Tanpa Kopi dan Musik Hidup adalah Kesalahan

“Tanpa musik,” kata Friedrich Nietzsche, “hidup akan menjadi sebuah kesalahan.”

Bagi orang yang tak menaruh impresi lebih pada musik. Bagi yang biasa mendengar musik hanya saat menghadiri hajatan mantan pacarnya, atau mencuri-curi dendang lagu dari radio tetangga, kata-kata Nietzsche di atas tak ubahnya butiran debu yang akan segera lenyap dilibas badai. Tanpa makna, akan segera terlupakan, bahkan sebelum tuntas terbaca.

Tapi melihat kelakuan Andy Dufresne, dalam film Shawshank Redemption (1994), yang berani bertaruh memutar lagu klasik seharga dua minggu kurungan di lubang isolasi tanpa cahaya nan kedap suara di sebuah penjara paling kejam di dunia, kita bisa menakik satu hal penting soal ihwal musik. Musik lebih dari sekadar bunyi-bunyi dalam rangkaian tangga nada yang berpilin bersama getaran pita suara. Musik menjadi kendaraan bagi manusia untuk melompati realitas objektifnya.

Andy menyorongkan mikrofon yang terhubung ke pengeras suara di seluruh penjara ke gramofon. Dan seluruh tahanan yang telah menghabiskan separuh hidupnya di dalam tembok-tembok batu, yang membunuh waktu dengan melakukan kegiatan yang sama berulang-ulang, yang bahkan sudah lupa apa kesalahan mereka hingga sampai dipenjara, terpaku menyesapi liukan suara tinggi dua gadis Italia. Liukan suara tinggi dan jauh yang layaknya burung indah mengepakkan sayap ke dalam kain sangkar penjara dan membuat tembok-temboknya runtuh. Untuk kenangan singkat ini, yang harus berhenti karena kepala sipir penjara datang untuk segera menghentikan kelakuan Andy dan menghukumnya, setiap orang di penjara Shawshank merasakan kebebasan.

Ada sesuatu lebih keras dari tembok batu, sesuatu yang teramat berharga di dalam diri, yang dengan cara apa pun tak akan pernah bisa direnggut. Satu-satunya hal yang tersisa tatkala kotak pandora kehidupan terbuka, dan sesuatu itu bernama “harapan”. Menyuntuki Shawshank Redemption, saya menemu makna dari kata-kata Nietzsche di atas. Musik menerbitkan harapan, dan hidup tanpa harapan berarti sebuah kesalahan.

Saya tak bisa menduga-duga bagaimana cara berkontemplasi Mochammad Usman Wafa dan Ibnu Amar Muchsin, memaknai kata-kata Nietszche di atas. Yang jelas, kata-kata Nietzsche itu, yang tertulis dalam bahasa Inggris dan Jerman, terpampang di kiri pintu masuk bak dayang yang menyambut siapa pun saat menjejakkan kaki pertama di Ruang Mousike.

Apakah Anda kesulitan mengeja kata “mousike”? Saya juga. Tapi, lepas dari kesusahan mengeja, kata mousike cukup jelas merujuk pada satu tema yang tak asing: musik. Sebab, akar kata musik sendiri berasal dari mousike dalam bahasa Yunani.

Sebagaimana namanya, pelbagai hal yang disajikan di dalamnya akan identik, atau setidaknya menyerempet, ihwal musik. Di tembok kiri, kita berjumpa deretan album-album musik dari pelbagai aliran, tema, wilayah, dan pendendangnya. Dari keroncong asli tiga perempuan yang masih lekat dengan konde dan kebaya hingga keroncong campur hawaiian Tjok De Fretes yang mengurai rambut dan sedikit terbuka, dari Jazz Samba Mergie Seger hingga kaset lagu patriotik Bagimu Neg’ri, saling berangkulan sebaris. Dari album yang lebih tua dari umur saya, seperti Suluk Purwanto, Julio Iglesias, Hetty Koe Endang, hingga yang agak kentara eksis, seperti albumnya Ananda Sukarlan, Dialita, dan Iksan Skuter, saling akur berbagi tempat di rak-rak.

