Tentang Kedai Canarisla dan Puisi

Tepat satu tahun Cafe Baca Canarisla menjadi salah satu coffee shop sekaligus ruang diskusi di kawasan Solo Raya. Dengan coretan sana-sini dari para penikmatnya, akhirnya Canarisla punya satu kegiatan yang menunjang minat dan ketertarikan saya dan kawan-kawan: ruang diskusi puisi sambil ditemani alunan musik.

Memang kita siapa berani betul bikin acara interpretasi puisi dan musik? Penulis? Penyair? Musisi? Bukan. Kita bukan siapa-siapa. Tapi, untungnya kita punya minat yang sama. Tidak ada saling menggurui satu sama lain. Tidak ada yang lebih daripada yang lain. Ini yang membuat kami berani bergerak menginisiasi kegiatan ini.

Saya kenal di antara mereka satu per satu. Ada yang tertarik buku, lalu mendiskusikannya di sini lantas menyukai kopi. Ada yang doyan ngopi lalu diajak berpuisi lalu jadi gemar membaca. Macam-macam. Dan memang, menemukan orang-orang ini sungguh spesial bagi saya sebab mereka adalah barang langka di zaman milenial seperti sekarang.

Kedai Canarisla di Solo Raya
Kedai Canarisla di Solo Raya | © Muhammad Yusuf Canarisla

Akhirnya, kami menggagas acara ngopi sambil interpretasi puisi ini. Tak berniat membesar-besarkan, tapi ndilalah antusiasme kawan-kawan saya yang sering datang sebiji-sebiji ini ternyata tinggi. Kawan-kawan lama yang mulai jarang ngopi karena sibuk dengan kuliah dan urusannya masing-masing, tiba-tiba hadir. Kawan-kawan baru apalagi, semakin antusias karena mendapati acara ini ternyata banyak diminati. Saya sendiri bingung, sebab tempat saya menjadi terlihat semakin kerdil karena tiada cukup menampung kawan-kawan semua.

Sebelum masuk ke sesi acara, saya sengaja menyuguhkan kopi Bowongso—salah satu kopi yang unik menurut saya—satu server penuh untuk memberikan dopping bagi mereka. Kopi ini memiliki sentuhan rasa tomat atau rasa sayur-sayuran yang begitu khas. Kaya akan cita rasa dan aroma. Teksturnya lembut dan cenderung mudah dinikmati bagi para peminum kopi awam.

Saat peserta merasa sudah cukup, kami mulai melingkar dan merapat untuk menghangatkan suasana. Teknis acaranya kami adopsi dari pola dakwah Cak Nun. Dimulai dengan musik sebagai pembuka, lalu memilih penyair untuk membacakan puisi. Dan dilanjut berdiskusi. Diselingi musik lagi, dan tidak terbatas untuk berapa sesi. Sekenanya saja.

Diskusi kami awali dengan alunan musik. Kenapa? Sebab bermusik adalah alat atau instrumen untuk membangkitkan gairah. Sebelum kita “judeg” dengan opini masing-masing, ada baiknya kita rilekskan pikiran. Melayang di atas petikan-petikan senar gitar. Sebelum kembali pada percakapan tanpa nada.

Oh ya, hampir lupa. Interpretasi puisi yang kita tadabbur-kan di sini adalah milik penyair tassawuf Candra Malik dengan bukunya yang berjudul Asal Muasal Pelukan. Kami minum kopi lagi, berpelukan lagi, bercinta lagi, berdiskusi lagi, dan bermusik lagi. Itu tak hanya menyegarkan tenggorokan, tapi menyentuh keping-keping imajinasi berbahan dasar cinta.

Reading is the new sexy
Reading is the new sexy | © Muhammad Yusuf Canarisla

Diskusi dimulai setelah seorang penyair senior di antara kami melantunkan “Pernah Bahagia”. Yang begini liriknya:

Mustahil kita bersatu/ engkau api dan aku abu/ Ya, Semula aku kayu/ lalu musnah karenamu/ Padaku engkau menjalar/ menggeliat laksana ular/ Kita bersanggama liar/ dan ini bahaya besar/ Siapa melumat siapa/ sama binasa sama sirna/ Dari kayu menjadi abu/ dari nyala menjadi tiada/ Mustahil kita menyatu/ pisah hanya soal waktu/ Gairah menggebu-gebu/ ternyata berakhir debu/ Cinta kita hanyalah asap/ membumbung lalu lenyap/ Percintaan kita membara/ tapi ternyata sebentar saja/ Api, setidaknya pernah kita/ saling memeluk sekuat daya/ Kita pernah sangat bahagia/ menjadi unggun bagi gulita.

Apa makna puisi buat dia? Dengan enteng dia menjawab bahwa bahagia adalah mitos. Lha kenapa? Tilik saja kata-kata “api, setidaknya pernah kita”. Jika bukan mitos, lalu apa kuat daya api. Meskipun pernah membara, toh akan hilang juga. Tidak hanya sekadar membara, tapi juga melenyapkan segala yang kita punya. Seperti kata-kata Gus Can (sebutan bagi Candra Malik), “semula aku kayu, lalu musnah karenamu”. Sangat mendalam. Mungkin dia memilih puisi sesuai dengan apa yang dirasakan hati.

Beberapa kawan lain menambahkan. Memang, kebahagiaan lebih baik digunakan seperlunya. Kita ini manusia, sifatnya fana. Kadang baik, kadang buruk. Besok bercinta dengan membara. Lusa tak bisa apa-apa. Makin dibuat bingung saya dan yang lainnya oleh kata-katanya. Ada pula yang ikutan berseloroh, bahwa perpisahan memang soal waktu. Dibumbui pula dengan nada pilu dan muka memelas. Makin kuat pendapat bahwa bahagia itu hanya sebatas saja.

Tak terima bahwa bahagia adalah mitos, sang gitaris (karena alunan gitar dinadakan oleh jari-jarinya) memprotes. Menurutnya, pernah bahagia itu ungkapan rasa yang disampaikan kepada Tuhan. Kita, manusia yang lemah, ketika bersujud dan menghamba kepada-Nya biasanya membara seperti api. Berdoa dengan sedikit memaksa, memberi dengan harapan mendapatkan balasan yang lebih besar kelak. Ketika semua itu diijabahi, kita menghamba tak lagi karena cinta. Melainkan karena kebutuhan. Maka dari itu manusia selalu di titik ia pernah bahagia. Bukan menjadi sebuah kepastian kalau bahagia hanya sebuah mitos.

Makin seru percakapan kami karena semua ikut berpartisipasi dan menyatakan argumennya. Curhat pun tak apa. Kami semua setia mendengarkan. Sayangnya, waktu tak mengizinkan kami menikmati puisi lebih dari ini. Pesta ulang tahun yang ditandai oleh lantunan syair dan puisi harus berakhir di sini. Semua orang kembali ke kehidupannya masing-masing.

Api, setidaknya pernah kita. Menjadi bahan bakar bagi kita karena pernah bahagia untuk duduk bersama. Lain kali kita ulang cerita ini!

Muhammad Yusuf Canarisla

Berharap jadi barista dan penulis sungguhan.