Tan, Gie, Wiji dan “Istirahatlah Kata-Kata”

Wiji Thukul
Wiji Thukul | Sumber: rmol

Pada sebuah malam di bulan September 2014, di acara yang diselenggarakan penggiat HAM dan Seniman Kota Semarang bertajuk “Tribute to Munir,” saya berkesempatan bertemu dengan Fajar Merah dan Sipon, anak dan istri Wiji Thukul di depan gedung Fakultas Hukum, Universitas Diponegoro.

Wajah Fajar Merah terlihat sangat emosional malam itu. Duduk di sebuah sudut beranda ruang kelas dengan tatapan liar penuh keraguan, mimik wajahnya penuh tanya, seolah memendam rahasia yang amat serius. Dihisapnya kretek Dji Sam Soe dalam-dalam, dikeluarkan asap mengepul dari kedua lubang hidungnya. Tak ada seorang pun yang dekat apalagi bersentuhan dengannya, kecuali sebuah gitar yang setia di pelukannya.

Di sudut yang berbeda, terlihat ibunya, Sipon sedang berbincang serius dengan sejarawan Bonnie Triana dan penulis buku Kekerasan Budaya Pasca 1965, Wijaya Herlambang (alm) di depan puluhan lukisan Munir. Saya tak tahu persis apa yang mereka bicarakan. Bacaan saya malam itu, Bonnie dan Herlambang sedang menambah literasi atau mengonfirmasi pengetahuan sejarah mereka tentang Wiji Thukul pada Sipon.

Beberapa menit setelah pemandangan itu, Tepat di jam 20.00, panitia memanggil para peserta diskusi bertema “Kekerasan HAM oleh Negara” masuk ke Aula Fakultas Hukum.

Bonnie, Herlambang, Sipon, dan seorang moderator duduk di depan bersilah dekat panggung. Puluhan peserta diskusi lalu mengambil posisi setengah lingkaran berhadap-hadapan dengan pemateri. Tak kalah, saya yang sangat antusias dengan tema diskusi tersebut juga mengambil posisi duduk di barisan paling depan. Diskusi itu terbuka untuk umum, gratis tanpa tiket.

“Saya sempat dinyatakan gila, dan dua anak saya Wani dan Fajar yang masih kecil pernah diminta menandatangani izin bahwa ibunya bersedia direhabilitasi. Saya disuntik, ingatan saya dicoba dihilangkan. Itu saat saya meminta keadilan akan nasib suami saya (Wiji Thukul),” kata Sipon pada peserta diskusi.

Mata Sipon berkaca-kaca menarasikan kepedihan yang amat dalam tentang keadilan yang dia dapatkan selama ini. Sesekali matanya memandang wajah Fajar. Isak tangis Sipon tak tertahan saat Fajar yang terlihat menunduk tersendu mendengar ceritanya. Bagi Fajar, ini tentu bukan kali pertama ia mendengar kisah itu dari ibunya. Berjarak 10 meter dari Sipon, Fajar terlihat salting mendengar ibunya bercerita. Sesekali ia memain-mainkan melodi gitarnya.

“Saya di fitnah selingkuh, mereka (penguasa) menuduh saya selingkuh dengan banyak laki-laki, saat Wiji Thukul di pelariannya. Tak jarang cemoohan kata pelacur saya dapatkan dari orang-orang. Kata mereka, Fajar bukan anak kandung Wiji Thukul. Apa Anda yang datang ke ruangan ini tidak percaya? Lihat saja sekarang, wajah Fajar hampir tak ada beda dengan bapaknya,” lanjut Sipon.

Suasana sangat hening malam itu. Cerita-cerita yang keluar dari mulut Sipon tentang tekanan-tekanan yang di hadapinya dan anak-anaknya di penghujung Orde Baru sangat menggugah nurani sekaligus bikin geram, menanti kepastian akan letak keadilan di negeri ini tanpa jawaban hingga rezim silih berganti. Mulai dari Habibie, Gus Dur, Megawati, SBY hingga Jokowi sama saja. Semua masih diam. Negara masih bungkam.

Bersama Fajar Merah
Bersama Fajar Merah | © Anwar Saragih

Selepas Sipon bercerita, kini giliran Fajar Merah yang bercerita lewat petikan gitarnya. Dibawakannya lagu yang berjudul “Lagu Anak” ciptaan Danto Sisir Tanah yang di liriknya menarasikan kerinduan seorang anak pejuang pada sosok ayah yang hampir tak pernah dikenalnya.

“….Bapak seperti puisi
rumit dan singkat
Bapak seperti puisi
berlapis arti….”

Penggalan liriknya sangat mengena. Fajar juga mengeluarkan air mata malam itu. Tak mampu dia berkata-kata apalagi berpidato untuk menceritakan apa yang dia rasakan, yang terlihat malam itu, dia hanya bercerita lewat lagu. Merah bercerita.