Duo Denmark memainkan alunan nada eksperimental dari alat musik gitar
Duo Denmark memainkan alunan nada eksperimental dari alat musik gitar | © Ken
Penggagas Ruang Mousike, dari kiri Amar dan Usman
Penggagas Ruang Mousike, dari kiri Amar dan Usman. | © Ken

Ruang Mousike digagas Usman dan Amar sebagai ruang bagi siapa pun yang ingin bercengkrama, atau setidaknya berkenalan, dengan musik. Usman yang juga menjadi dosen di Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang (Unnes) berharap, Ruang Mousike ini bisa menjadi ruang alternatif apresiasi musik di luar kampus. Kultur kampus yang terlalu sistemik administratif seringkali menjadi kendala bagi para pegiat musik untuk unjuk gigi. Sudah itu, kampus lebih lekat dengan nuansa “penilaian akademik” yang formal.

Ruang Mousike lebih bebas, ekspresif, dan terbuka. Ruang yang hadir bukan atas dorongan formal, namun kehendak hati untuk menyesap kebebasan dalam bermusik. Saya menyaksikan pentas beberapa waktu lalu, saat para pengunjung meneguk bebunyian dari musik eksperimental atau lebih populer disebut avant garde. Para pementasnya berasal dari pelbagai negara, yakni Indonesia, Singapura, dan Denmark. Sesuatu yang barangkali jarang tersentuh, setidaknya oleh saya yang dangkal akan musik. Diskusi-diskusi akademis nan mengenyangkan seputar seni juga beberapa kali diselenggarakan sebagai pengawaman seni bagi khalayak.

Ruang Mousike juga bisa disebut kedai, sebab kopi, teh, susu, dan pelbagai makanan tersedia. Kopinya biasa dan tak banyak pilihan, memang. Sewaktu saya datang, hanya ada dua jenis kopi: Bangka dan Temanggung. Cara menyeduhnya tak rumit, tidak juga melibatkan Vietnam Drip, Moka Pot, dan juga French Press. Cukup digiling, ditubruk dengan air panas, dan secangkir kopi siap diseruput.

Jika di Blora, kopi biasa dicampur beragam bahan, seperti santan atau daun pandan, maka di kedai ini, kopi disajikan dengan menambahkan alunan lagu dan buku-buku di setiap tegukannya. Harganya terbilang murah, cukup Rp 5.000 saja untuk secangkir kopi.

Ruang Mousike punya koleksi buku-buku. Mulai dari filsafat, seni, sosiologi-antropologi, hingga sastra. Saya tak tahu apakah ada buku-buku ihwal kimia, teori termodinamika, atau atom nuklir di sana. Ada baiknya Anda cek sendiri satu per satu buku di antara ratusan buku-buku yang tersedia di situ.

Berbuku Bacaan
Berbuku Bacaan | © Ken

Konsep ruangan dibuat retro dengan pendar cahaya kekuningan. Nuansa rural dihadirkan dengan memajang beberapa keris. Letaknya di tengah pemukiman warga yang cukup asri. Bagi orang yang jenuh hidup dalam kebisingan kota, Ruang Mousike menawarkan suasana ketentraman.

Ditemani gerimis rintik hujan, lelaki muda dengan kepala mengangguk-angguk ritmis mengikuti ketukan piano di depannya. Setelah mengatur tempo nada di laptop putih yang penuh tertempel stiker itu, ia kembali memainkan denting piano lagi. Tepat di belakangnya ada tiga perempuan menggerombol yang tidak mau kalah memainkan piano dan melantun lagu keroncong, dan sesekali lagu pop kekinian.

Kopi sudah tinggal beberapa teguk lagi. Sudah banyak obrolan disajikan malam ini. Ketukan nada dari tuts-tuts piano dan suara merdu pun kian mengecil dibekap kantuk. Malam ini, sesaat sebelum beranjak pulang dari Ruang Mousike, saya perlu menambahkan kata-kata Nietzsche. “Tanpa musik dan kopi, hidup adalah kesalahan.”

Melalui musik, tercipta harapan, dan melalui kopi, tercipta persahabatan.

Am Adzkiya Amiruddin

Calon tukang ketok palu di pengadilan.