Terlena di Hoi An

Dive Faifo
Caffe latte di Dive Faifo © Andre Barahamin

Ada banyak cara untuk terlena di Hoi An.

Kota ini memang indah. Mungil, tapi akan memikat hatimu hingga enggan beranjak. Bahkan jauh sebelum ditetapkan sebagai Kota Warisan Budaya oleh UNESCO pada 1999, Hoi An telah pandai mendulang simpati. Sejak abad 15 kota ini telah menjadi pusat perdagangan yang menjadi sela karena posisinya yang menghadap ke Laut Cina Selatan. Dahulu tempat ini termasuk wilayah Champa dan melayani lintas dagang dari Jepang, kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia hingga para pelaut Eropa.

Meski hanya seluas 60 kilometer Hoi An memiliki cukup ruang bagi para pelancong untuk melepas penat, mencari kesegaran atau merehatkan pikiran. Sebagai kota yang bertulangpunggung pariwisata, kota ini menata dirinya dengan keramahan penduduknya, keindahan masa lalu yang terawat, kuliner yang menggoda lidah, biaya hotel dan penginapan yang tergolong murah serta tentu saja warung-warung kopi dengan dominasi ragam robusta sebagai menu utama.

Di sini, kita dapat menikmati kopi sembari mengawasi hilir mudik orang-orang di Faifo (Kota Tua). Atau, memilih duduk di pinggir pantai dan memandangi orang-orang berenang di laut sambil memesan makanan di berbagai jenis restoran yang tersedia di sudut kota untuk kemudian dipungkasi dengan segelas robusta.

Iya, robusta dan bukan arabika. Seperti kota-kota lain di Vietnam, ini adalah jenis kopi paling populer dan umum disajikan. Negeri berhaluan komunis ini adalah penghasil biji kopi robusta kedua terbesar di dunia. Menjadi produk andalan ekonomi dalam negeri semenjak kopi diperkenalkan oleh penjajah Prancis di akhir abad 19.

Area pertama di seantero Vietnam yang ditanami kopi adalah Bien Hoa, yang terletak sekitar 30 kilometer ke arah timur dari Sai Gon. Daerah perkebunan ini dahulu dimiliki oleh sebuah perusahaan bernama Coronel Coffee yang dimiliki seorang insinyur berkebangsaan Prancis bernama Marcel Coronel. Setelah kemenangan pasukan merah dan unifikasi Vietnam, lahan kopi lalu dinasionalisasi oleh negara pada 1975 melalui pembentukan Vietnam National Coffee Corporation yang lebih populer dengan sebutan Vinacafe.

Menyebarnya robusta ke seantero Vietnam tidak lepas dari cerita kesuksesan Vinacafe melakukan ekspor perdana pada 1978. Melihat potensi pasar kopi di dunia internasional, pemerintah Vietnam melalui Kementerian Pertanian dan Industri Makanan, kemudian melalukan ekstensifikasi yang melibatkan tenaga ahli dan kelompok petani. Lahan-lahan pertanian di daerah pegunungan kemudian dikolektifkan untuk dijadikan lahan bisnis monokultur kopi. Vinacafe kemudian membangun unit-unit usaha pembelian yang berhubungan langsung dengan petani sekaligus menyediakan jasa konsultasi dan pendampingan untuk menjaga kualitas produk.

Pemerintah komunis ini juga melakukan proteksi terhadap mata rantai perdagangan kopi di dalam negeri. Kopi robusta impor yang masuk ke Vietnam dikenakan pajak progresif yang berimplikasi pada harga jual yang mahal dengan kualitas yang belum tentu sebanding. Hal ini membuat kedai-kedai kopi kecil di negeri lebih cenderung memilih membeli dan memperdagangkan kopi lokal sehingga mempengaruhi tren konsumsi kopi di dalam negeri.

Beberapa kali mengunjungi Hoi An, saya selalu singgah di satu kedai kopi di seputaran Kota Tua bernama Dive Faifo. Kedai kecil yang tidak jauh dari jembatan kuno Jepang yang tersohor di Hoi An. Tempat ini kala malam mengubah diri menjadi bar akustik. Di siang hari, selain menjajakan kopi, tempat ini juga merupakan penyedia jasa layanan wisata menyelam.

Pemiliknya adalah pasangan ekspatriat dari Prancis. Sang suami adalah seorang bartender yang juga membuka mobile bar di depan sebuah supermarket tidak jauh dari kedai kopi ini. Sementara istrinya adalah seorang penikmat kopi asal Lyon yang akhirnya jatuh cinta dengan Hoi An.

Dive Faifo mulai menjual kopi enam tahun lalu. Mulanya, kedai ini hanya menyasar para pelancong asal Eropa Barat atau Amerika Utara yang ingin menikmati kopi diseduh panas seperti Americano atau mencari Capuccino di pagi hari. Metode seduh dengan menggunakan Vietnam drip dan campuran potongan es (Cha Pe Da) bukan menu andalan karena mudah sekali ditemukan di kedai atau restoran lain. Lagipula menjelang akhir tahun ketika cuaca mulai dingin, sajian kopi dingin tidak terlalu diminati.

Hoi An
Busa susu nan legit © Andre Barahamin

Saya menyukai caffe latte buatan mereka. Rasa robusta lokal yang tumbuh di daerah Tay Nguyen, sekitar Da Lat, begitu tebal terasa. Padanannya adalah busa yang dihasilkan dari penggembungan susu lokal yang diproduksi sekaligus dimonopoli oleh perusahaan bernama Afimilk. Rasanya seperti kopi susu di Indonesia. Hanya saja, tebalnya busa susu tanpa pemanis ini membuat ada legit sedikit asam yang tinggal di lidah bersama dengan pahit kopi.

Pembuatannya juga dilakukan sederhana, tanpa melibatkan mesin pembuat kopi yang canggih. Gelembung busa didapatkan dengan mengocok susu menggunakan milk froather merek Cyprus yang menggunakan tenaga baterai. Sementara bubuk kopi akan diseduh dengan air panas lalu disaring ke dalam gelas kaca.

Saya beranggapan bahwa hal-hal tersebut ikut mempengaruhi harga jual kopi yang tergolong murah namun dengan kualitas yang baik. Per gelasnya, caffe latte di Dive Faifo hanya sekitar 10.000 IDR. Sementara Cha Pe Da hanya 7.500 IDR saja. Bersama dengan segelas kopi, mereka juga menyediakan tiga potong kue mentega berukuran kecil sebagai penganan.

Sembari menyeruput kopi, Dive Faifo juga memutar sayup-sayup musik instrumental khas Vietnam yang membantu saya dengan mudah bertukar cerita dengan istri tentang negeri ini di masa lalu. Bagi saya, kemewahan ini dengan harga yang murah untuk sekadar duduk santai dan menikmati indahnya pagi hari adalah satu dari sekian cara Hoi An memeluk dan membuatmu terlena.

Andre Barahamin

Koki amatir. Spesialis makanan pedas. Pemakan babi.