Tabula Rasa Aceh di Rajasabi

Sejak kembali ke Jogja pada tahun 2014, ada banyak perubahan yang terjadi di Jogjakarta khususnya di jalan Monjali. Mulai dari nama jalan Monumen Jogja Kembali yang berubah menjadi jalan Nyi Tjondro Lukito hingga hadirnya rusunawa yang tepat berada di seberang pom bensin.

Selain itu, jalanan kian padat. Sudah banyak ruko dan kafe yang menjamur di Jalan Nyi Tjondro Lukito. Sebenarnya ini tak mengherankan karena jalan ini merupakan jalan strategis yang menghubungkan jalan Magelang dan jalan Kaliurang. Adanya jembatan baru di dekat fakultas teknik UGM membuat kian banyak kendaraan pribadi melintas di jalan ini.

Barisan rak berisi biji kopi
Barisan rak berisi biji kopi | © Moddie Alvianto Wicaksono

Dari sekian ruko yang berjajar di sepanjang jalan Nyi Tjondro Lukito, ada satu ruko yang disulap menjadi kedai kopi sederhana. Letaknya di jalan Nyi Tjondro Lukito no 66. Saya berani bertaruh, sepanjang jalan tersebut hanya kedai kopi inilah yang menjual minuman dan makanan dari, oleh, untuk orang Aceh. Namanya Rajasabi Ice and Coffee.

Ihwal perkenalan saya dari Rajasabi saat dosen saya mengatakan bahwa ada kedai kopi yang harus dicoba oleh saya. Ia berkata, “Kamu harus coba kopi aceh yang dibuat langsung oleh orang Aceh.” Secara kebetulan dosen saya itu juga orang Aceh.

Saya mengiyakan saja perkataannya. Kemudian saya berangkat bersama beliau dan teman-teman menuju ke tempat tersebut. Kebetulan pula kedai tersebut baru buka seminggu di awal tahun 2015. Tak banyak meja dan kursi. Hanya meja berjumlah tiga dan kursi yang tak lebih dari sepuluh.

Setelah bercakap-cakap dengan abang Candra, sang pemilik Rajasabi, kami memesan kopi dan roti canai. Oh iya, kopi dan roti langsung dibuat olehnya. Jika makanan berat, kalian bisa memesan kepada si ibuk. Saya menyebutnya begitu karena sampai saat cerita ini ditulis, saya lupa menanyakan namanya.

Tak butuh proses lama. Kopi datang dan disambut roti canai. Aromanya harum dan baunya menguar hingga menusuk ke hidung. Kemudian saya menikmati, mencecap, dan menyesap kopi gayo perlahan-lahan. Ah, ternyata memang benar perkataan dosen saya. Rasanya beda jika yang membuat langsung dari orang Aceh. Mantap Surantap.

Kopi Gayo Aceh khas Rajasabi
Kopi Gayo Aceh khas Rajasabi | © Moddie Alvianto Wicaksono

Begitu pula dengan roti canai. Rasa manis bercampur legi begitu memenuhi lidah dan bibir saya. Saya sengaja memesan roti canai meses karena lagi-lagi direkomendasikan dosen saya. Dan sekali lagi, rekomendasinya sangat manjur untuk menghilangkan penat akibat tugas tak kunjung usai.

Setelah siang itu, malam demi malam hampir pasti saya lalui di kedai tersebut. Saya pun lantas mengajak teman-teman seperjuangan untuk pindah ke markas baru. Teman-teman pun menyukainya. Hampir tidak pernah satu malampun terlewatkan di kedai tersebut kecuali Selasa. Kenapa begitu?

Saya pernah iseng bertanya kepada bang Candra kenapa kedai harus tutup di hari Selasa. “Saya takut tumbang, soalnya kan harus mengerjakan sendiri. Jadi harus ada rehat sehari” kata bang Candra suatu ketika. Jawabannya tepat sekali. Kedai Rajasabi yang tak pernah sepi membuat fisik harus dijaga secara stabil.

Salah satu menu favorit Rajasabi
Salah satu menu favorit Rajasabi | © Moddie Alvianto Wicaksono

Di kedai Rajasabi kami sampai membuat perkumpulan. Namanya Gaspol. Ihwal nama tersebut karena salah seorang teman yaitu Levi selalu menyebut kata Gaspol sesaat setelah menyeruput espresso. “Abis menyeruput espresso, mata itu rasanya melek, otak seperti ditendang, jadi seperti digasss..polll. Gaspollah pokoknya” kata Levi di malam itu.

Karena terlalu sering kesitu, saya sampai hafal dengan beberapa kebiasaan di sekitar Rajasabi. Seperti ada seekor anjing hitam yang selalu menyebrang dari arah timur ke barat sekitar jam 10-11. Sekitar jam setengah 9 ada pengamen yang selalu memakirkan sepedanya di seberang, kemudian bernyanyi sambil memanggul radio mini dengan suara khasnya untuk para penikmat Rajasabi. Dan masih banyak lainnya.

Oh iya perlu kalian ketahui, kedai Rajasabi ini boleh dikatakan kedai kopi aceh terbaik di Jogja. Kenapa begitu, karena hampir pelanggannya pasti orang-orang Aceh yang kebetulan belajar dan bekerja di Jogja. Saya berasumsi demikian karena jika ada kedai minum atau warung makan berasal dari Aceh dan banyak digemari oleh orang-orang Aceh yang ada di Jogja maka bisa dipastikan rasanya mendekati bahkan mirip dengan aslinya.

Bahkan teman saya yaitu Hair pernah bergurau “di Rajasabi ada dua tipe penikmat kopi. Orang Aceh dan bukan orang Aceh.” Ia mengungkapkan demikian karena dari delapan meja yang tersedia, tujuh diantaranya adalah orang-orang Aceh. Nah yang tersisa satu pasti menjadi tempat kami.

Kini, di tahun 2017, ada banyak perubahan pula di Rajasabi. Kedai pun meluas. Dulu cuma satu ruko kini tambah satu lagi di sebelahnya. Ada televisi yang terpampang di tembok. Tak ada tutup di hari Selasa karena bang Candra telah ditemani oleh beberapa pekerja. Ada rak berisi barisan sejumlah trofi futsal. Sebagian tembok dicat menjadi warna biru. Dan yang paling penting kini tak hanya orang-orang Aceh yang berada di situ. Melainkan banyak orang non Aceh bahkan sampai tetangga-tetangga rumah saya pun ikut menikmati sajian Rajasabi.

Nasi gurih ayam
Nasi gurih ayam | © Moddie Alvianto Wicaksono

Tak hanya roti canai ataupun kopi melainkan ada nasi gurih dan mie khas aceh. Kalian patut mencobanya. Tren ngopi telah berkembang dari masa ke masa. Ngopi di kedai kopi memiliki sensasi dan nuansa yang berbeda. Di kedai kopi ada pergulatan rasa, pertautan tawa, hingga persatuan bahasa. Rajasabi menawarkan itu semua.

Jika warkop yang digawangi Dono, Kasino, dan Indro memberikan slogan “tertawalah sebelum tertawa itu dilarang” maka rajasabi menyatakan “Kopi dalam Cawan, Mati dalam Candaan”.

Moddie Alvianto Wicaksono

Pemain Futsal Amatir