Dua tahun empat bulan sesudah pertemuan dengan Fajar dan Sipon, tepat di tanggal 19 Januari 2017, bioskop-bioskop di Indonesia menayangkan sosok Wiji Thukul lewat film “Istirahatlah Kata-Kata” karya sutradara Yosep Anggi Noen. Antusias terhadap film ini harus kita akui tak begitu kuat. Namun harus diakui, film ini masih kalah favorit dari film “Cek Toko Sebelah” karya sutradara Ernest Prakasa atau film “Security Ugal-ugalan” karya sutradara Irham Acho Bahtiar yang ditayangkan bersamaan. Tak banyak bioskop yang berani menanyakan film ini dengan alasan pasar yang minim peminat.

Berjarak ribuan kilometer dari kota Semarang, saya menonton “Istirahatlah Kata-Kata” di CGV Blitz Focal Poin, satu-satunya bioskop yang menayangkan film ini di kota Medan. Saya nobar bersama para aktivis lintas generasi, latar belakang dan ideologi; kiri, tengah, dan kanan jadi satu. Mulai dari penggiat HAM, perlindungan anak, pejuang perempuan, hingga aktivis lingkungan hidup, berkumpul di bioskop. Seolah bersepakat, hari itu, di tempat inilah seorang aktivis bangga memasuki ruang-ruang berkelas parlente. Masuk Mall, naik eskalator hingga ikut dalam antrian tiket sembari membayar tanpa merasa rugi sedikit pun.

Lebih dari itu, saya melihat pemandangan yang unik hari itu. Para aktivis tersebut tanpa canggung berbalut bangga berfoto bersama dan selfie sembari memegang poster bergambarkan Wiji Thukul. Lini masa media sosial saya, mulai instagram, path, facebook hingga twitter sampai dipenuhi gambar Wiji Thukul. Bagi generasi millenial, film ini sedikit mengundang pertanyaan akan sosok, puisi, dan tulisan-tulisan Wiji Thukul yang penuh keikhlasan, ketulusan, dan kesabaran.

“Rezim ini bangsat tapi takut dengan kata-kata”

Ucapan yang keluar dari Wiji Thukul ini adalah kalimat awal yang paling saya ingat, saat menonton “Istirahatlah Kata-Kata”. Film ini menyajikan kisah persembunyian Wiji Thukul di pulau Kalimantan dan pulau Jawa saat rezim Orde Baru mengejar-ngejarnya. Film yang syarat kerinduan. Kerinduan akan keluarga, kerinduan akan demokrasi, kerinduan kebebasan akan belenggu kediktatoran, dan kerinduan akan datangnya keadilan.

Istirahatlah kata-Kata
Film Istirahatlah Kata-Kata
Gunawan Maryanto yang memerankan Wiji Thukul
Gunawan Maryanto yang memerankan Wiji Thukul | Sumber: Rollingstone.co.id

Pada bacaan saya setelah menonton film itu, kisah Wiji yang menjadi pejuang demokrasi jelang Reformasi 1998, tak ubahnya seperti kisah Tan Malaka di Proklamasi 1945 dan Soe Hok Gie di Pergerakan 1966. Saya membaca kisah perjuangan Tan Malaka dari buku Dari Penjara ke Penjara 1-3. Mirip Tan yang punya delapan nama samaran, Wiji juga beberapa kali mengganti namanya saat berada di Pontianak, Mulai dari nama Wanto hingga Paul. Sebaliknya, Soe Hok Gie dalam kisahnya di Catatan Seorang Demonstran juga pernah ditawarkan berganti nama seperti kakaknya Arif Budiman. Namun, Gie menolak mentah-mentah permintaan saran kakaknya.

Namun, titik temu yang paling nyata antara Wiji, Gie, dan Tan adalah tentang ketulusan perjuangan mereka. Ketiganya berjuang tanpa kompromi, konsisten melawan ketidakadilan, tidak terobsesi jabatan, dan “dilenyapkan”. Sebagai pejuang lintas generasi, mereka tak pernah berharap “bonus perjuangan” itu adalah karir politik. Apalagi berjuang untuk mendapatkan akses kuasa dan sumber daya. Walau konsekuensi terhadap perjuangan mereka yang tidak kenal kompromi itu menyebabkan nyawa mereka akan dihilangkan, tak jadi soal bagi mereka.

Tan Malaka menulis, Soe Hok Gie menulis, dan Wiji Thukul juga menulis. Tulisan yang menjadi warisan paling berharga mereka hingga hari ini. Kata-kata yang lebih menakutkan daripada senjata.

Kata-kata Tan tentang melawan kolonialisme dan ketidakadilan sempat beristirahat ketika nyawanya dilenyapkan rezim sampai Gie hadir menggandakan lewat puisi dan esai yang dia tulis. Kata-kata Gie juga sempat beristirahat saat arus perlawanan tanpa komprominya membuat gerah rezim yang kemudian melenyapkannya, hingga disambung kembali oleh Wiji.

Kini napas perjuangan melawan ketidakadilan itu ada pada “Kata-Kata” di puisi-puisi Wiji Thukul. Percayalah, kata-kata itu masih menagih, Ia masih hidup dan belum mati. Ia akan terus berlipat-ganda lewat film “Istirahatlah Kata-Kata”. Kata-kata itu tidak padam, ia hanya beristirahat dan akan segera berlipat-ganda di era kita, era millenial. Beristirahatlah dengan tenang bung!

Anwar Saragih

Penulis dan Peminum Kopi