membantunya keluar dari Gilead dan menemukan anaknya. Hal ini juga yang pada akhirnya menjaga Ofred untuk tetap waspada dan menuntunnya untuk terus menjalankan pemberontakan dari bawah tanah.

Ada semacam kekuatan agar tetap bertahan setiap kali Ofred mati rasa dan nyaris menyerah. Pada episode empat misalnya, ada sebuah ungkapan yang ditulis dalam bahasa Latin berbunyi: Nolite Te Bastardes Carborundorum, jangan biarkan para bajingan menjatuhkanmu. Ofred menemukan tulisan ini setelah berhari-berhari mendekam di kamar. Situasinya saat itu menggambarkan bagaimana ia mulai mati rasa. Ia berbaring miring di dalam ruang ganti dan di sanalah ia menemukan kutipan itu. Terpahat pada dinding kayu. Nyalinya mulai kembali karena ia berpikir kalimat itu pasti ditulis oleh Handmaid sebelum dirinya tinggal di rumah itu. Meskipun kenyataannya Handmaid sebelum dirinya itu berakhir mati gantung diri tapi ia memiliki kekuatan yang sama besar dengan Ofred.

The Handmaid’s Tale
The Handmaid’s Tale | Sumber QZ.com
The Handmaid’s Tale
The Handmaid’s Tale | Sumber: Vulture.com

Emily Nussbaum, kritikus film The Newyorker mengemukakan sejumlah perbedaan pada novel dan serial TV The Handmaid’s Tale. Hal yang memang cukup sering terjadi pada sebuah film yang diadaptasi dari novel.

Dalam novelnya, poros yang menggerakkan Ofred agar tidak menyerah adalah keinginannya untuk tetap waras di tengah situasi yang gila. Ia menulis, “Menyakitkan baginya untuk mengingat anaknya, tapi yang terus mendorongnya adalah bukan karena ia mau menemukan keluarganya, tetapi supaya tetap waras”. Ofred pada novel adalah seorang saksi dan bukan pahlawan yang memberontak. Sementara dalam serial TV, Ofred justru adalah kebalikannya. Ia sangat ingin menemukan kembali anaknya sehingga ini yang menggerakkan ia agar terus bertahan dan memberontak.

Namun, yang membuat cerita ini layak ditonton bukan hanya soal Ofred. Kekuatan serial ini justru terletak pada keberhasilan sutradara yang mampu membangun kesan suram. The Handmaid’s Tale menyodorkan pengalaman menonton yang cenderung menghantui. Pada sebuah episode, misalnya ada adegan dimana para Handmaid ini harus melakukan kerja bakti membersihkan darah yang meluap saking banyaknya orang yang dibunuh. Kamera juga kerap menempatkan orang-orang yang digantung di gedung-gedung sebagai latar jalannya cerita. Jadi selain perhatian penonton terpusat pada percakapan para tokoh, pemandangan tadi diam-diam merayap ke dalam alam bawah sadar. Menimbulkan teror yang menghantui penonton.

Meski serial ini telah rampung disiarkan pada Juni 2017, bagi yang belum sempat menyaksikan, tidak ada salahnya jika mulai menyisihkan waktu menyimak cerita Ofred. Selain (membuat) kepala terasa pening kadang-kadang ada semangat yang meletup-letup ketika menyaksikan beberapa bagian. Semangat yang jika ditelusuri lebih dalam, sudah mulai hilang tergerus rutinitas sehari-hari. Apa semangat itu? Tonton dan cari tahu sendiri.

Ruhaeni Intan

INFP dan sementara tinggal di Jogja. Kadang-kadang ngopi di Kendi tapi lebih banyak tidur-tiduran atau nonton film di kosan. Kadang-kadang menulis cerpen tapi lebih banyak malas-malasan.