Sunny’s Gelato, Es Krim Terenak se-Solo

Nongkrong-nongkrong Cantik
Nongkrong-nongkrong Cantik | © Diana Nurwidiastuti

When you’re stressed, you eat ice cream, chocolate, and sweets. You know why? Because ‘stressed’ spelled backwards is ‘desserts’. -anonymous

Selain belanja, barangkali hal kedua yang digilai sebagian besar perempuan adalah es krim. Rasanya yang manis dan dingin sangat ampuh untuk mengusir kejenuhan dan stress. Perempuan kan gampang stress dan baperan. Harga cabe mahal, pusing. Nggak kebagian flash sale hijab idaman, kesel. Pasangan naruh handuk basah sembarangan, bete. Mantan sekarang kelihatan lebih ganteng, galau. Apalagi kalau sudah menikah dan punya anak, rasa-rasanya apapun bisa jadi pemicu ledakan amarah. Maka, sebagai ibu rumah tangga yang tiap hari digelayuti makhluk kecil penguras energi, kepada pencipta es krim saya berterimakasih sekali.

Menurut info yang dirangkum Wikipedia, es krim awalnya hanya disajikan sebagai hidangan istimewa kerajaan. Baru pada pertengahan abad ke-18, es krim bisa dinikmati banyak orang dan harganya lebih terjangkau. Lalu pada paruh kedua abad 20, es krim menjadi populer di seluruh dunia seiring dengan ditemukannya mesin pendingin yang juga makin umum digunakan. Bersyukur ya rasanya hidup di zaman sekarang, mau makan es krim nggak harus jadi keluarga kerajaan dulu.

Gelato sendiri merupakan bahasa Italia untuk es krim, atau bisa dikatakan sebagai es krim yang dibuat dengan gaya Italia. Bahan dasar utama yang digunakan untuk membuat gelato adalah susu, krim, dan gula. Tiga bahan utama ini kemudian dicampur dengan buah atau kacang-kacangan untuk menghasilkan rasa yang diinginkan.

Apa yang membedakan gelato dengan es krim? Kandungan lemak yang dimiliki gelato lebih rendah dibandingkan dengan es krim pada umumnya. Namun, gula yang terkandung justru lebih banyak. Di Italia sendiri, ada hukum yang mengatur bahwa kandungan butterfat (lemak susu) pada gelato adalah minimal 3,5%. Selain itu, kandungan udara yang ada pada gelato juga lebih sedikit, sehingga konsistensinya lebih padat dan rasanya lebih tajam. Meski tak setajam celetukan tetangga. Heu.

Gelato in A Cone
Gelato in A Cone | © Diana Nurwidiastuti

Sebagai kota kecil dengan banyak sekali tempat untuk wisata kuliner, saya bersyukur Sunny’s Gellato hadir di Solo. Baru dibuka sekitar setahun, kedai khusus gelato ini kini ramai dikunjungi saban hari. Setelah mencicipi gelato di tempat ini, dan membandingkannya dengan pesaingnya, akhirnya saya tahu kenapa pengunjungnya pasti akan kembali lagi.

Rasa memang selalu jadi faktor utama yang membuat bisnis kuliner bisa bertahan. Gelato yang disajikan di Sunny’s rasanya memang mantap. Duh, apa ya bahasa artistiknya. Rasanya itu berasa banget lah, nggak nanggung. Ternyata, rasa yang didapatkan memang berasal dari bahan asli, bukan perasa palsu seperti harapanmu. Secara umum, pilihan rasa yang ada terbagi dalam dua kategori: rasa manis dan rasa buah. Rasa manis misalnya ada nutella, tiramisu, choco mint, green tea, dark cocoa, cappuccino, coffee, dll. Sedangkan rasa buah ada durian, naga, semangka, mangga, lemon, strawberry, dan kawan-kawannya. Nah, rasa buah-buahan tadi didapat dari buah asli, bukan ekstraknya. Total ada 26 jenis rasa yang bisa dicoba setiap hari. Varian rasa baru biasanya hadir tiap 1-2 bulan sekali.

