Sudah Pernah Ngopi di Kalisat?

Suasana Kalisat dari atas Gumuk Murni
Suasana Kalisat dari atas Gumuk Murni | © R.Z Hakim

Kalisat tak punya laut. Menjadi wajar jika kemudian imajinasi muda mudi Kalisat dipenuhi oleh pantai. Ketika musim liburan telah tiba, daya khayal itu tentu akan mereka wujudkan. Dulu sebelum 2006, ketika moda transportasi kereta api jalur Kalisat-Panarukan masih beroperasi, Pantai Pasir Putih Situbondo adalah tujuan paling disukai. Seperti itulah Kalisat, tak punya pantai tapi mencintainya. Ia seperti sepenggal lirik lagu Imanez, anak pantai.

Aku belum mandi dan gosok gigi, aku sudah di air
Dengan segelas kopi kupandang lautan lepas..

Di sinilah kini saya tinggal, di sebuah desa bernama Kalisat, dengan kecamatan yang juga bernama Kalisat, di Jember wilayah Utara. Teman-teman luar kota sering salah mengerti tentang wilayah kami. Dikiranya Kalisat yang dimaksud adalah desa Kalisat di kecamatan Sempol, Bondowoso, dengan produk andalannya berupa kopi, dari Perkebunan Kopi Arabika Kalisat Jampit. Bukan. Jika kalisat yang legendaris itu, ia terletak 74 Km ke arah Timur kabupaten Bondowoso. Udaranya sejuk sebab Kalisat Bondowoso berada di kaki Gunung Ijen.

Untuk memudahkan, biasanya teman-teman dari luar Kalisat senang menyingkat wilayah Jember Utara dengan sebutan Jembut, kosakata dalam bahasa Jawa untuk menamai bulu rambut pada sekitar alat kelamin. Mulanya biasa saja, kosakata itu memiliki nilai netral. Namun ada juga yang menjadikannya bahan untuk bercanda. Misalnya pada November 2015 lalu, ketika Jember menjadi tuan rumah untuk acara bersejarah, Jambore Buruh Migran. Didatangkanlah artis-artis Ibukota, di antaranya artis standup bernama Adjis Doaibu.

“Jember ini fenomenal ya, sebab kalian punya Jember Utara. Eits, tapi jangan disingkat lho!” Ujarnya di atas panggung. Orang-orang tertawa, termasuk Sandy Andarusman dan Melanie Subono selaku pembawa acara.

Mereka terlihat bahagia menjuluki kami Jembut!

Baiklah, kita lanjutkan. Kalisat penghasil beras dan tembakau kualitas baik, bukan kopi. Di sini terdapat tujuh pabrik giling beras, enam gudang tembakau, dua belas lantai jemur padi, dan berbagai merek beras. Sarana luas areal persawahan ada tiga ribu dua belas (3012) hektar.

Jika musim panen tembakau telah tiba, dan harga jual tak jatuh seperti tahun lalu, para petani Kalisat tentu bergembira. Sebagian besar masyarakat petani tembakau akan membeli barang-barang yang mulanya hanya impian. Terkesan royal, memang. Lebih tak perhitungan lagi jika sudah berkaitan dengan agama yang mereka anut. Mereka tidak main-main. Ketika uang telah di tangan, naik haji adalah tujuan.

Namun tak perlu menanti musim panen padi maupun tembakau jika hanya ingin menikmati kopi di Kalisat. Hampir di semua dapur rumah warga kalisat, mereka menyediakan bubuk kopi, serta kopi saset rentengan. Pertanyaan tuan rumah pun mudah, tak berbelit-belit. Mau kopi hitam atau kopi susu? Pahit, manis, atau biasa saja? Bubuk apa saset?

Kami memang bukan penghasil kopi kelas perkebunan semacam PTP. Tapi jika kebun kopi kelas rakyat, tentu ada.

Ketika musim tembakau tiba di Kalisat
Ketika musim tembakau tiba di Kalisat | © R.Z Hakim
Tanaman kopi yang ada di halaman rumah warga. Biasanya untuk dikonsumsi sendiri dan dibagikan kepada sanak dan kerabat
Tanaman kopi yang ada di halaman rumah warga. Biasanya untuk dikonsumsi sendiri dan dibagikan kepada sanak dan kerabat | © R.Z Hakim

Kalisat dikelilingi oleh desa-desa lain di luar kecamatan yang menghasilkan produk alam berupa biji-biji kopi. Kadang kami bahkan tidak perlu membelinya, sebab kadang ada saudara jauh yang mengantarkan kopi dalam bentuk selepan. Barangkali mereka tidak melupakan kebaikan saudaranya di Kalisat yang ketika musim panen padi tiba, mereka juga kecipratan gabahnya.

