Tempat Berkumpulnya Mahluk Malam

DNocturn Coffee
Dnocturn Coffee | © Aditia Purnomo

Dulu, saya sempat bermasalah jika ingin minum kopi yang enak di kisaran rumah saya, di Kota Tangerang. Sejak dikenalkan dengan kopi-kopi enak di beberapa kedai kopi Jakarta dan Yogyakarta, saya agak sulit menerima kopi sasetan biasa. Bukan apa-apa, lidah jadi agak sulit menerima gula yang ada di kopi saset. Jadi kalau mau ngopi selalu kopi yang tanpa gula atau pergi nongkrong ke kedai sekalian.

Tapi, tidak banyak pilihan kedai kopi di kota saya. Mungkin bagi sebagian teman, ngopi dimana saja akan sama, termasuk di kedai-kedai yang ada di pusat perbelanjaan. Yang penting ada kopi dan tempat untuk nongkrong sudah cukup. Karenanya mereka tak bakal ambil pusing soal minum di kedai kopi.

Namun bagi manusia sejenis saya, minum kopi di tempat seperti itu adalah neraka. Bagaimana mungkin bisa menikmati kopi di tempat yang tidak menyediakan ruang untuk perokok seperti saya. Bukannya bergembira dengan kopi, malah tidak bisa menikmati sama sekali. Belum lagi pilihan kopi yang mereka sediakan kebanyakan hanya Americano, saya agak kurang cocok dengan kopi ini.

Itu baru satu hal, tentu hal lainnya adalah jam buka. Coffee Shop di pusat perbelanjaan tidak buka hingga larut. Ini tentu tidak cocok dengan orang yang selalu pulang malam seperti saya. Bisa-bisa baru pesan segelas kopi, sudah diminta pulang.

Karena itu bisa menemukan Kedai yang bisa menerima pelanggan ketika larut adalah sebuah kebahagiaan. Bukan apa-apa, saya dan beberapa teman adalah orang malam. Kami biasa beraktifitas hingga pagi, menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang dikejar deadline, atau sekadar kumpul bersama teman untuk menertawai nasib. Dan yang paling penting adalah, saya tidak perlu lagi jauh-jauh ke Jakarta untuk menikmati secangkir kopi.

Nama kedai itu Dnocturn Coffee. Ya, nama yang cocok untuk mahluk malam seperti kami. Kedai ini ada tepat sebelum jalan veteran, baru buka selepas magrib. Dengan konsep tempat yang minimalis, kedai ini menyediakan kenyamanan bagi pengunjungnya.

Di sini, anda akan disajikan film-film berkualitas yang kerap diputar untuk menemani pengunjungnya. Jadi anda tidak bakal bosan sekalipun datang sendiri, membawa kejenuhan yang amat sangat, atau kegalauan yang memuncak. Sambil ngopi dan merokok, anda akan melupakannya segala hal duniawi itu.

Papan sajian menu Dnocturn Coffee Shop
Papan sajian menu Dnocturn Coffee Shop. | © Aditia Purnomo
Meja Barista Dnocturn Coffee Shop.
Meja Barista Dnocturn Coffee Shop. | © Aditia Purnomo
Rum Coffee, sajian andalan Coffee Shop ini
Rum Coffee, sajian andalan Coffee Shop ini | © Aditia Purnomo

Untuk urusan kopi, di sini menyediakan stok biji kopi yang lumayan. Anda bisa menikmati single black dari biji kopi nusantara seperti Gayo, Wamena, Mandailing, dan sebagainya. Kalau mau yang lain seperti Latte, Espresso, hingga rum coffee. Itu loh, kopi yang dicampur sirup rum. Kalau anda tidak terbiasa dengan kopi, anda bisa juga memesan red velvet, Pure Chocolate, atau Green tea. Silahkan pesan sesuai selera anda.

Bukan hanya enak, tapi harga secangkir kopi di kedai ini amat terjangkau oleh kantung masyarakat miskin kota seperti saya. Dengan uang Rp 15 ribu, saya bisa menikmati secangkir kopi enak. Bandingkan dengan kedai-kedai lain yang memaksa saya mengeluarkan uang dua kali lipat dari harga ini, itu pun kopinya belum tentu enak.

Karena itu hampir setiap malam saya menghabiskan waktu di kedai yang berlokasi di Cikokol ini. Entah selepas kerja, menghadapi macet ibukota, sehabis kencan, atau sekadar melepas sepi selalu datang ke kedai ini. Apalagi setiap minggu malam, kedai ini memiiki sebuah program rutin single origin gratis untuk semua. Jadilah saya semakin sering kemari, terutama tiap minggu malam.

Bukan hanya karena program kopi gratisnya. Tapi sebagai masyarakat pekerja yang kerap bermusuhan dengan senin, saya membutuhkan asupan energi yang baik untuk menghadapinya. Jadilah saya, tentu bersama teman-teman, memanfaatkan malam yang satu ini untuk bersua dan mengumpulkan energi untuk kerja esok harinya.

Tak hanya itu, karena teramat sering datang ke kedai ini, kami jadi semakin biasa menyeduh kopi sendiri. Mula-mula menyeduh tubruk. Semakin seringnya kami malah jadi bisa menyeduh dengan metode lain seperti V60. Tentu saja, agenda menyeduh kopi sendiri ini tidak dihitung sebagai pesanan hingga kami tidak perlu membayar segala kopi seduhan sendiri.

Meski semakin banyak kedai kopi bertebaran di kota ini, tapi saya bersama teman-teman kadung mencintai tempat ini. Tentu bukan hanya karena kopi gratis, tapi juga persoalan tempat menyenangkan dan kopi yang aduhai. Apalagi, hanya kedai ini yang menerima keberadaan kami para mahluk malam berkumpul hingga pagi hari.

Biasanya kami minum sampai pagi di sini. Menjelang jam 4 pagi baru saya pulang. Suasana malam di kota ini membuat saya kangen masa sekolah dan kehidupan malam bersama teman-teman ini. Kalau sempat, mampirlah kemari. Mungkin kita bisa ngopi bareng sambil diskusi buku-buku sama pemilik kedai ini. Atau kita bisa tertawa sampai pagi, menikmati hidup yang suram ini.

Aditia Purnomo

Mahasiswa tingkat akhir yang tak kunjung lulus.