Tamasya ke Museum Taman Purbakala Cipari

Tempat Pemujaan dan Sesajen
Lihat Galeri
10 Foto
Gerbang Utama Museum
Tamasya ke Museum Taman Purbakala Cipari
Gerbang Utama Museum

© Bagus Sentanu

Museum dari Luar
Tamasya ke Museum Taman Purbakala Cipari
Museum dari Luar

© Bagus Sentanu

Suasana Taman Batu
Tamasya ke Museum Taman Purbakala Cipari
Suasana Taman Batu

© Bagus Sentanu

Tempat Pemujaan dan Sesajen
Tamasya ke Museum Taman Purbakala Cipari
Tempat Pemujaan dan Sesajen

© Bagus Sentanu

Batu Menhit, Altar Pemujaan
Tamasya ke Museum Taman Purbakala Cipari
Batu Menhit, Altar Pemujaan

© Bagus Sentanu

Batu Temu Gelang
Tamasya ke Museum Taman Purbakala Cipari
Batu Temu Gelang

© Bagus Sentanu

Peti Kubur Batu
Tamasya ke Museum Taman Purbakala Cipari
Peti Kubur Batu

© Bagus Sentanu

Dari dalam Museum
Tamasya ke Museum Taman Purbakala Cipari
Dari dalam Museum

© Bagus Sentanu

Kapak Batu, Gelang Batu dan Kendi
Tamasya ke Museum Taman Purbakala Cipari
Kapak Batu, Gelang Batu dan Kendi

© Bagus Sentanu

Kapak Batu, Gelang Batu dan Kendi
Tamasya ke Museum Taman Purbakala Cipari
Kapak Batu, Gelang Batu dan Kendi

© Bagus Sentanu

Berkunjung ke Taman Purbakala Cipari adalah kunjungan yang tidak direncanakan sebelumnya. Seminggu sebelum bulan Ramadan, ini adalah tamasya di tengah perjalanan. Tujuan saya adalah mencari peralatan untuk membikin suatu kerajinan yang sedang digarap beberapa teman di komunitas, toko yang saya tuju berada di tengah kota. Ketika itu jalan utama yang menuju ke pusat kota Kuningan ditutup sementara karena masih dipakai berolah raga “Car Free Day” dari simpang empat lampu merah Cijoho saya mengambil jalan memutar ke sebelah barat menuju Gunung Keling Cigugur.

Dua teman saya, Ucek dan Melli memberi kabar akan menghadiri acara pernikahan temannya lebih dulu, kami berdua, saya dan Suci disarankan untuk ikut saja karena jalan kota pun belum bisa dilintasi kendaraan bermotor, tapi akhirnya kami memutuskan untuk menunggu saja, saya tidak kenal siapa yang menikah tersebut.

Saya pun memikirkan dimana tempat yang pas untuk menunggu, Ide untuk mengunjungi Museum Taman Purbakala Cipari menjadi satu-satunya yang terlintas di benak saya ketika itu, kami bersepakat mengunjunginya karena rute perjalanan yang kebetulan bakal melintasi kawasan tersebut, tidak sulit menemukan dimana lokasi museum, setidaknya saya sudah beberapa kali melintasi kawasan itu. Mudah karena saya memang warga lokal Kuningan.

Berkunjung ke museum adalah hal jarang saya lakukan, bahkan belum pernah sama sekali menjadi tujuan utama bagi saya. Ketika saya masih SLTA, guru sejarah belum pernah menyarankan untuk mengetahui benda-benda peninggalan zaman Megalitikum yang ada di Museum Purbakala Cipari, Cigugur, Kabupaten Kuningan. Pernah sekali waktu saya berada di kompleks museum, tetapi lagi-lagi bukan untuk kunjungan wisata apa lagi untuk kebutuhan studi semasa sekolah, melainkan untuk keperluan membolos karena kesiangan. Pengalaman berkunjung yang kedua ini tak kalah menyenangkan, karena saya bersama pacar. Hehehe…

