The Casper dan Karyativity

Malam ini Jember begitu dingin. Ironisnya, di kamar kos saya tidak ada sesuatu apapun untuk menghangatkan badan. Hal yang pertama kali muncul di benak saya hanya satu: ngopi.

Sebagai kaum kos-kosan marjinal—jomblo pula—adalah suatu kebahagiaan pada malam yang dingin seperti ini menyeruput kopi hitam panas bersama teman-teman sembari ledek-ledekan. Apalagi ditambahi suasana yang musikal. Wah, pasti hangatnya mengalahkan kehangatan bed cover.

Tanpa pikir panjang, motor saya pacu menuju sebuah kafe yang baru 3 bulan berdiri di Jember. Namanya The Casper. Letaknya di Jalan Kalimantan, depan Masjid Sunan Kalijaga. Pada deretan ruko paling pojok selatan menghadap ke barat.

The Casper Cafe
The Casper Cafe © Amal Taufik

Sebelum masuk ke dalam kafe. Langsung menuju meja bar. Membuka menu. Yang melayani pesanan saya adalah Hudi, pemilik The Casper.

“Kopi yang paling enak deh,” pesan saya.

Sembari menghisap kretek, Hudi mengangkat jempol tangannya.

Selagi menunggu pesanan, saya melihat ke sekeliling kafe. Ada beberapa orang kawan yang sudah memenuhi 2 meja yang terletak di luar kafe. Di kafe ini memang ada dua pilihan. Mau ngopi di dalam atau luar ruangan. Di dalam ruangan ada 5 meja, sedang di luar ada 3 meja. Malam itu pengunjung lebih banyak berada di area luar kafe.

Di kafe ini, pengunjung bisa melihat banyak poster di dinding kafe. Ada John Lennon, Paul Mc Cartney, Rolling Stones, dan beberapa band lawas yang saya tak tahu namanya.

Ada yang unik di kafe ini. Hudi menyediakan sebilah papan tulis di dinding, lengkap beserta kapur beraneka warna. Untuk apa? Ternyata itu wahana bagi pengunjung untuk menulis apa saja. Kalau sedang ngopi tiba-tiba galau, bolehlah menulis puisi sekaligus curhat di papan tulis itu.

Kopi datang sekira 5 menit setelah saya memesan. Secangkir kopi dengan uap mengepul seolah melemparkan kail ke mulut saya. Pada sruputan pertama, saya tidak menambahkan gula. Sehingga pahitnya kopi langsung berkenalan dengan pangkal lidah dan langit-langit mulut.

Pada sruputan kedua dan seterusnya saya menambahkan satu setengah sendok gula. Pahitnya kopi masih ada meski tidak begitu dominan. Kalau digambarkan kira-kira rasanya begini: pahit-asam-agak manis.

Ada sebuah “gitar tak bertuan” tergeletak di atas meja. Tak lama kemudian, datang seorang pemuda mengambil gitar itu dan langsung memainkannya. Suasana The Casper menjadi riuh menyenangkan. Beberapa lagu band Naif, Steel Heart, hingga Bon Jovi dinyanyikan dengan di sertai sedikit gurauan yang khas.

The Casper ini juga merupakan basecamp sekumpulan pegiat sosial media dan kegiatan kreatif di Jember. Mereka tergabung dalam sebuah komunitas yang bernama Karyativity.

Aksi mereka di sosial media, kegiatan-kegiatan kreatif, dan bakti sosial di Jember membuat nama Karyativity beberapa bulan ini naik daun. Terakhir, mereka diundang JTV Jember untuk dialog tentang sosial media. Dan percaya tidak percaya, cikal bakal komunitas ini adalah kopi.

Komunitas ini memang lahir karena para pendirinya suka ngopi. Para punggawa Karyativity tidak akan punya ide segar kalau tidak menenggak doping bernama kopi. Syndi, misalkan.

Ketua Umum Karyativity yang juga seorang penyair muda kebanggaan Lumajang ini mengaku tidak bisa menulis puisi kalau tidak minum kopi terlebih dulu

Beda Syndi, beda Risqi, punggawa Karyativity lainnya. Ia menjadi admin sebuah akun twitter bernama @jomblojember. Twitnya dikenal lucu, nakal, dan menghibur. Fansnya kebanyakan perempuan usia 20 tahun ke bawah. Ia mengaku tidak bisa ngetwit lucu dan nakal jika tidak ada kopi di sebelahnya.

Terakhir, ada satu lagi punggawa Karyativity yang tak bisa lepas dari kopi, yakni Adit. Entrepreneur muda di kancah bisnis online ini juga benar-benar tak bisa lepas dari segelas kopi hitam jika sedang berselancar di internet. Ia cepat merasa buntu jika tidak ngopi. Begitulah, kopi menjadi bagian paling penting dalam sebuah komunitas kreatif ini.

Kopi tanggul
Kopi tanggul © Amal Taufik

Tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam. Para pengunjung The Casper unjuk diri satu per satu. Sebelum pulang, saya menyempatkan diri bertanya tentang kopi yang saya minum.

“Itu kopi Robusta dari Tanggul. Ibuku yang menyangrai sendiri,” kata Hudi.

Tanggul adalah sebuah nama kecamatan di Jember. Pantas saja, gumam saya. Selain enak karena kelihaian Hudi meracik kopi, kasih sayang seorang ibu dalam menyangrai kopi mungkin membuat kopi yang saya minum tadi jadi lebih enak.

Amal Taufik

Pecinta masakan kambing garis keras.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405
  • kopi Robusta Tanggul, sepertinya menggoda. Jember oh Jember.