Superego Ken

Saya tak mau panjang lebar mengawali tulisan film versi baru “Murder on The Orient Express” yang diangkat dari novel legendaris Agatha Christie ini dengan semacam sinopsis yang bisa Anda cari sendiri di mesin pencari sambil kasak-kusuk bertanya kepada kerabat Anda yang sudah menontonnya.

Sebelum menonton, saya sengaja hanya mengekalkan kembali ingatan pada novelnya yang sempat booming di era 1980-an, cetak ulang berkali-kali dan tiga kali ganti cover oleh penerbitnya. Jadi, saya menyiapkan diri menonton dengan mengenyahkan kenangan pada film layar lebarnya yang pernah beredar pada 1974 dan mengenyahkan pikiran kepada bukunya (ya, saya tahu siapa pembunuhnya) supaya efek yang ingin disampaikan film ini tercapai.

Murder on The Orient Express
Murder on The Orient Express | Sumber: Deliciousreads.com

Sejumlah bintang ternama (Michelle Pfeiffer, Penelope Cruz, Willem Dafoe, Johnny Depp) dikumpulkan Kenneth Brannagh (Ken) yang nyaris dalam sepanjang film ini seolah sedang membeberkan super egonya sebagai sineas komplit: produser, sutradara dan aktor.

Ken semula tenar dalam film-film adaptasi teater Shakespeare macam “Macbeth” (ya, sutradara juga), “Henry V”, “Amadeus” dan terakhir muncul dalam serial “Harry Potter”. Namanya memang masih menjanjikan sebagai aktor dengan masih mendapatkan order membintangi film bermutu, tapi mohon maaf, sepertinya ia sudah bukan orang yang menjadi headline di media massa seperti era 1990-an.

Maka, ketika hendak menyaksikan film ini, apa yang sedang dilakukan Ken dengan mengangkat novel klasik yang terlalu tenar? Ya, ini risiko besar karena pembaca novel pasti mati-matian membandingkannya. Ken sebagai sutradara/aktor pernah berhasil mengadaptasi “Mary Shelleys Frankenstein” (1994) yang juga bertaburkan bintang besar Robert de Niro dan Helena Bonham Carter. Tapi entah kenapa meski berbekal referensi cukup lumayan tentang Ken, saya sempat meragukan karya terbarunya ini menjadi film yang baik, apalagi laku, mengingat banyak film daur ulang Hollywood gagal total.

Di benak saya, film adaptasi atau berdasarkan novel yang berhasil adalah mampu membuat publik “lupa” kepada novelnya dan lebih ingat filmnya seperti Alfred Hitchcock lewat “Pyscho” (novel Robert Bloch), Steven Spielberg lewat “Duel” (cerpen Richard Mattheson), Paul Verhoeven lewat “Total Recall” (novel Phillip K. Dick), Charles Bronson/Michael Winner dalam “Death Wish” (novel Brian Garfield), Shawn Levy melalui “Real Steel” (novel Richard Mattheson) sampai Stallone dengan “Rambo”-nya (dari novel “First Blood” David Morrell). Untuk menyebut “Rambo”, malah akhirnya diacak-acak jadi film laga propaganda AS kisah hiperealis mutakhir AS pemenang perang Vietnam selain ya, yang paling dikenal ya Sylvester Stallone!

Oleh karenanya, saya ragu kepada Ken dengan mengangkat kembali cerita yang terlalu tenar karya Agatha Christie. Beruntung, di sekujur film, Ken berhasil mengelabui saya dengan aneka rupa panorama Istanbul yang cantik, badai salju, dan spesial efek kecelakaan kereta api Orient Express yang berhasil menggantikan film yang aslinya banyak dialog ini dengan tak lupa memanjakan mata-telinga! Tapi sebagai pembaca, kesuksesan Ken mengelabui saya tak bisa dipisahkan dari peran Michael Green.

Ken tak salah menggaet Michael Green yang buat saya adalah penulis skenario yang cukup unggul mengadaptasi cerita novel-komik. Green mulai dikenal ketika dipercaya mengadaptasi komik DC Comics “Green Lantern” (2011) yang sayangnya gagal total baik sebagai film dan juga pendapatan box office. Green buat saya lebih berhasil di “Logan” (2017) walau sebelumnya ia gagal (untuk pendapatan box office) di sequel “Blade Runner 2049” (2017).

Sebenarnya, tantangan terbesar lebih dihadapi Green sebagai penulis skenario yang pastinya dituntut membuat cerita klasik ini berhasil memanjakan visual tanpa mengabaikan “ruh” aslinya. Ratting PG untuk penonton remaja terhadap film ini sebenanya “beban” Green dan Ken agar film ini bisa memikat penonton generasi milenial yang terlalu lama dimanjakan efek visual Computer-generated imagery (CGI) selain kenangan soal Agatha Christie yang pasti lebih banyak dialami Oom dan Tante mereka.

Poirot pun di sini tak harus digubah macam Sherlock Holmes 2011 menjadi sosok heroik, enerjik dan jago kelahi ketika diperankan Robert Downey Jr. Poirot tetaplah seorang detektif pensiunan yang disegani, arogan, dan cerdik persis seperti dalam novelnya walau di sini sebagai “seleb” masyarakat ia jadi sulit mencari waktu untuk berlibur. Kehadirannya selalu memaksa orang untuk “mengganggu” waktu privasinya berlibur dengan menyewa jasanya sebagai detektif.

Salah satu dialog menarik adalah ketika pembunuhan Poirot seolah ditantang untuk tak sekedar memecahkan misteri dan menangkap pembunuhnya, melainkan dipaksa untuk sedikit melenceng dari “konsep” keadilan.

Untuk mencegah tulisan ini menjadi spoiler (apalagi iklan gratis) seusai menonton film ini masih terngiang di benak saya—barangkali Ken ingin menyampaikan kepada kita, penonton, bahwa sangat sulit bersikap adil walau seperti kata sastrawan Pramoedya Ananta Toer (hey, ngomongin Agatha Christie kok malah lari ke Pram?) “adil sejak dalam pikiran”.

Satu kata lain yang ingin saya sampaikan kepada Kenneth Brannagh untuk film ini adalah : welcome back, Ken!

Donny Anggoro

Pembosan,pemalas,pendiam, CEO toko buku online Bakoel Didiet dan Roundabout Music Blok M Square, Jakarta.