Terbenam di Samping Rerumputan Bjong Ngopi

Bjong beberapa tahun lalu, sebelum berganti rupa.
Bjong beberapa tahun lalu, sebelum berganti rupa. | © Rifai Asyhari

Empat tahun berlalu dan tak ada satu perasaan pun yang berubah tiap kali aku duduk santai di Bjong Ngopi. Tentu saja itu perasaanku, entah orang lain. Selama itu kuhabiskan sebagian hari meneguk kopi hitam kental di samping rerumputan hijau yang tumbuh bebas di sebuah tanah terbengkalai di samping Bjong. Hotel, apartemen, dan mall berdiri angkuh di tiap sudut kota Jogja, tetapi rerumputan di samping Bjong kian tinggi, masih terbebas dari serbuan cor semen.

Bagiku, berdiam diri di samping rumput hijau jadi semacam kenikmatan puncak yang bisa ku rengkuh di kota yang kian padat ini. Kuceritakan perasaan berlebihan itu berulang kali pada rekan-rekanku dan mereka tak memiliki persediaan kalimat yang memadai untuk menanggapi omonganku secara baik, terkecuali ucapan, “Dulu kamu kambing, ya. Suka deket-deket rumput.”

Tapi aku tak peduli dan memilih tetap duduk di sana. Itu sudut favorit di Bjong yang biasanya selalu penuh pada malam hari, saat terbaik untuk ngopi.

Terkadang aktivitas ngopi kumulai sejak sore hari saat matahari belum tenggelam. Dari warung kopi di jalan Wakhid Hasyim itu, semburat senja berwarna kemerahan jadi ornamen penghias langit sore yang istimewa. Menjadi begitu mahal karena didapati di Bjong yang terletak di tengah kota Yogyakarta.

Bjong tak mengesankan bangunan megah hasil rancangan arsitektur ternama. Ia berdiri kokoh karena ditopang bambu biasa sebagaimana bambu biasa di mana pun yang kerap dipancang saat lomba panjat pinang.

Bjong sesederhana itu, dengan tiang bambu dan bangku pendek. Tembok batako di sebelah selatan dan rerumputan di sebelah utara tempat aku duduk berlama-lama. Aku terlalu hafal dengan semua detail Bjong karena terlalu lama ngopi di sini.

Bjong saat ini selepas senja
Bjong saat ini selepas senja | © Rifai Asyhari
Sisi utara Bjong Ngopi
Sisi utara Bjong Ngopi | © Rifai Asyhari

Sudah berulang kali teman-teman ngopiku mencari tempat ngopi lain namun gagal. Tentu saja, sebagaimana semua pengulangan, ngopi di Bjong terkadang membosankan.

Haruki Murakami mengatakan betapa pentingnya seorang manusia untuk pergi ke tempat baru tanpa dikenal seorang pun. Di sana ia menjadi manusia baru dan bisa menjadi siapa pun tanpa terbebani tatapan mata sini dari orang-orang yang mengenalinya. Tapi tidak untuk Bjong. Sampai empat tahun berjalan dan tak satu tempat ngopi pun yang lebih baik dari ini. Meski memang, wajah di sana sudah kuhafal satu per satu.

Dari gamers online di bagian depan yang memulai battle sedari malam sampai pagi, mahasiswa rajin yang mengerjakan tugas sambil memelototi diktat kuliah, atau teman-temanku sendiri yang memesan menu dalam jumlah paling minim. Kopi hitam seharga Rp7000 atau tahu cocol dengan harga yang sama.

Bjong masih terjangkau bagi mahasiswa yang ingin hidup hemat namun kecanduan ngopi. Maklum, kami hanyalah mahasiswa yang butuh tempat tenang untuk membaca buku, diskusi santai, dan sesekali menulis.

Dalam ungkapan yang hiperbolik, Bjong telah mewujud sebagai bagian penting dalam perjalanan pengembangan kapasitas intelektual mahasiswa macam diriku. Sudah tak terhitung lagi berapa malam dihabiskan sejak pertama kali pesan kopi di kasir Bjong pada semester dua, menghabiskan bergelas-gelas minuman, ditemani ratusan buku yang terus berganti dari buku pengantar sampai buku cinta yang menguras air mata. Berlebihan? Tidak. Tidak sama sekali.

