Tentang Omerta Koffie, Kedai Kopi Tak Biasa

Ketika lagu Falling in Love at a Coffeeshop karya Landon Pigg menjadi lagu favorit banyak orang, saya malah berada di garda terdepan kesinisan; tertawa mengejek. Bagaimana tidak. Judulnya saja jatuh cinta di kedai kopi. Sungguh mainstream, menggunakan dua komoditi favorit anak muda kekinian —kopi dan cinta— sebagai judul lagu. Tentu yang mendengar akan merasa dirinya semakin artsy. Kalau saja lagu itu dikeluarkan beberapa waktu belakangan, mungkin Landon akan menyertakan kata senja juga di dalam lirik lagu tersebut. Atau kata hujan. Falling in Love with Pecinta Senja at a Coffeeshop Sambil Menikmati Bau Hujan. Gawat.

Lagu yang membosankan ini menjadi lagu wajib nasional di banyak kedai kopi yang pernah saya tongkrongi. Syukurlah, di Omerta Koffie lagu ini tidak pernah terdengar. Wajar saja. Lagu itu lagu cinta. Sedangkan Omerta Koffie bukanlah tempat yang mendukung cinta-cinta macam begitu tumbuh subur. Kedai kopi yang beralamat di Jalan Wahid Hasyim No. 9, Medan ini memang lebih cocok menjadi tempat untuk memulai jalinan persahabatan daripada percintaan.

Omerta Coffe. Salah satu kedai kopi arabika specialty dan blend yang pertama-tama di Kota Medan.
Omerta Coffe. Salah satu kedai kopi arabika specialty dan blend yang pertama-tama di Kota Medan. | © Yuri Nasution

Omerta Koffie ini kedai kopi favorit saya di Kota Medan. Kopinya enak dan tergolong cukup murah. Omerta Koffie menyajikan kopi arabika specialty dan blend lokal Sumatera seperti Arabika Lintong, Sipirok, Simalungun, Marancar, Gayo maupun Mandailing berkualitas premium dengan kisaran harga sekitar Rp 13.000-17.000 saja per cangkir. Omerta juga menyajikan kopi arabika dari wilayah luar Sumatera seperti Toraja. Dan di tempat inilah saya bisa menjalin persahabatan dekat dengan beragam jenis manusia yang saya kira tidak akan saya temui di tempat lain. Mulai dari pria paruh baya yang kerap curhat mengenai masalah rumah tangga kepada setiap pengunjung —terus terang, bagaimana kau bisa tega mengabaikan kegalauan seperti ini? Hingga petani kopi dari sebuah desa yang ternyata dulunya adalah pengelana dunia.

Suasana persahabatan sangat kuat terasa. Kami (para pengunjung militan Omerta Koffie) bahkan sudah merasa layaknya sebuah keluarga. Sehingga saya yakin setiap pengunjung militan Omerta, termasuk saya, tidak pernah berencana untuk tebar pesona atau mengincar gebetan baru ketika ngopi di Omerta.

Apalagi, berencana untuk falling in love at a coffeeshop.

* * *

Suatu hari, Omerta Koffie kedatangan sahabat baru. Pendatang yang baru saja pindah ke Medan. Kebetulan, saya sudah cukup lama menjalin pertemanan dengan Dia. Kami bertemu lagi di sore itu, setelah sekian lama. Janjian di tempat itu. Kami ngobrol ngalor ngidul. Dia masih seperti yang dulu ketika kami bertemu kali pertama. Suaranya keras sekali. Semangatnya ampun-ampun. Dia seperti tahu semuanya. Dia sampai mengajak bicara semua orang, memperdebatkan segala hal. Tidak ada yang tidak dikritisi olehnya.

Dalam hati saya ingin tarik topinya dan congkel matanya.

