Tanamera Coffee: Sajian Kopi Lokal dalam Kenyamanan Kedai Modern

Daily brew (30.000), Chicken Mushroom Pie (40.000)
Lihat Galeri
5 Foto
Daily brew (30.000), Chicken Mushroom Pie (40.000)
Tanamera Coffee: Sajian Kopi Lokal dalam Kenyamanan Kedai Modern
Daily brew (30.000), Chicken Mushroom Pie (40.000)

© Fransisca Agustin

Hot Green Latte + kopi (40.000)
Tanamera Coffee: Sajian Kopi Lokal dalam Kenyamanan Kedai Modern
Hot Green Latte + kopi (40.000)

© Fransisca Agustin

Banana Caramel (35.000)
Tanamera Coffee: Sajian Kopi Lokal dalam Kenyamanan Kedai Modern
Banana Caramel (35.000)

© Fransisca Agustin

Kedai kecil yang nyaman dan hangat. Nampak mesin coffee roaster merah di belakang
Tanamera Coffee: Sajian Kopi Lokal dalam Kenyamanan Kedai Modern
Kedai kecil yang nyaman dan hangat. Nampak mesin coffee roaster merah di belakang

© Fransisca Agustin

Meja panjang di lantai 3
Tanamera Coffee: Sajian Kopi Lokal dalam Kenyamanan Kedai Modern
Meja panjang di lantai 3

© Fransisca Agustin

Tiba-tiba hujan sangat deras. Petir menggelegar. Masih dua jam lagi sebelum kawan saya datang. Malam ini saya menumpang tidur di apartemennya, karena besok pagi ada pekerjaan di bilangan Sudirman. Saya tidak mau berangkat subuh dari Bandung karena terlalu beresiko. Lagipula saya akan terlalu mengantuk untuk bisa bekerja seharian sampai malam.

Saya membuka GPS di ponsel. Mencari tempat menghabiskan waktu dengan tenang di dekat Thamrin City. Ah, ada Tanamera Coffee. Kedai yang cepat naik daun walaupun baru tiga tahun. Konon, para baristanya terkenal hebat, sampai sering dibajak kedai lain.

Saya mengeluarkan payung lipat dari tas. Sialan, kalau hujan angin sebesar ini, pakai payung sekalipun baju tetap basah. Celana panjang saya, apalagi. Dengan menggerutu saya berjalan kaki memutari apartemen, menuju Tanamera. Kedainya ada di deretan ruko. Saya menghela nafas. Huh, kenapa di ruko? Saya menggeser pintu…

Hangat aroma kopi langsung menyergap. Tiga orang barista tampan dengan kemeja yang digulung sampai siku dan celemek di dadanya, memberi salam sambil tersenyum. Cahaya lembut dan musik mengalun perlahan. Begitu nyaman di dalam sini. Sungguh kontras dengan hamparan paving block parkiran, dan deretan ruko kusam di kanan-kirinya. Seketika saya terhempas ke dalam adegan Coffee Prince, film seri Korea tentang sebuah kedai kopi kecil.

Tanamera hanya memakai kopi lokal Indonesia. Ada Rasuna Natural, Papua Wamena, Malabar Natural, Malabar Honey, Malabar Washed, Mandheling, Toraja, Aceh Gayo Semi Washed, Bali Kintamani, Flores, Lintong, dan Minang Solok. Mereka memanggang sendiri menggunakan roaster besar di belakang ruangan. Biji kopi produk mereka dikemas dalam bungkus merah yang artistik, dan dijajarkan di belakang counter. Harganya sekitar 105.000 – 135.000 untuk 250 gr. Rasuna Natural yang paling mahal.

Deretan produk biji kopi lokal yang mereka panggang sendiri
Deretan produk biji kopi lokal yang mereka panggang sendiri | © Fransisca Agustin
Kue dan pie yang menggugah selera
Kue dan pie yang menggugah selera | © Fransisca Agustin

Beberapa macam kue dan pie di balik kaca pendingin, sangat menggoda. Saya memesan sepotong banana caramel dan green tea latte plus sedikit kopi. Sudah terlalu sore untuk secangkir espresso.