Bjong adalah satu-satunya warung kopi yang tumbuh bersamaku.

Awal 2013 Bjong masih berupa warung dengan dua lantai. Lantai pertama diisi bangku-bangku pendek yang membentang dari pintu depan sampai ujung warung di sebelah timur. Sementara di atas adalah ruang kecil panjang serupa lorong beralaskan karpet hitam yang seringkali basah diterpa air hujan. Memang tak ada sekat penghalang yang membatasi pandangan mata di lantai dua. Aku selalu suka membebaskan pandangan mata sejauh mungkin.

Lantai tersusun dari bambu panjang yang mengeluarkan bunyi mengkhawatirkan tiap kali seseorang melangkah di atasnya. Tapi bambu-bambu itu tetap bertahan sampai dibongkar pemiliknya sendiri pada pertengahan 2014.

Kini Bjong berubah menjadi hanya satu lantai yang panjang dan tampak lebih siap menampung lebih banyak orang. “Harga kontrak tanahnya tambah mahal, Mas,” begitu salah satu alasan yang diungkapkan si bos.

Tapi aku masih di sana. Masih dengan segalas kopi hitam yang sama dan, tentu saja, buku yang berbeda.

Di sana kau tak bisa mengharapkan kopi dari berbagai ujung nusantara hadir di Bjong. Tak ada perbedaan antara arabika atau robusta dengan segala jenis penyajian yang menghasilkan perbedaan rasa. Hanya ada kopi hitam, kopi susu, kopi tetes, dan jenis minuman lain seperti teh hangat atau tape ketan susu. Aku pun ragu untuk menyebut penyajinya sebagai barista.

Tapi sekali lagi, aku tak peduli. Kebenaran makna ngopi terletak pada kemauan seseorang untuk duduk santai bersama teman diisi obrolan santai.

Tidak penting menu apa yang kau pesan. Entah dari jenis kopi atau teh basi sekali pun. Dalam arti paling minim, duduk lebih dari satu jam di sebuah kedai sudah sah dianggap sebagai ngopi dan begitulah aktivitas paling purba dalam kehidupan mahasiswa jogja itu dijalankan selama ini.

Maka pada semua jenis sanggahan yang dilampirkan padaku untuk mendelegitimasi kenikmatan Bjong, aku berkata, “Raurus,” atau “karepmu.”

Di warung kopi ini ada teman-teman menyenangkan dan pilihan musik yang pas sesuai dengan selera mahasiswa. Kenapa selalu mahasiswa? Karena memang rata-rata pengunjungnya adalah mahasiswa.

Memang, pada momen tertentu orang tua atau anak juga datang. Seringkali Bjong menjadi tempat menggelar acara dari berbagai komunitas. Entah itu musik, film, seni atau bahkan teater anak. Hmm, tentu itu pertanda Bjong berhasil menyediakan tempat yang nyaman bagi semua orang.

Jadi, begitulah kehidupan merantau di Jogja selama ini berkawan dengan Bjong. Mungkin slogan “Ngopi di Rumah Kawan” yang terpampang di papan warung di samping jalan berhasil menghipnotis sebagian orang untuk mempercayainya.

Bersama dengan waktu yang terus berlalu, kian banyak orang bersiap mengemas kenangan Jogja dari Bjong. Merelakan malam untuk tertawa bersama teman di samping kasir, merampungkan bab III skripsi di bawah lampu temaram, atau kembali menemukan hati yang hangat usai duduk berdua dengan gadis dari masa lalu. Sekali lagi, aku masih di sana.

Aku tuliskan cerita ini usai senja menghilang, saat orang-orang mulai berdatangan mengisi bangku kosong yang jumlahnya tak lebih dari tiga lusin. Kau tahu, sisi utara di samping rerumputan hijau sudah penuh orang. Mungkin mereka akan segera pergi, tapi aku tetap di sana.

Rifai Asyhari

Mahasiswa Komunikasi di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Yogyakarta. Menggemerai begadang dan bangun siang.