Mungkin Anda telah membaca catatan Fawaz tentang sebuah dusun di Jember bernama Sumber Candik yang masyarakat petaninya mampu menghasilkan biji kopi kualitas baik berjenis robusta, arabica, dan excelsa, namun mereka sendiri tak mengenal nama-nama itu. Dusun Sumber Candik ada di ketinggian –di atas 700 MDPL, masuk kecamatan Jelbuk, kabupaten Jember. Untuk memandang Sumber Candik dari Kalisat, kami hanya butuh mendaki sebuah gumuk (semacam bukit), lalu mengacungkan jari, “Sumber Candik ada di sana!”

Pernah mendengar kecamatan Silo? Ia adalah sebuah kecamatan di Jember yang dikenal karena keterancaman akan pertambangan emas oleh perusahaan besar. Di sini, di kecamatan Silo, ada terhampar 5000 hektar perkebunan kopi rakyat. Jika kami hendak pergi ke Silo, dari Kalisat, cukup naik motor sambil bernyanyi riang. Tak terlalu lama, kami akan segera sampai di sana.

Puslitkoka Indonesia yang bertempat di Jember sejak 1 Januari 1911 itu, mulanya hanya berjarak 16 Km saja dari Kalisat, sebelum kemudian sebagian besar kegiatannya dipindahkan ke kantor baru yang berlokasi di Desa Nogosari, Kecamatan Rambipuji, Kabupaten Jember.

Barista Tak laku di Kalisat

Pada 21 April 2016 lalu, datanglah ke Kalisat rombongan pencinta kopi dari kota Jember. Ketua rombongan adalah Bapak Mirvano. Oleh Bupati Jember, ia baru saja diangkat sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Direktur PDP Kahyangan Jember. Entah dengan alasan apa, Bapak Mirvano beserta rombongan memilih Kalisat (di sebuah tempat bernama Kedai Doeloe) sebagai wilayah percontohan pertama untuk pengenalan produk biji kopi dari PDP Kahyangan. Dua ahli kopi yang dibawa serta oleh Pak Mirvano, satu di antaranya adalah teman baik saya. Tutus namanya. Ia pandai sekali menerangkan hal-hal baru untuk dua penggerak kedai, Mat Hoirul dan Bajil. Pada intinya, selain menawarkan produk biji kopi PDP Kahyangan, mereka juga menawarkan cara lain kepada Mat Hoirul dan Bajil tentang bagaimana sebaiknya meracik, memperlalukan, dan menyuguhkan kopi.

Suasana Kedai Doeloe Kalisat pada malam hari, ketika ada perform musik
Suasana Kedai Doeloe Kalisat pada malam hari, ketika ada perform musik | © R.Z Hakim

“Ini hal baru buat kami,” kata Bajil kepada Tutus.

Meskipun mendapat tanggapan yang biasa saja dari teman-teman Kedai Doeloe Kalisat, namun Tutus tak patah arang. Dengan sabar dia menjelaskan hal-hal lain seputar kopi.

“Jika tertarik, dua bulan lagi PDP Kahyangan berencana hendak bikin sekolah barista. Gratis! Nanti pulangnya sampeyan-sampeyan ini bakal diberi aneka peralatan untuk bikin kopi. Itu juga gratis.” Tutus mengatakan itu dengan bersemangat. Kelak, Mat Hoirul dan Bajil tetap menikmati hari-harinya di Kedai Doeloe, melayani pelanggan dengan tulus, dan dengan pertanyaan sederhana layaknya warga Kalisat yang lain. “Mau kopi hitam atau kopi susu? Pahit, manis, atau biasa saja? Bubuk apa saset?” Rupanya mereka tak berminat dengan tawaran sekolah barista gratis.

Barista tak laku di Kalisat. Mungkin kelak ia akan ada, namun kini sepertinya bukan waktu yang tepat untuk memaksakan mode di Kalisat. Kabar merdunya, kopi kahyangan diterima dengan baik di sini.

Cerita yang Lain.