Jarang sekali saya pergi ke café untuk menghabiskan waktu. Tapi tempat ini… sungguh sayang jika tidak dinikmati sambil melamun, memandangi sampai ke sudut-sudutnya, dan menghirup semua keharuman ini. Saya duduk di sisi dekat jendela. Memperhatikan barista membuat cappuccino dengan coffee maker, atau daily brew dengan corong V60. Beberapa tamu datang dan langsung akrab menyapa barista. Nampaknya mereka sering kemari.

Ada televisi flatscreen di atas rak kopi yang menampilkan cara pengolahan biji kopi dengan manual brew, juga pembukaan Tanamera di cabang lain. Kue dan pie mereka sepertinya berganti-ganti tiap hari, dan semuanya menggugah selera. Ada juga pilihan makanan berat. Kalau Anda ingin bersantai sambil membaca kabar terkini, ada majalah Times dan koran The Jakarta Post di rak.

Saya menyeruput hot green tea latte. Hmmm… aksen kopi yang jelas, meruap ke penciuman saya. Sedikit jejak manis di lidah, namun masih menyisakan pahit dalam rongga mulut. Sangat pas dengan segigit tart pisang panas dengan siraman saus karamel yang manis. Tak terhitung berapa kali saya berhenti mengunyah untuk mencecap rasa dan aroma. Sambil menutup mata dan mendengarkan hujan yang masih deras di luar.

Besok pagi, saya harus kemari lagi.

* * *

Pukul delapan Tanamera sudah buka. Daerah Thamrin dekat Bundaran HI memang strategis, banyak kantor dan apartemen di sekitar sini. Suasana Tanamera sangat cocok untuk menunggu masuk kantor, bertemu klien, istirahat makan siang, ataupun menunggu jalan lebih sepi sebelum berangkat pulang. Pagi ini cerah. Banyak orang duduk di meja luar, minum kopi sambil merokok dan bercengkerama.

Saya butuh kafein sebelum berangkat kerja. Tapi saya lapar, belum sarapan. Saya pesan chicken mushroom pie supaya lebih kenyang, dan secangkir kopi tanpa susu. Seorang barista perempuan yang manis menerangkan pilihan kopi yang mereka punya, juga perbedaan karakter rasa jika diolah jenis manual brew yang berbeda. Saya memesan daily brew kopi Minang Solok.

Saya lalu naik ke lantai 3. Sebelum menuju tangga, saya melewati seorang lelaki muda yang sedang memanggang kopi dalam mesin besar. Saya dengar, roaster Tanamera adalah orang Korea. Mungkin dialah yang dimaksud. Dari balik kaca, biji-biji kopi yang sudah mulai berwarna coklat, terlihat berputar-putar. Seluruh ruangan menjadi sangat harum.

Jendela di lantai 3, dengan barisan seperangkat grinder dan alat manual brew
Jendela di lantai 3, dengan barisan seperangkat grinder dan alat manual brew | © Fransisca Agustin
Drum-drum berisi biji kopi mentah yang siap dipanggang
Drum-drum berisi biji kopi mentah yang siap dipanggang | © Fransisca Agustin

Di atas, hanya ada saya sendiri. Ada jendela besar di sisi. Seperangkat grinder dan alat manual brew berbaris rapi. Di balik kaca, sebatang pohon rindang memenuhi frame. Cahaya matahari menembus sela-sela daun. Saya langsung lupa, di luar panas sekali dan di depan ada pembangunan gedung yang baru setengah jadi.

Pie ayam jamur ini hangat dan gurih. Daily brew arabika Solok, jernih dan pekat di lidah. Kalau saja saya tinggal di daerah sini, pasti saya akan sering kemari. Minum kopi sambil membaca dan menulis seharian. Lihat! Sudah disediakan stop kontak untuk charger.

Ponsel saya berbunyi berkali-kali. Beberapa rekan kerja sudah sampai di Sudirman dan mulai cerewet menanyakan, “Kamu sudah di mana?” Dari sini sebetulnya sangat dekat, hanya harus sedikit memutar. Dengan malas saya menghabiskan kopi, lalu beranjak pergi.

Fransisca Agustin

Pemusik kuli yang masih terus berusaha menggabungkan antara jurus-jurus Kungfu Hustle dengan David Foster.