Tak Ada Kopi Hitam di Semarang

Saya terbawa ke Semarang karena suatu urusan. Selama 3 bulan di sana saya (kembali) menjadi anak kosan. Selama itu pula saya harus menghadapi gilanya lalu lintas kota Semarang: suhu panas, sumpek, dan yang paling fatal adalah tak ada kopi hitam di sana. Kopi hitam yang saya maksud adalah kopi bubuk hasil sangrai biji kopi yang diselep atau dihaluskan dengan mesin. Bukan kopi hitam yang biasa saya pesan di warung.

Saya berasal dari Rembang. Tepatnya Kecamatan Pamotan, tak jauh dari Kecamatan Lasem yang terkenal dengan tradisi ngopinya: kopi lelet dan nglelet atau membatik rokok.

Di Pamotan—bahkan di Rembang— hampir setiap warung kopi umumnya menyuguhkan menu kopi lelet. Memang tak semua menu kopi lelet tertulis di daftar menu. Tapi percayalah, ketika anda terdampar di kabupaten Rembang dan mampir di warung dan memesan kopi hitam, anda akan disuguhkan dengan kopi lelet. Bukan kopi sachet.

Di Semarang, selama hampir tiga minggu saya tak bisa menikmati kopi lelet. Saya yang hampir setiap hari harus minum kopi lelet, walhasil terpaksa harus menerima kopi sachet di Semarang. Sampai akhirnya di minggu ke empat, ketika saya pulang ke Rembang, saya membeli seperempat kilogram kopi lelet bubuk siap seduh. Tak susah untuk membeli kopi bubuk. Banyak warung menyediakannya. Bahkan, salah satu warung kopi di Lasem, sudah menyiapkan kopi bubuk dengan berbagai kemasan. Dari seperempat kilo sampai satu kilogram untuk dinikmati mereka-mereka yang sedang berada di luar Rembang dan rindu dengan kopi Lasem atau untuk dijual kembali.

Kopi lelet, Kopi Lasem, Semarang
Kopi Lelet | © Ahmad Luthfil Hakim

Sampai di Semarang, sembari menghilangkan penat setelah sehari penuh kegiatan, bersama anak-anak kos lain yang berasal dari berbagai daerah Jawa Tengah, kusuguhkan kopi lelet. Kujerang air sampai mendidih. Gelas, sendok, gula, dan tentu saja bubuk kopi lelet telah siap.

Tak perlu waktu lama, kopi sudah terseduh. Salah satu teman yang berasal dari Brebes mencoba, “Enak bro!” katanya singkat. Disusul teman dari Pekalongan. Mereka tak banyak bicara, hanya mengacungkan jempol untuk menilai kopi yang saya suguhkan. Entah itu hanya untuk menghargai kopi buatan saya atau memang mereka tidak pernah merasakan kopi bubuk seperti itu. Tapi saya bahagia. Karena kopi lelet bisa diterima oleh meraka.

Lalu, saya menikmati kopi buatanku sendiri. Saya diam. Tapi dalam hati saya merindukan rumah. Rasa kopi di rumah dan di Semarang memang tak berbeda. Soal manis dan pahit adalah pilhan, tapi suasana hangat, canda tawa, juga adat nglelet rokok tidak bisa dibawa sampai Semarang.

* * *

Pernah suatu ketika saya pergi ke salah satu rumah teman di Gunung Pati, Semarang. Dia mengajak saya ke salah satu tempat wisata di sekitaran sana. Tepatnya di Waduk Jati Barang juga di Goa Kreo. Kedua tempat wisata itu berada satu komplek. Tinggal memilih mau menikmati wisata yang mana. Tapi saya lebih tertarik di rumah pohon yang berada di sebelah kanan waduk Jati Barang. Ternyata rumah pohon adalah sebuah kafe. Kulihat menu yang tersedia, ternyata ada kopi lelet. “Wah, ternyata ada kopi lelet juga,” bisikku pada dia.

Tapi, yang membuat saya sedikit kecewa adalah harga yang dipatok. Untuk secangkir kopi lelet, saya harus merogoh kocek Rp10 ribu. Mungkin untuk kalian itu murah, itu terjangkau. Tapi bagi saya yang biasa dengan kopi lelet seharga Rp2.500 satu cangkir adalah hal yang terlalu mahal. Bahkan di warung pinggir jalan yang katanya warung remang-remang saja, secangkir kopi lelet paling hanya Rp5 ribu. Jarang ada yang sampai menyentuh harga Rp10 ribu . Di lain sisi, saya bangga. Kopi lelet memiliki harga tinggi. Saya pesan satu. Rasanya, ya kopi lelet hanya tempatnya di rumah pohon di Gunung Pati Semarang.

Saya tidak memaksakan kepada anda untuk membeli kopi lelet, juga tidak membandingkan kopi lelet dengan kopi-kopi lain, bahwa kopi lelet yang paling enak. Toh, Rembang sendiri bukan penghasil biji kopi. Kopi lelet hanyalah biji kopi sangrai yang setelah diselep dan menjadi bubuk, kembali diselep lagi untuk kedua kalinya. Sehingga untuk satu kilogram biji kopi sangrai setelah diselep hanya menjadi 8 ons bubuk kopi lelet. Itu informasi yang pernah saya dengan dari salah satu warung kopi langganan di Lasem. Jadi, kopi lelet bukanlah nama biji kopi seperti Aceh Gayo, atau yang lainnya. Tapi hanya bentuk bubuk kopi serta adat ngopi saja.

Jika tidak keberatan, mari ke Rembang, Lasem tepatnya. Mari ngopi bersama saya.