Di pemula bulan Februari 2016, bertambah satu lagi tempat nongkrong bagi muda-mudi Jember. Grand Cafe namanya. Lokasinya tepat berada di seberang SMP Negeri 3 Jember, di lingkungan kampus Bumi Tegal Boto. Kami ke sana, berangkat dari Kalisat rame-rame. Sesampainya di Grand Cafe, seorang teman bernama Hidayat Kanurahman terheran-heran. Pasalnya, ia memesan kopi susu tapi oleh pelayan Grand Cafe ditawari yang lain.

“Maaf kami tak menyediakan kopi susu. Mungkin yang lain? Bagaimana jika kami buatkan Kopi Vietnam Drip saja?” kata pelayan dengan ramah. Bukannya mengiyakan, teman saya ini malah balik bertanya.

“Cafe sebesar ini tidak menyediakan menu kopi susu. Bagaimana bisa?” Kami tentu tertawa mendengarnya. Tak peduli kalimat sakti, ‘Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya,’ namun apa yang dikatakan Hidayat Kanurahman ada benarnya juga. Ia hanya ingin menikmati suasana dengan menyeruput kopi susu. Itu saja. Mengapa menjadi sulit?

Sudah Pernah Ngopi di Kalisat?

Datanglah ke Kalisat, kapan saja. Tak perlu menanti musim panen padi maupun tembakau. Singgahlah ke rumah salah satu warga secara acak, lalu berkenalan. Jika beruntung, Anda akan mendengar kalimat, “Mau kopi hitam atau kopi susu? Pahit, manis, atau biasa saja? Bubuk apa saset?”

Tunggu dulu, jangan buru-buru mengumpat ‘Jembut!’ meski dalam hati. Cobalah untuk bertanya, misal, “Kalau kopi deplok, itu biji kopinya darimana ya Pak? Buk? Campurannya apa?” Mungkin selanjutnya saya hanya akan menebak-nebak, Anda akan manggut-manggut lalu bergumam, ‘Hebat juga mereka. Meski tak tahu jenis biji kopi apakah itu, namun mereka mengerti dicampur dengan apa sebaiknya. Mana pula biji kopi yang sebaiknya tak dicampur apa-apa.’ Itu semua karena mereka telah terbiasa. Empiris, kalau kata anak kuliahan.

Mungkin warung kopi di Jember Utara tak sebanyak dan seberderet-deret di Jember Selatan. Namun minum kopi di Kalisat menjadi sesuatu yang mudah, lumrah, murah. Kami tak biasa menyajikan kopi dengan cangkir unik seperti cara minum kopi Ponorogoan di wilayah Jember Selatan seperti Ambulu, Wuluhan, Balung. Justru oleh sebab itulah kami menjuluki Jember, tempat orangtua kami memendam ari-ari, sebagai kota kecil berhati luas. Masing-masing daerah saling melengkapi.

Kalisat tak punya pantai. Tapi ia punya situs ekologi bernama gumuk, serupa bukit yang menjadi pemecah angin alami bagi masyarakatnya. Dari begitu banyak jumlah gumuk di Jember, sepertiganya ada di sini. Tentu kami butuh pemecah angin alami, sebab meskipun tak dilalui jalur darat antar kota selain kereta api, namun lokasinya berada di antara Raung dan Pegunungan Hyang, Argopuro. Itu juga yang menjadi alasan mengapa air di tempat kami terasa segar. Jika kita hendak menyeduh kopi, tentu butuh air, bukan? Apalah arti biji-biji kopi itu tanpa air yang bersih.

Kisah Yang tertinggal di Puncak Gumuk

Orang Kalisat berbahasa Ibu bahasa Madura menyebut gumuk dengan gumok, atau gunong. Sedangkan gumuk kecil mereka sebut pothok. Di sini tanahnya naik turun. Jika mengikuti ketinggian stasiun Kalisat, ia ada di ketinggian 265 MDPL. Sebelum era 1950an, menurut kisah tutur tinular, kita masih mudah menjumpai sendang di setiap kaki gumuk. Capung ada dimana-mana, beraneka warna. Dari kisah tutur tinular itu pula orang-orang Kalisat percaya jika moyang mereka adalah pejalan dari negeri yang jauh. Mereka menyebutnya para bujuk. Ada yang dari tanah Madura, Lasem, dan negeri-negeri jauh lainnya.