Udara yang sejuk mulai bisa dirasakan ketika masuk kompleks Museum Taman Purbakala Cipari, pohon-phon besar yang berada di sekitar kompleks yang menjadikan udara siang itu terasa sangat sejuk. Saya memarkir sepeda motor di lokasi parkir yang tidak jauh dari gerbang utama masuk ke taman. Saat itu tempat parkir yang luas tersebut sedang kosong, hanya ada dua kendaraan: satu mobil avanza warna silver dan satu sepeda motor yang saya duga itu adalah milik salah seorang penjaga parkir —karena di setang motornya tergantung rompi warna jingga—. Mamang tukang parkir tengah asyik berbincang dengan salah seorang temannya, menoleh ke arah saya kemudian menyarankan agar mengunci stang sepeda motor, saya mengangguk patuh pada sarannya.

Saya masuk dari gerbang utama, gerbang setinggi kira-kira dua meter itu tersusun rapi dari batu. Dan pagar tamannya pun sama terbuat dari batu yang disusun sedemikian rupa. Pagar batu mengelilingi museum seluas 2000 m². Museum Taman Purbakala Cipari dulunya adalah lahan pertanian, ketika tahun 1971, pertama kali ditemukan kapak batu juga perkakas lain yang terbuat dari batu. Benda-benda dari batu tersebut ditemukan oleh masyarakat berulang kali, yang setelah diperiksa mempunyai kemiripan dengan benda-benda yang pernah di pameran purbakala, saya lupa menanyakan lebih rinci soal nama dan tempat pameran tersebut. Kemudian pada tahun 1972 dilakukan evakuasi oleh lembaga peninggalan purbakala nasional dengan luas total 7000 m² yang disediakan untuk percobaan penggalian pertama, namun hanya 2000 m² yang digali dengan sistem diagonal. Dan sampai sekarang belum ada rencana penggalian selanjutnya. Pada kedalaman 1-2 meter sudah bisa ditemukan benda-benda purbakala. Salah satu yang pertama ditemukan dari penggalian itu adalah peti batu kubur, ketika ditemukan sudah tanpa kerangka manusia.

Peti itu diletakan di luar museum tepatnya berada di taman, bersebelahan dengan Batu Temu Gelang yang menjadi tempat musyawarah. Batu di tengah lingkaran itu (batu temu gelang) adalah batu yang dipakai tempat duduk Tetua atau pemimpin kelompok menghadap langsung ke tempat penyimpanan hasil bumi. Zaman purbakala Cipari mengalami beberapa peralihan, salah satu cara bertahan hidup mereka adalah dari hasil bumi, zaman yang sudah mengenal sistem pertanian. Pada dua sisi berikutnya, di sebelah barat ada altar batu pemujaan (Batu Menhit) dan Batu Pipih Panjang untuk penyimpanan sesajen (Batu Dolmen) di sebelah timurnya ada batu-batu untuk mengolah hasil bumi diantaranya batu yang dipakai untuk meracik bumbu, untuk menumbuk padi (Batu Dakun). Tidak semua penemuan dari hasil penggalian disimpan di dalam Museum, dengan penataan seperti ini saya merasakan suasana yang lebih dekat dengan peninggalan sejarah megalitikum.

Suasana yang sunyi melengkapi keakraban, seperti benar masuk ke peradaban zaman 1000 – 1500 tahun sebelum masehi (Ini bisa diperdebatkan), sejajar dengan usia peninggalan benda purbakala. Sepertinya memang benar, Museum Taman Purbakala Cipari bukan menjadi tujuan utama wisata, dari sejak kedatangan saya tidak berjumpa dengan pengunjung lain, tetapi ini menjadi bonus bagi saya untuk bisa menikmati keindahan Museum. Setelah cukup puas mengamati batu-batu di sekitar taman saya masuk ke bagian dalam museum, disambut oleh Pak Suma yang saya lihat dari kejauhan tadi terlihat sedang membolak-balikan tiket masuk. Dia memperkenalkan dirinya sebagai pelaksana situs Museum Taman Purbakala Cipari terhitung sejak tahun 1992. Pak Suma mengira kami datang dengan keperluan untuk tugas sekolah atau kuliah, mungkin karena melihat saya membawa buku catatan dan memotret kesana kemari sehingga disangka demikian.