Selain rasa, tampilannya yang unik dan instagram-able banget memang oke buat selfie-selfie cantik. Awalnya saya agak kaget sih, kok ada varian buah naga. Emang enak ya kalau dibikin es krim? Eh, rupanya warna magenta yang dihasilkan buah naga merah ini memang ciamik banget ketika disajikan dalam cup dan dibentuk menyerupai bunga mawar. Eh, bunga mawar? Iyaaa.. Ada metode khusus yang digunakan untuk menyajikan gelato dalam cup sehingga nampak cantik seperti Mbak Dian Sastro.

Gelato dalam Small Cup yang Disajikan dalam Bentuk Bunga
Gelato dalam Small Cup yang Disajikan dalam Bentuk Bunga | Sumber: Instagram @sunny_gelato
26 Varian Rasa Tersaji Tiap Harinya
26 Varian Rasa Tersaji Tiap Harinya | © Diana Nurwidiastuti

Tempatnya cukup asik buat hangout dan ngobrol-ngobrol. Didesain dengan gaya retro, atmosfer hangat yang diciptakan cukup membuat kita merasa betah untuk berlama-lama. Bangunannya tampak seperti bekas rumah yang disulap menjadi kafe, tapi tetap mempertahankan sisi klasik dan sederhana. Wifi juga tersedia di sini. Jadi bagi kamu para fakir kuota, tempat ini bisa jadi terasa seperti tetesan air surga. Ada ruangan berpenyejuk udara dan area bebas merokok juga, jadi buat emak-emak bawa bayik seperti saya, aman lah. Sayangnya, mereka tidak menyediakan high chair buat bayi. Yha, mungkin nggak banyak bayi yang sering ikut nongkrong seperti anak saya. Haha.

Dari segi harga, produk Sunny’s Gelato cukup terjangkau. Dengan 20 ribu rupiah, kita bisa dapat dua varian rasa gelato dalam cup kecil, ditambah dengan crèpè, yang sama seperti cone-nya, hadir dalam tiga pilihan rasa: original, cokelat, dan kayu manis. Jika ingin mencicipi renyahnya cone, tinggal tambah 5 ribu rupiah. Selain itu, bisa juga pilih menu waffle yang pastinya diberi topping gelato sesuai pilihan kita. Dengan uang 20 ribu kita bisa melupakan beban hidup setidaknya selama sejam, karena memang harusnya gelato dinikmati pelan-pelan. Ingat, ini gelato, bukan bus Sumber Kencono.

Jangan takut tenggorokan terasa gatal atau serak, karena gelato yang disajikan di sini menggunakan gula asli, tanpa pemanis buatan, dan dibuat setiap hari sehingga rasanya segar. After taste yang terasa juga enak, nggak bikin eneg. Favorit saya sejauh ini sih green tea, choco mint, dan nutella. Sedangkan best seller-nya adalah durian untuk rasa buah dan choco cream untuk rasa manis. Galau pilih rasa karena takut nggak suka? Tenang, kita bisa icip-icip dulu pakai sendok kayu, baru memutuskan pilih rasa apa. Jangan nyari “rasa yang dulu pernah ada” atau “rasa-rasanya kangen mantan”, nggak adaaa..

Buka mulai jam 10 pagi hingga jam 10 malam, Sunny’s Gelato paling ramai dikunjungi saat akhir pekan. Rata-rata pengunjungnya adalah mahasiswa dan pekerja serta mereka yang pacaran. Kamu jomblo? Ndak apa-apa, ada gelato yang siap menemanimu menunggu datangnya keajaiban. Tempatnya di mana? Di jalan Dr. Setiabudi No.82, sebelah timur RS Brayat, dekat terminal Tirtonadi tempat menggalaunya Didi Kempot. Oh iya, ada diskon 10% untuk pelajar dan mahasiswa dengan menunjukkan ID card.

Setelah menikmati es krim dengan cita rasa Italia ini, niscaya kita akan lebih kuat menghadapi dunia dan berita-berita hoax yang menerpa.

Diana Nurwidiastuti

Kata suami, kopi terenak di dunia adalah kopi buatan saya.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405