Pertemuan malam itu lalu berakhir. Untung kekesalan saya sudah hilang. Saya akui Dia cukup pintar melemparkan banyolan-banyolan yang mampu melenyapkan kekesalan saya. Dia lalu menjadi pengunjung militan juga, ngopi di Omerta saban hari setiap sore hingga larut malam. Masih dengan semangat dan suaranya yang keras. Dan saya juga, masih dengan keinginan saya yang ingin menarik topinya dan mencongkel matanya.

Pilihan biji kopi di Omerta Coffe. Bisa diolah untuk diminum langsung, bisa juga dibeli untuk dibawa pulang.
Pilihan biji kopi di Omerta Coffe. Bisa diolah untuk diminum langsung, bisa juga dibeli untuk dibawa pulang. | © Yuri Nasution
Salah satu sudut nyaman untuk ngopi di Omerta. Sudut Kami.
Salah satu sudut nyaman untuk ngopi di Omerta. Sudut Kami. | © Yuri Nasution

Tak terhindarkan, kami kerap berpapasan di Omerta. Kami mulai sering bercerita banyak hal. Mulai dari urusan politik, budaya, sampai asmara. Kami kerap berdebat dan ujung-ujungnya akan tegang urat dan saling teriak, membuat saya kembali ingin congkel matanya. Kalau sudah begitu, dia akan memesankan kopi buat saya. Saya memang punya mental pantang diatur dan diarah-arahkan. Tapi dalam hal kopi saya percaya sama Dia. Dia akan memesankan kopi andalan di Omerta. Terkadang Arabika Lintong V60, lain waktu Latte Arabika Mandailing untuk saya sehingga suasana kembali mencair.

Kami lalu bercerita tentang kopi. Tentang bagaimana industri mengkomersialisasikan komoditi kopi dan memarjinalkan petani sebagai ‘tangan pertama’ komoditi tersebut. Tentang harga kopi enak di coffeeshop yang mengapa mesti mahal dan mencekik konsumen, padahal dengan harga murah juga sudah mendapat untung banyak. Tentang aktivisme yang dilakukan orang-orang seperti pemilik Omerta Koffie, bang Denny Sitohang. Mantan wartawan yang disinyalir merupakan reinkarnasi Alex Komang ini menjalankan usaha kedai kopi Omerta dengan mengambil biji kopi langsung dari petani yang memiliki semangat sama untuk memperpendek —jika tidak memutus— mata rantai industrialisasi komoditi kopi. Dan juga berbicara tentang impian dan harapan agar suatu saat mampu berbuat hal yang sama baiknya dengan Denny. Yang membuat kami lalu sadar, kami berdua mungkin punya niat dan cita-cita yang sama.

Kami semakin dekat, akrab dan tak terpisahkan. Ada semangat tulus yang saya lihat dari binar matanya, menarik dan uniknya menentramkan saya. Saya lalu sadar, ini dia. Sparing partner saya. Yang mampu meladeni kekeraskepalaan saya. Dan menjadi partner dalam mewujudkan mimpi dan harapan akan kebaikan-kebaikan.

Perlahan, keinginan saya untuk mencongkel matanya berganti dengan keinginan untuk menggenggam tangannya. Dan untuk menghapus peluh di wajahnya. Tak berapa lama kemudian, ketika dia berada di momen paling sendu dalam hidupnya, itulah yang saya lakukan. Saya ada dan menggenggam tangannya.

Pun ketika saya sering merasa lelah. Dia ada dan menggenggam tangan saya.

Dalam genggaman tangan ini, tersimpan niat-niat baik. Yang terucap dan yang tak terucap.

Kami genggam erat-erat.

* * *

Tak terasa, dunia akan segera menyongsong harapan dan kemungkinan di tahun 2017. Medan akhir tahun memasuki musim penghujan, layaknya di wilayah lain di Indonesia. Saya baru saja selesai ngobrol dengan Dia. Kami (masih) beradu pendapat dan berdebat. Ditemani kopi arabika luwak Sipirok panas, ditengah gemerisik angin dan hujan.

Seperti ketika berada di Omerta. Ketika berdua. Dan (semoga) untuk seterusnya.

Yuri Nasution

Perempuan Batak biasa