“Jadi dulu menurut Kakek saya, di sini pernah terjadi bencana. Entah apa, bisa jadi letusan Raung. Korban berjatuhan. Mereka yang selamat kemudian memilih untuk hidup di wilayah lain. Kalisat menjadi sepi. Kemudian datanglah bujuk-bujuk itu. Mereka membabad tanah ini dan menjadikannya kembali terang. Kelak, orang-orang dari tanah jauh semakin berdatangan ketika di sini dijadikan wilayah perkebunan oleh pengusaha Belanda.” Itu yang saya dengar dari Bapak Husein, warga desa Sumberjeruk, Kalisat.

Para bujuk itu, ketika meninggal dunia, mereka dimakamkan di puncak-puncak gumuk yang bertebaran di Kalisat.

Menikmati kopi di atas puncak gumuk Murni
Menikmati kopi di atas puncak gumuk Murni | © R.Z Hakim

Kepada Husein, sempat saya tanyakan pula apakah dulu Kakeknya pernah bertutur tentang Kalisat lampau, jauh sebelum para pengusaha Eropa datang. Apakah orang-orang Jember Utara dan Timur di masa lalu telah mengenal bertanam kopi? Jika iya, apakah mereka juga menanamnya di kemiringan ekstrim hingga akar tanaman kopi itu membawa tanah yang banyak jika terjadi longsor? Bapak Husein menggeleng. Dia bilang, Kakeknya tak pernah bertutur lebih dari itu. Dia sendiri juga tidak tahu.

“Sebelum zaman Birnie pengusaha perkebunan itu, sebelum rel kereta api membelah desa ini, kami tak tahu apakah dulu moyang kami menanam biji kopi atau tidak, dan apakah mereka minum kopi atau tidak. Yang kami tahu, di atas tanah Jember Utara dan Timur ini hampir segala jenis tumbuhan bisa ditanam , apalagi kopi.”

* * *

Silakan singgah sejenak di sini, di Kalisat. Ada banyak tempat untuk minum kopi sambil memandang gumuk yang menjulang. Masalah laut mungkin bisa kami ganti dengan stasiun kereta api kelas satu yang diresmikan sejak 1897. Di sinilah letak jalur percabangan itu, Kalisat-Banyuwangi dan Kalisat-Panarukan.

Satu persatu bangunan tua berasitektur Eropa memang telah ambruk, akan tetapi masih tersisa beberapa bangunan. Jika suka dunia arsitektur, datang dan lihatlah sisa-sisa bangunan tua yang semakin memucat itu. Di sini di Kalisat, ada sebuah kedai yang salah satu alasan didirikannya adalah untuk merawat bangunan tua aset kereta api. Letaknya tepat di seberang stasiun.

“Dulu di masa Agresi Militer Belanda, tak jauh dari stasiun Kalisat ada seorang pejuang yang disiksa begitu rupa. Para prajurit Belanda yang rata-rata masih muda itu menggantungnya dalam keadaan terbalik, kaki di atas dan kepala di bawah, lalu dijatuhkannya pejuang itu beberapa kali dari ketinggian hingga kepalanya pecah.” Begitu menurut rekan saya dari Rotterdam, menirukan ucapan Joop Hueting.

Ketika itu, antara 1947-1949, Joop Hueting muda ada di Kalisat, di antara prajurit yang menikmati proses penyiksaan hingga ‘sang pejuang’ mati. Namun ia berbeda. Joop Hueting berteriak. Dia bahkan menangis memohon agar rekan-rekannya berhenti melakukannya.

Kelak pada 17 Januari 1969, ketika semua telah baik-baik saja, tiba-tiba Joop Hueting berbicara pada media tentang kekejaman tentara Belanda terhadap penduduk Indonesia. Kalisat menjadi bagian kecil dari penuturannya. Bisa ditebak, tak lama kemudian meledaklah negeri itu. Media Belanda, Jerman, hingga Amerika ingin mewawancarai Hueting. Dampaknya, semua veteran memburu Hueting. Keluarga hingga media yang mewawancarai Hueting menerima ancaman pembunuhan. Generasi Belanda yang lahir di era 1940an ke atas, mereka tentu terkejut.

Tidak inginkah Anda untuk menikmati kopi di tempat yang sebersejarah itu? Tidak inginkah Anda ngopi di sini dan melihat kami lebih dekat? Itu lebih menyenangkan daripada hanya berkomentar Mbat Mbut Mbat Mbut saja. Kami tak punya pantai tapi kami selalu menyediakan waktu sejenak untuk menikmati kopi dengan santai.

Jadi, kapan kamu ngopi di Kalisat, Mbut?

R.Z Hakim

Rakyat biasa. Mencintai istri, kopi, senja dan kenangan.