“Mari dik, saya tunjungan benda-benda peninggalan yang tersimpan di museum”. Pak Suma mempersilahkan kami masuk, saya mengikutinya dari belakang. Di dalam museum kami diberi tahu nama dan fungsi benda di dalam lemari kaca, saya melihat kapak dari perunggu dan kendi yang sudah diberi pelekat karena saat pertama ditemukan sudah dalam keadaan pecah, gelang dari perunggu. Yang menarik perhatian saya adalah kapak, karena kapak yang saya lihat di museum ukurannya lebih kecil dari umumnya.

Ada beberapa benda yang berada di museum ini adalah benda temuan masyarakat sebelum penggalian oleh Lembaga Peninggalan Purbakala Nasional. Tidak semuanya terbuat dari batu, ada juga dari besi yang diserahkan oleh masyarakat ke pihak museum berupa keris dan pedang.

Apakah ada juga benda yang ditemukan selain dari batu?

Pak Suma menerangkan bahwa benda yang ada di museum selain batu adalah benda pusaka turun-temurun yang dirasa sudah tidak diperlukan oleh pewarisnya maka benda itu dititipkan di museum.

Setelah saya selesai memotret beberapa benda yang berada di dalam museum, saya menghampiri kembali Pak Suma menanyai soal bagaimana promosi museum. Apakah sepinya pengunjung karena kurangnya informasi seputar museum, sehingga masyarakat tidak mengetahui keberadaan museum purbakala.

Menurut Pak Suma sepinya pengunjung bukan karena informasi yang kurang, museum ini sudah dibuka dari mulai tahun 1978, akan tapi masyarakat belum sadar saja tentang bagaimana wisata yang lebih edukatif. He’em sih Pak, hari ini bukan wisata namanya kalau tidak ada pusat belanja. Aku berwisata sekaligus berbelanja maka aku ada! Hmmm…

Beberapa kali juga Museum Taman Purbakala Cipari ini diminta dari salah satu stasiun televisi swasta yang acaranya jalan-jalan sambil nyari hantu untuk diizinkan syuting di museum. Beberapa pihak memberi saran supaya tawaran itu diambil sebagai bagian dari promosi, tetapi dari pihak museum tidak memberi karena hanya akan memberikan citra yang mistis saja pada museum, kata Pak Suma. Pak Suma juga menambahkan sesuatu yang membuat saya bangga pada prinsip para pengurus museum. “Musium itu tempat belajar dan untuk mengetahui peninggalan pendahulu kita, bukan untuk acara nyari hantu.”

Waktu sudah berangsur dari pagi ke siang menjelang sore, suasana tetap sunyi, pengunjung masih tetap hanya kami berdua. Saya kira kesunyian itu hanya milik jomblo, ternyata museum juga, ya. Saya pamit pada Pak Suma dan membayar tiket masuk yang super murah, hanya dua ribu rupiah.

Pada langkah kaki kedua saya saat akan meninggalkan pintu museum saya mendengar bisikan gaib wanita di belakang saya: “Bagus, ya, kalau nanti ambil foto di sini, untuk cetak undangan pernikahan kita.” Seketika itu pula kaki terasa berat untuk dilangkahkan, bulu kuduk merinding, tapi entah kenapa hati saya tiba-tiba terasa senang nan bahagia sekali.

Bagus Sentanu

Pembaca jenis buku apa saja dan menulis sebisanya.