Terpukau Mi Ayam Riau

Orang Sumatra, konon, sudah dari sono-nya suka ngopi. Berbeda dengan orang Jawa, katakanlah priayi Jawa, kegemaran ngopi orang Sumatra sungguh khas. Bila priayi Jawa kerap menikmati secangkir kopi sebagai pengalaman estetik pribadi, orang Sumatra bertolak belakang: mereka lebih gemar merayakan kopi secara sosial bersama handai tolan, sanak famili, kawan bergelut (meminjam Soeman Hs), atau sekadar kenalan baru yang bersua di kedai kopi.

Secangkir kopi O di Indragiri Hulu
Secangkir kopi O di Indragiri Hulu | © AP Edi Atmaja

Bicara soal kopi dan masyarakat peminum kopi di Sumatra, kurang elok rasanya jika tidak membincang tentang kedai kopi. Ya, bila priayi Jawa lebih suka menyesap kopi di beranda ditemani kicauan burung prenjak (Prinia familiaris), tekukur (Spilopelia chinensis), atau kutilang (Pycnonotus aurigaster) di pagi hari, orang-orang Sumatra merasa harus ngopi di kedai kopi. Maka, di Sumatra jamak ditemui kedai-kedai kopi tua.

Kedai-kedai kopi itu telah berusia puluhan tahun, diwariskan secara turun-temurun oleh Tionghoa perantauan/peranakan yang bermastautin dan beranak pinak di tepi sungai, dan sejak dahulu telah menjadi bagian penting dari pranata sosial orang-orang Sumatra.

* * *

Di Riau, sebuah provinsi di Sumatra bagian utara-timur laut, begitu mudah kita jumpai kedai kopi. Sejumlah kabupaten/kota yang pernah saya kunjungi seperti Pekanbaru, Bengkalis, Pelalawan, Kuantan Singingi, Dumai, Rokan Hilir, Siak, dan Indragiri Hulu memiliki kedai kopi legendaris yang sebagian telah menjadi ikon kuliner kabupaten/kota tersebut.

Meski bernama kedai kopi, menu yang ditawarkan tidak melulu kopi. Pun tidak seperti kafe-kafe “kapitalis” yang kontroversial semacam St*rb*cks dkk, kedai kopi di Riau menyajikan kopi standar dan dinamai dengan bahasa yang tidak aneh-aneh. Misalnya saja, kopi O untuk kopi hitam pekat panas. Menyeruput kopi O bersama kawan bergelut—dan berita, informasi, atau sekadar desas-desus paling mutakhir dari penjuru Riau akan Anda dapatkan.

Soal makanan penyerta minum kopi, ada satu menu wajib yang nyaris ada di seluruh kedai kopi di Riau. Mi ayam. Ya, amat kurang rasanya menyeruput kopi tanpa mengunyah makanan yang dari namanya saja terdengar sangat bersahaja dan menerbitkan air liur itu. Lantaran pada umumnya kedai kopi sudah buka sedari pagi, mi ayam pun sudah bisa dinikmati sebagai menu sarapan-perkara lain yang bertolak belakang dengan warung mi ayam di Jawa yang buka paling cepat menjelang siang.

Semangkuk mi ayam di Pekanbaru
Semangkuk mi ayam di Pekanbaru | © AP Edi Atmaja
Semangkuk mi ayam di Pelalawan
Semangkuk mi ayam di Pelalawan | © AP Edi Atmaja
Semangkuk mi ayam di Siak
Semangkuk mi ayam di Siak | © AP Edi Atmaja

Entah sejak kapan kekeliruan sintaksis ini bermula, buat sebagian pramusaji, mi ayam mereka sebut sebagai mi pangsit. Jadi, kalau Anda pesan mi ayam pada satu dari seribu kunjungan Anda ke suatu kedai kopi, akan tiba masanya pramusaji bertanya balik, “Mi pangsit?” Dan saat Anda mendengar pertanyaan balik yang tidak disangka-sangka itu, seyogianyalah Anda menjawab ‘ya’—sebab itulah sebaik-baik jawaban—dan pada akhirnya kita tahu, sama sekali tidak ada pangsit dalam talam yang ia bawa.

* * *

Secara penampilan, mi ayam Riau relatif berbeda dengan mi ayam Jawa pada umumnya. Titik perbedaan terdiri atas tiga hal. Pertama, pada mi ayam Riau, mi yang digunakan berdiameter setengah dari diameter mi ayam Jawa pada umumnya, lebih keriting, dan lebih kenyal. Derajat kekenyalan mi bisa Anda siasati dengan pemberian kuah: semakin banyak kuah, semakin akan tidak kenyal mi yang hendak Anda santap.

Kedua, kuah mi ayam Jawa melimpah ruah hingga memenuhi isi mangkuk, lebih berminyak, dan disajikan bercampur dengan mi, sementara kuah mi ayam Riau yang berisi potongan daun bawang ditaruh pada cawan yang terpisah dari mi.

Ketiga, bila pada mi ayam Jawa sayuran yang digunakan ialah sawi hijau (Brassica rapa), pada mi ayam Riau sayuran tinggi vitamin K itu tidak akan Anda jumpai. Sebagai gantinya, Anda malah akan menemukan kecambah alias taoge yang berkamuflase di dalam timbunan mi. Bagi para lelaki, pergantian antarwaktu sawi hijau dengan taoge ini jelas menggembirakan, tapi tentu tidak demikian bagi para pembenci kanker. Sebab, konon, sawi hijau efektif menangkal kanker.

Keempat, pada mi ayam Jawa, daging ayam (kadang dengan kulit dan tulang yang masih menempel) berbentuk dadu, sementara pada mi ayam Riau daging ayam telah disuwir-suwir sehingga lebih gampang dikunyah dan lebih nyaman ditelan.

* * *

Sepiring mi sagu basah di Siak
Sepiring mi sagu basah di Siak | © AP Edi Atmaja
Sepiring mi sagu kering di Siak
Sepiring mi sagu kering di Siak | © AP Edi Atmaja

Sebenarnya tidak hanya mi ayam. Beberapa kedai kopi menyajikan santapan selain mi ayam. Di Siak, secangkir kopi saya nikmati bersama sepiring mi sagu basah dan kering. Kalau mi ayam Riau identik dengan kuliner Tionghoa perantauan yang sejak dahulu kala bermastautin di tepi sungai-sungai besar di Riau, mi sagu merupakan kuliner asli Melayu yang bermuasal dari Selatpanjang, Kepulauan Meranti.

Bagaimanapun, mi ayam Riau tetap jadi pilihan saya tatkala berkunjung ke kedai kopi. Semangkuk mi ayam dan secangkir kopi O, sungguh awal yang baik untuk memulai hari. Kalau Anda, bagaimana?

AP Edi Atmaja

Pembaca buku, pendengar radio, menulis untuk senang-senang.