Tak Sekadar Mengandalkan Kopi

Rumah Pak Alex yang dikelilingi kebun kopi
Rumah Pak Alex yang dikelilingi kebun kopi | © Ananda Firman J

Tim Ekspedisi Kopi Miko berkendara menuju Dusun Danci, Desa Kemiri, Kecamatan Panti di utara Kabupaten Jember. Dusun ini kami pilih karena terkenal memiliki banyak petani kopi yang berkebun di lereng Pegunungan Argopuro. Perjalanan kami belum juga sampai di Dusun Danci, namun motor kami terpaksa berhenti di Dusun Shodung. Kami terpana melihat rerimbunan pohon kopi sedang berbunga. Juga sebuah rumah kecil di tengah-tengah kebun kopi itu.

Tampak pria mungil, yang tingginya tak lebih dari 150 sentimeter, keluar rumah tanpa mengenakan pakaian ketika kami berhenti di halaman rumahnya. Pak Alex, begitu ia memperkenalkan dirinya. Nama ‘Alex’ sebenarnya nama anaknya yang berusia 7 tahun. Sedangkan namanya sendiri adalah Sugeng. Inilah yang disebut sebagai ‘nama daging’. Nama ‘Pak Alex’ ini merujuk nama anak pertama.

Rerimbunan pohon kopi di sekitar rumah Pak Alex itu sepertinya kurang tepat jika disebut halaman rumah, dan lebih pantas jika rumahnya berada di kebun kopi. Hal ini dikarenakan perbandingan rumah, luasan tanah, dan jumlah tanaman kopi di sana.

Wajahnya tersenyum ketika menangkap kekaguman kami akan kebun kopinya. Pekarangan rumahnya ini benar-benar asri, bukan saja karena bunganya tapi juga tataletaknya. Tanah yang ditanami kopi ini berundak dan masing-masing teras tampak sama luas.

Tanaman penaung di kebun kopi ini tertata rapi, tanaman keras seperti mahoni, sengon, durian, kayu khas yang semakin membuat tampak rindang menaungi tanaman kopi robusta. Kalau diperhatikan lebih dekat, di pepohonan itu ada tumbuhan rambat yang berbuah kecil, merica. Semakin diperhatikan lagi akan terlihat di pinggiran kebun kopi terdapat cengkeh setinggi setengah meter.

Tim Ekspedisi Miko berbincang dengan Pak Alex di teras rumahnya
Tim Ekspedisi Miko berbincang dengan Pak Alex di teras rumahnya | © Ananda Firman J
Tanaman merica yang merambat di tanaman sela
Tanaman merica yang merambat di tanaman sela | © Ananda Firman J

Sebentar lagi buah kopi di kebunnya mulai memerah dan siap panen. Artinya, sudah kali keempat pria beranak dua ini memanen kopi. Pohon kopi itu ia tanam setelah banjir bandang Panti yang terjadi akhir 2006. Ia mulai menanam sekitar 8 tahun yang lalu. Sedangkan tanah tersebut, dibelinya setahun sebelumnya. Pemiliknya yang dahulu pindah ke Banyuwangi setelah bencana banjir bandang.

Hampir semua petani kopi di Kecamatan Panti ini hanya memetik kopi ketika kopi berwarna merah. Tak asal petik. Termasuk Pak Alex.

Tahun lalu kebun kopinya mendapatkan Rp20 juta dari hasil menjual biji kopi kering atau biasa disebut biji beras. Ia memprediksi produktifitas tahun ini bakal menurun. Harga kopi tahun lalu dan sekarang pun hampir sama. Tahun lalu sekitar Rp22 ribu – Rp23ribu per kilogram. Harga kopi saat ini adalah Rp 24 ribu di pengepul langganan. Sedangkan, di pengepul lain ada yang memberi harga Rp23.500 tapi itu karena petani terikat utang. Utang petani kepada tengkulak biasanya digunakan untuk biaya panen seperti membayar buruh panen dan membeli pupuk.

Tetapi, total penerimaan dari panen kopi itu masih harus dikurangi dengan biaya panen. Seperti penggunaan pupuk, ia membutuhkan 5 kwintal pupuk campur (urea dan MPK) yang dibeli dengan harga Rp180 ribu per kwintal. Pemupukan itu dilakukan dua kali dalam setahun, saat kopi berbunga dan saat kopi mulai berbuah. Pupuk diperlukan saat jelang musim panen. Selain pupuk, ia membutuhkan tambahan tenaga kerja panen kopi sebanyak 2-3 tenaga pemetik. Bisanya tenaga pemetik itu akan bekerja selama 1 sampai 2 minggu dengan ongkos perhari Rp30 ribu.

Dari perhitungan pendapatan kebunnya tahun lalu memang tak akan cukup untuk kebutuhan keluarganya setahun. Kalau hanya bergantung pada kopi tidak akan cukup, katanya. Karena itu, ia coba produktifkan lahan dengan menanam berbagai tanaman lain. Serta, terkadang, ia bekerja sebagai buruh bangunan di Pulau Bali ketika tidak ada aktivitas di kebun.

Pria berijazah SD ini sudah mensyukuri hidupnya. Jika ada harapan, ia memiliki harapan kecil saja, yakni mendapatkan bibit tanaman-tanaman lain yang punya nilai ekonomi lebih tinggi untuk ditanam di kebunnya, seperti vanili. Ia juga mulai berharap pada cengkeh yang baru ditanamnya agar terus tumbuh dan berbunga. Sehingga tanpa menunggu musim kopi tiba, ia mendapatkan penghasilan lebih. Tak sekadar mengandalkan kopi.

Ekspedisi Kopi Miko

Ananda Firman J

Bersama Rotan menjadi Volunteer Sokola Kaki Gunung di Jember.